Home Kajian 20 Kaidah Praktis Zakat Fitrah

20 Kaidah Praktis Zakat Fitrah

946
0
SHARE

Iedul Fitri di ambang pintu. Setiap kita sudah harus bersiap untuk menunaikan Zakat Fitrah. Berikut ini adalah petunjuk praktis berupa kaidah-kaidah Zakat Fitrah, disajikan singkat dan padat.

  1. Zakat Fitrah hukumnya wajib atas setiap individu Muslim yang mampu, tua-muda, pria-wanita, yang mendapatkan matahari terbenam pada malam Iedul Fitri.
  2. Kriteria minimal mampu dalam hal ini adalah orang yang memiliki harta atau makanan yang lebih buat dirinya dan orang-orang yang dalam tanggungannya pada malam dan hari Iedul Fitri.
  3. Anak yang lahir atau orang yang masuk Islam sebelum matahari terbenam pada malam Iedul Fitri terkena kewajiban untuk mengeluarkan Zakat Fitrah.
  4. Dengan demikian, tidak wajib dibayarkan zakat terhadap bayi yang belum lahir atau orang yang meninggal sebelum terbenamnya matahari malam Iedul Fitri.
  5. Setiap Muslim yang wajib zakat mengeluarkan Zakat Fitrah untuk dirinya dan orang-orang Muslim yang dia nafkahi, seperti istri, anak-anak, orang tua yang tinggal serumah dengannya, dll.
  6. Zakat Fitrah dikeluarkan berupa makanan pokok daerah setempat, misalnya beras, sejumlah 2,4 kg (al-Utsaimin) atau 2176 gr (al-Qardhawi) atau 2160 gr (al-Kurdi) atau 2155 (al-Shawi) atau kurang sedikit dari 3 kg (Komisi Tetap Fatwa KSA).
  7. Boleh membayarkan zakat atas nama orang lain, baik karena di bawah tanggungan nafkah atau sebagai hadiah, dengan tetap memberitahukan kepada yang bersangkutan agar melakukan niat sebagai syarat diterimanya amal shalih.
  8. Zakat adalah ibadah yang di samping berdimensi ubudiyah, juga berdimensi sosial. Oleh karena itu, ulama mazhab Imam Abu Hanifah, Syekhul Islam Ibn Taimiyyah serta banyak ulama kontemporer memfatwakan bolehnya mengeluarkan Zakat Fitrah berupa uang yang senilai dengan makanan pokok. Khususnya apabila hal tersebut lebih mewujudkan kemaslahatan bagi penerima Zakat (mustahiq).
  9. Menurut mayoritas ulama, mustahiq Zakat Fitrah adalah delapan golongan penerima Zakat harta (QS. al-Tawbah: 60). Sedangkan menurut ulama dari kalangan mazhab Imam Malik b. Anas, satu riwayat dari Imam Ahmad, serta Ibn Taimiyyah, Zakat Fitrah hanya ditujukan buat fakir dan miskin saja.
  10. Fakir dan miskin ialah orang yang penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi setengah atau seluruh kebutuhan dasarnya bersama orang-orang yang berada dalam tanggungannya.
  11. Mengacu kepada pendapat jumhur, fakir, miskin, dan ibnus sabil tidak boleh menerima Zakat apabila telah hidup berkecukupan. Berbeda dengan mujahid, orang yang terlilit utang, ‘amil zakat, dan mu’allaf yang boleh menerima Zakat walaupun tergolong orang mampu.
  12. Pembayar Zakat dianjurkan untuk memberikan Zakatnya di daerah mana saja dia berhari raya Iedul Fitri.
  13. Menurut Imam al-Syafi’i, pembayar zakat dianjurkan untuk menyerahkan sendiri Zakatnya kepada orang yang menerimanya.
  14. Teknis penyaluran Zakat dapat didelegasikan kepada orang lain atau lembaga yang amanah sebagai wakiil, baik dengan menyerahkan langsung makanan pokok atau berupa dana untuk dibelikan makanan pokokĀ untuk kemudian disampaikan kepada mustahiq.
  15. Orang atau lembaga penyalur Zakat dapat menjadi wakiil bagi fakir atau miskin dalam menerima Zakat dengan membuat kesepakatan dan mendapatkan kepercayaan langsung dari individu fakir atau miskin.
  16. Waktu penyerahterimaan Zakat Fitrah kepada mustahiq dimulai tiga hari sebelum hari Iedul Fitri hingga pelaksanaan shalat Ied.
  17. Distribusi Zakat kepada para mustahiq hendaknya mewujudkan kemaslahatan. Lantaran itu, Zakat Fitrah dapat dialihkan ke daerah lain atau satu orang mustahiq menerima zakat dari beberapa orang atau sebaliknya.
  18. Tidak sah membayar Zakat Fitrah pribadi kepada orang tua ke atas (seperti kakek dan nenek) atau kepada anak ke bawah (misalnya cucu), sebab mereka adalah kelompok manusia yang wajib untuk dinafkahi.
  19. Dianjurkan untuk membayar Zakat kepada fakir atau miskin yang memiliki hubungan famili, seperti saudara, paman, dll. sehingga dapat sekaligus bernilai silaturrahim.
  20. Penerima Zakat dianjurkan untuk mendoakan kebaikan, tanpa seremonial tertentu, buat orang yang menyerahkan Zakatnya.

TaqabbalaLlahu minna wa minkum shalihal a’mal.

Ilham Jaya Abd. Rauf, Lc., M.HI.