Home News Bayan dan Taushiyah Muktamar I Ikatan Ulama dan Duat Asia Tenggara

Bayan dan Taushiyah Muktamar I Ikatan Ulama dan Duat Asia Tenggara

639
0
SHARE

Di Kota Depok Jawa Barat, Indonesia 29-30 lalu telah berlangsung deklarasi pembentukan dan Muktamar I Ikatan Ulama dan Duat Asia Tenggara. Muktamar tersebut antara lain menghasilkan bayan dan taushiyah sebagaimana berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم

BAYAN DAN TAUSHIYAH MUKTAMAR I

IKATAN ULAMA DAN DUAT ASIA TENGGARA

Dengan nikmat dan karunia Allah Subhanahu wata’ala, deklarasi pembentukan dan muktamar pertama Ikatan Ulama dan Duat (Rabithah Ulama wa Du’at Janub Syarqi Asia) telah terlaksana dengan baik dan berlangsung dengan lancar pada hari Sabtu, 07-08 Safar 1436 H bertepatan dengan tanggal 29-30 Nopember 2014 M di Kota Depok, Jawa Barat, Indonesia.

Setelah melakukan serangkaian pembahasan pada sidangnya yang pertama, Ikatan Ulama dan Duat (Rabithah Ulama wa Du’at Janub Syarqi Asia) menyampaikan Bayan dan Taushiyah sebagai berikut:

  1. Bahwa kaum Muslim di Asia Tenggara mempunyai posisi yang strategis dan potensial di antara negara-negara muslim di dunia untuk membangun dan mengembangkan peradaban masa depan yang gemilang yang berpijak kepada prinsip-prinsip dasar ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
  2. Bahwa para ulama Islam Asia Tenggara mempunyai peran yang besar dan penting dalam mengawal, mengamalkan, dan mendakwahkan ajaran Islam yang moderat (wasathiyah), toleran, dan bersahabat sehingga terwujud bangunan masyarakat ASEAN yang relatif aman dan damai di tengah keragaman suku, budaya, bahasa dan agama yang mereka anut.
  3. Bahwa di tengah upaya para ulama dan kaum Muslim ASEAN meningkatkan peran serta tanggung jawab mereka dalam membangun pemahaman, pengamalan dan dakwah Islam yang moderat berdasar manhaj generasi awal Islam yang saleh, selalu ada gerakan dan dakwah pemikiran yang destruktif, seperti liberalisme, sekulerisme, dan pluralisme agama, maupun gerakan sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj yang lurus, sehingga menimbulkan ketegangan dan konflik bahkan perpecahan internal umat maupun perpecahan ekternal dengan umat lain.
  4. Bahwa di negara-negara ASEAN masih terdapat kaum Muslim yang belum memperoleh hak-hak mereka secara penuh dan adil dari pemerintah mereka dalam hal kebebasan menjalankan ajaran agama mereka, hak-hak politik, pendidikan, dan ekonomi. Seperti yang terjadi pada kaum Muslim di Myanmar, Thailand, dan Philippines.
  5. Bahwa Muslim ASEAN punya kewajiban dan tanggung jawab dalam memberi kontribusi terhadap perkembangan dunia Islam dalam membangun peradaban yang moderat, damai, aman dan tenteram serta mendukung segala upaya yang dilakukan oleh lembaga-lembaga dunia, seperti PBB dan OKI, dalam upaya mencari solusi terhadap krisis dunia Islam yang sangat mengkhawatirkan, terutama yang terjadi di Palestina, Suriah, dan Iraq.
  6. Mendukung segala upaya para pemimpin ASEAN dalam penegakan hak-hak asasi manusia di segala bidang, termasuk menyelesaikan krisis kemanusiaan yang menimpa kaum Muslim Rohingya di Myanmar serta memulihkan seluruh hak-hak mereka di bidang kebebasan agama, politik, ekonomi, dan pendidikan secara adil dan berkemanusiaan.
  7. Menyerukan kepada para ulama, khususnya yang bergabung dalam Ikatan Ulama dan Duat Asia Tenggara, agar senantiasa berpegang teguh kepada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagaimana telah ditempuh oleh generasi pendahulu yang saleh dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta para pengikut mereka yang setia dari generasi ke generasi, serta memprioritaskan perjuangan mereka pada pembinaan akhlak dan moralitas umat melalui kebangkitan ilmu dan amal saleh.
  8. Menyerukan kepada seluruh ulama, khususnya yang berada di Asia Tenggara, untuk berpartisipasi aktif mendukung program-program ASEAN dalam mewujudkan masyarakat ASEAN yang berperadaban mulia, maju di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta makmur dan sejahtera di bidang ekonomi.
  9. Menyerukan kepada Pemerintah Republik Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN dan sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia agar memerankan posisinya yang penting dan strategis dalam membangun perdamaian di tingkat regional, kawasan, maupun dunia dan memberi warna peradaban dunia yang berpijak kepada nilia-nilai ajaran Islam yang agung dan kearifan lokal yang dapat diterima.

Depok, 07-08 Safar 1436/29-30 Nopember 2014

Ketua

 

Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., MA.