Home Kajian Bekam Berbasis Riset (1): Mata Minus

Bekam Berbasis Riset (1): Mata Minus

1288
0
SHARE

Terapi bekam merupakan salah satu terapi yang telah dikenal sejak zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau sendiri pernah memanfaatkan terapi ini,1 bahkan juga menganjurkan penggunaannya. Kata Nabi, “Sungguh pengobatan (terapi) yang paling baik untuk kalian praktikkan adalah bekam.”2 Juga sabdanya yang lain, “… bahwasanya tidaklah beliau melewati sejumlah malaikat (pada saat isra’ dan mi’raj) kecuali mereka semua memerintahkan beliau agar menyuruh umatnya untuk berbekam.”3 Sabda Nabi, “Jika terdapat kebaikan (kesembuhan) dalam pengobatan yang kalian praktikkan, maka hal itu terdapat pada bekam.”4

Hadits-hadits di atas secara jelas menunjukkan keistimewaan terapi bekam. Hal itu tentu karena karunia dari Allah kemudian manfaatnya yang besar bagi kesehatan manusia. Sejumlah ulama telah memberikan ulasan mengenai hukum dan kedudukan terapi ini dalam syariat Islam, beserta manfaat, indikasi dan kekhususan lainnya.5

Meski terapi bekam sempat tenggelam dan hampir dilupakan oleh sebagian besar kalangan –dan hanya dapat ditemukan pemanfaatannya di kalangan masyarakat tradisional yang sangat terbatas— namun dalam dekade terakhir terapi ini kembali populer di masyarakat internasional, khususnya kalangan Muslim. Hal ini seiring dengan pergeseran pandangan masyarakat terhadap kesehatan dan pengobatan yang didukung oleh perkembangan IPTEK. Kecenderungan menarik ini juga didorong oleh perubahan pola hidup (life style) masyarakat modern yang berdampak kepada perubahan pola penyakit, yang belum sepenuhnya dapat ditangani secara memuaskan oleh IPTEK kedokteran konvensional saat ini.

Timbulnya gairah untuk kembali menggunakan terapi bekam secara luas telah menarik minat kalangan cendekiawan dan akademisi untuk melakukan penelitian mendalam terhadap manfaat terapi ini bagi kesehatan. Sayangnya, ulasan dan hasil penelitian mengenai terapi bekam memang masih sangat terbatas sekaligus kurang tersebar luas. Padahal, manfaat luar biasa, setidaknya menurut penulis, dari terapi yang telah mendapatkan rekomendasi Nabi ini seharusnya bisa dinikmati secara luas oleh masyarakat terutama bagi mereka yang membutuhkan. Di samping mudah dilaksanakan, juga efek sampingnya relatif sedikit; jika dilakukan secara benar oleh praktisi berpengalaman.

Salah satu penelitian terhadap manfaat terapi bekam telah dilakukan oleh Khoirun Nikmah, Wahyudi Widada, dan Cahya Tribagus Hidayat, dengan judul Pengaruh Terapi Bekam Terhadap Daya Akomodasi Mata pada Mahasiswa yang Menderita Rabun Jauh di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember.

Rabun jauh (miopia) adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang berlebihan sehingga sinar sejajar yang datang dibiaskan di depan retina (bintik kuning).6 Hal ini dapat disebabkan oleh adanya ganguan pada daya akomodasi mata, yaitu menurunnya kemampuan lensa mata untuk menebal dan menipis sesuai dengan jarak benda yang dilihat. Karena faktor tertentu, kekuatan otot-otot siliar melemah untuk membantu memfokuskan benda pada lensa, sehingga cahaya yang masuk tidak dapat difokuskan dengan baik.7

Orang dengan rabun jauh akan mengeluhkan pandangan yang kabur untuk objek yang berjarak jauh. Gangguan ini secara medis dikoreksi dengan pemberian kaca mata berlensa cekung (minus), sehingga sering disebut ‘mata minus’. Pemberian lensa cekung berfungsi untuk membantu agar sinar yang datang bisa jatuh tepat di retina.

Meski baru sebatas hipotesis, peningkatan angka kejadian mata minus dihubungkan dengan pola hidup masyarakat modern saat ini: tingginya intensitas penggunaan penglihatan jarak dekat (computer, TV, hand phone, play station, dinding rumah/kantor [in door] dan bangunan [out door] di perkotaan, dll). Terdapat laporan terbatas yang menyebutkan angka kejadian hingga 70-90% di beberapa negara Asia, 30-40% di Eropa dan AS, serta 10-20% di Afrika.8

Terapi bekam berfungsi untuk memicu peningkatan asupan oksigen (oksigenasi) pada pembuluh darah mikro (mikrovaskuler). Peningkatan aliran darah mikro (mikrosirkulasi) menyebabkan perbaikan pada kekuatan kontraksi otot-otot siliar yang awalnya melemah. Kontraksi otot siliar yang lebih baik akan membantu perbaikan akomodasi visual pada lensa, sehingga cahaya yang diterima oleh lensa akan difokuskan dengan lebih baik di retina.9

Tabel berikut memperlihatkan selisih daya lihat sebelum dan sesudah pemberian terapi bekam pada objek penelitian, disertai dengan nilai tingkat kebermaknaan yang diperoleh.10

Tabel Hasil Pengukuran VOD dan VOS Menggunakan Snellen Chart yang Dikonversikan Menjadi Satuan LogMAR Pada Mahasiswa yang Menderita Rabun Jauh Sebelum dan Sesudah dilakukan Terapi Bekam di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember 2014

 

Variabel Rerata Standard Deviasi Nilai p Paired Correlation
Pre VOD – Post VOD 0,12941 0,08359 .000 .968
Pre VOS – Post VOS 0,14118 0,10185 .000 .935

 

Penelitian terhadap manfaat terapi bekam terhadap rabun jauh di atas menghasilkan kesimpulan “Ada pengaruh terapi bekam terhadap kemampuan daya akomodasi mata pada mahasiswa yang menderita rabun jauh di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember. Terapi bekam dapat dijadikan sebagai salah satu terapi komplementer pada penderita rabun jauh yang memakai kacamata.”11

Tentu saja penelitian di atas memiliki keterbatasan dan kekurangan. Dibutuhkan penelitian lanjutan dengan kapasitas yang lebih besar, mendalam, dan dilakukan di pelbagai pusat studi yang ada. Dan masih terdapat banyak manfaat dan rahasia ilmiah yang perlu diungkap dari salah satu teknik pengobatan praktik nabawi yang disebutkan secara istimewa dalam hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam ini.

Footnote:

  1. Misalnya karena nyeri kepala saat berihram, lihat: Shahih Ibn Khuzaimah; atau saat kaki beliau shallallahu alaihi wasallam terkilir, lihat: Sunan Abu Dawud dan Sahih Sunan Ibn Majah.
  2. Riwayat dari Anas ibn Malik, HR. Bukhari-Muslim.
  3. Riwayat dari Abdullah ibn Mas’ud, HR. Tirmidzi: hasan-gharib.
  4. Riwayat dari Abu Hurairah, lihat Sahih al-Jami’, no. 3323.
  5. Lihat: antara lain Ibn Hajar, Fath al-Bari; Ibn al-Qayyim, al-Tibb al-Nabawi; Nawawi, Syarah Shahih Muslim; Qurthubi, al-Mufhim li Talkhish Shahih Muslim.
  6. Sidarta Ilyas, Dasar-Teknik Pemeriksan dalam Ilmu Penyakit Mata, Edisi Kedua (Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2003).
  7. Arthur C. Guyton, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Edisi Ketiga (Jakarta: EGC, 2002).
  8. www.wikipedia.org/wiki/myopia diakses 22/10/2014.
  9. Khoirun Nikmah, Wahyudi Widada, dan Cahya Tribagus Hidayat, Pengaruh Terapi Bekam Terhadap Daya Akomodasi Mata pada Mahasiswa yang Menderita Rabun Jauh di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember (FIK Univ. Muhammadiyah Jember, 2014).
  10. Nilai paired correlation VOD adalah 96,8%, dan nilai paired correlation VOS adalah 93,5%, yang berarti terapi bekam sangat kuat pengaruhnya terhadap daya akomodasi mata pada mahasiswa yang menderita rabun jauh […].
  11. Khoirun Nikmah, Wahyudi Widada, dan Cahya Tribagus Hidayat, Pengaruh Terapi Bekam.

 

dr. Ihsan Jaya, HalimaClinic Makassar.