Home News Adian Husaini Launching Lima Buku Terbaru

Adian Husaini Launching Lima Buku Terbaru

828
0
SHARE

Da’wah bil kalam (lisan) perlu dipadukan dengan da’wah bil qalam (pena atau tulisan). Demikian dikatakan Kyai Didin Hafidhuddin dalam sambutannya  pada peluncuran lima buku dan muhasabah perjalanan mencari ilmu Intelektual Muslim Adian Husaini di kampus Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor pada Sabtu (26/12).

“Sengaja pasca sarjana memprakarsai acara ini, untuk memberikan apresiasi kepada para da’i yang bukan sekadar da’wah bil kalam tapi juga da’wah bil qalam, karena kalau da’wah bil kalam saja itu cepat habis,” terang mantan Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) ini.

“Tapi kalau da’wah bil qalam (pena) lebih abadi, lebih panjang dari usia penulisnya,” lanjutnya. “Dan pak Adian Husaini di samping berceramah, khutbah-khutbah, seminar-seminar, beliau juga sangat produktif menulis,” tegasnya.

Kelima buku tersebut adalah 50 Tahun Perjalanan Meraih Ilmu dan Bahagia, Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Beradab (diterbitkan oleh Bina Qalam Surabaya dan INSISTS (Institut For the Study of Islamic Thought and Civilizations) Jakarta, Liberalisasi Islam di Indonesia (GIP), Kerukunan Beragama dan Kontroversi Penggunaan Kata Allah dalam Agama Kristen, serta 10 Kuliah Agama Islam (Pro U Media).

Pada acara launching tersebut Adian menjelaskan secara singkat isi bukunya. Pertama buku 50 tahun Perjalanan Meraih Ilmu dan Bahagia. Buku ini seperti berisi perjalanan hidup Adian dalam mencari ilmu dan berjuang melalui jihad ‘ilmi. Buku ini juga memuat pokok-pokok pikiran dan gagasannya terkait isu-isu penting dalam dunia da’wah dan pendidikan, seperti pendidikan sejarah, isu khilafah, dunia pesantren, pendidikan keluarga, dan sebagainya.

Buku ini memiliki beberapa keunikan dan kelebihan dibanding buku Adian lainnya. Di antaranya tentang persentuhan dirinya dengan gerakan Hizbut Tahrir. “Selama ini saya ditanya oleh wartawan tentang keterlibatan saya dengan Hizbut Tahrir, tidak pernah saya ungkap,” ucapnya.  “Kenapa saya masuk Hizbut Tahrir dan kenapa kemudian saya keluar, tidak pernah saya ungkap. Di buku ini baru saya ungkap,” terangnya.

Adapun Liberalisasi Islam di Indonesia merupakan  penggati dari bukunya tahun 2002 yang berjudul Islam Liberal yang tidak dicetak lagi.  Buku Liberalisasi Islam di Indonesia asalnya beberapa makalah tentang liberalisasi Islam.

“Ada beberapa pertimbangan beberapa makalah tentang liberalisasi Islam dan pluralisme serta satu makalah lagi yang saya bacakan di Mahkamah Konstitusi waktu saya diminta menjadi saksi ahli gugatan terhadap Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama,” ungkap Adian. “Waktu itu kita mempertahankan Undang-undang tentang  penodaan agama,” kenangnya.

Adapun buku Kerukunan Beragama dan Kontroversi Penggunaan Kata Allah dalam Agama Kristen awalnya juga merupakan kumpulan makalah dan artikel di beberapa media. “Dan satu makalah penting yang saya sampaikan waktu diundang Dewan Pertimbangan Presiden zaman pak SBY dulu,” ungkapnya.

Ketika itu salah satu inisiator Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini diundang untuk menyampaikan konsep kerukunan bergama menurut Islam. “Sebagai Muslim saya mengusulkan bahwa kerukunan beragama harus berdasaran tauhid, bukan berbasis pada pluralisme maupun civil pluralism yang  menyamakan semua agama di Indonesia,” jelasnya.

Sedangkan buku Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Beradab merupakan naskah pengembangan dari monograf hasil penelitian selama tiga bulan (Agustus-Oktober 2014) di Center for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization Universiti Teknologi Malaysia (CASIS-UTM). Pada paragraf  akhir bagian pengantar yang ditulisanya di Khartoum Sudan, Adian menulis, “Buku ini merupakan usaha kecil untuk melanjutkan upaya Islamisasi nusantara yang tak henti-hentinya dilakukan oleh para ulama dan cendekiawan Muslim selama ratusan tahun.”

Sementara buku 10 Kuliah Agama Islam didedikasinnya sebagai sumbangan terhadap pendidikan Islam di level perguruan tinggi. “Saya harapkan buku ini menjadi salah satu sumbangan untuk pendidikan agama di tingkat S-1,” harapnya. Di bagian pengantar Adian Husaini menulis bahwa buku tersebut merupakan pengembangkan dari buku Prof. HM. Rasjidi 4 Mata Kuliah Agama di Perguruan Tinggi.  (sym)