Home Perspektif Agar Kita Lebih Tahu Diri

Agar Kita Lebih Tahu Diri

543
0
SHARE

Dalam suatu diskusi dengan teman-teman, mencuat perbincangan hangat mengenai pengaruh buruk tayangan berita kriminal di televisi. Menurut mereka, tayangan itu tidak penting. Lebih banyak mudharatnya dari pada maslahatnya.

Sebagai contoh, berita yang menceritakan kronologi pembunuhan, bukannya menjauhkan seseorang dari perbuatan keji itu, melainkan mengajari tips dan trik yang lebih canggih dalam membunuh. Begitu pun berita tentang tertangkapnya seorang pencuri. Penayangan kasus-kasus pencurian hanya akan mengajari masyarakat cara mencuri yang lebih hebat dari sebelumnya.

Ironisnya, sekalipun sangat kurang – atau bahkan tidak ada – manfaat berita-berita kriminal ini, televisi kita masih saja gemar menayangkannya. Waktu penayangannya pun pada pagi hari. Waktu yang sebenarnya sangat efektif mendapat pengajaran yang lebih bermutu.

Menyesali dunia pertelevisian tanah air yang dianggap kurang mendidik tentu bukan solusi dari persoalan ini. Mengomentari hanyalah awal dari sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.

Sebagai alternatif solusi, kami mengajak para penulis tanah air untuk berlomba-lomba menulis berita yang bermanfaat di sekitar lingkungan kita. Kita dapat menulis perjuangan seorang janda menghidupi anaknya. Tentang seorang ibu yang rela berjalan puluhan kilometer hanya untuk mendapat beberapa liter air bersih. Atau perjuangan seorang ayah yang bekerja sebagai buruh bangunan yang hanya digaji seadanya padahal ia tinggal di Ibu Kota. Dan masih banyak lagi.

Kisah-kisah berprestasi juga sesungguhnya sangat pantas dimuat. Di negeri kita, selalu saja ada hal-hal menakjubkan di dunia pendidikan. Hanya saja sangat jarang ada media yang mau mengeksposenya.

Tengoklah bagaimana sebagian anak-anak kita harus menyeberangi jembatan rapuh setiap pulang dan pergi sekolah. Ditambah lagi dengan jarak sekolahnya yang mencapai puluhan kilometer. Atau seorang guru yang ditempatkan di perantauan demi memenuhi tugas negara sebagai guru di daerah terpencil.

Berita lain yang tak boleh ketinggalan adalah berita tentang impor hasil pertanian kita yang cenderung semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai negara agraris, tentu sangat aneh jika kita harus mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand. Gamar pun kita impor. Mangga, jeruk, dan apel kita impor dari Cina. Bahkan garam sebagai bahan penting dalam masakan pun kita impor.

Dalam bidang industri, kita masih sangat bergantung pada industri-industri dari Jepang. Terutama industri kendaraan roda empat dan roda dua. Bidang telekomunikasi pun demikian. Kita sangat bergantung pada merek-merek seperti Blackberry, Nokia, Samsung, Sony, Apple, dan merek lain yang notabene bukan produk dalam negeri.

Berita-berita seperti ini jika memenuhi layar kaca kita setiap hari, insya Allah dapat mendidik bangsa ini menjadi lebih tahu diri. Tahu diri bahwa sebenarnya kita masih sangat miskin. Tahu diri bahwa sebenarnya kita masih menjadi penonton di negeri kita sendiri. Tahu diri bahwa kita harus lebih banyak berinovasi. Tahu diri bahwa kita tak boleh terlalu konsumtif. Tahu diri bahwa negeri kita tidak sedang baik-baik saja.

Wallahu a’lam bisshawab.

Wahyudi Husain, Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin