Home Perspektif “Bola Masuk” ISIS

“Bola Masuk” ISIS

886
0
SHARE

Bukannya melorot, popularitas The Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) semakin meroket di media. Bukan hanya di media lokal tapi juga di tingkat global, lebih dominan lagi di dunia maya. Peran media mainstream yang dikendalikan untuk mendiskreditkan ISIS justru menambah “seksi” negara baru ini di mata banyak generasi muda dunia.

Kita bisa menelusuri sejumlah faktor yang menambah “bola masuk” ISIS dalam ekskalasi krisis politik global.

Seperti sebagian besar gerakan anti media mainstream yang didominasi oleh kekuatan kapitalisme Barat dan pro status quo, internet menjadi pilihan strategis kelompok Islamic State untuk mempropagandakan ideologinya. Media dapat yang menembuskan informasi sensitif melampaui batas-batas geografis politik konvensional ini benar-benar digunakan secara optimal.

Sebuah laporan menyebutkan sedikitnya 46.000 akun twitter memiliki kaitan dengan ISIS. Beberapa laporan kasus yang terungkap lintas negara menunjukkan bahwa orang-orang yang berhasil direkrut gerakan ini mengenal ideologi ISIS pertama kali hanya lewat akun jejaring sosial biasa seperti Twitter dan Facebook. Wajar bila muncul opini bahwa salah satu medium rekruitmen radikalisasi yang paling efektif bagi negara baru ini adalah jejaring sosial online.

Kecanggihan penggunaan media Islamic State ditunjukkan pula lewat cara lain. Film eksekusi terhadap 21 warga Mesir, terlepas dari kontrovesi lokasi gambarnya yang asli, yang dapat diakses bebas di situs Youtube dibuat dengan teknik sinematografi yang kompleks. Wawancara seorang wartawan Libya yang dirilis mbc.net Februari silam memastikan bahwa tayangan tersebut dibuat dengan biaya yang tidak sedikit dan dengan teknik yang sangat profesional.

Penilaian serupa datang dari Mesir. “Pengambilan gambar menggunakan perangkat yang canggih dengan kekuatan pesan yang kuat,” terang Abdul Sami’, seorang direktur perusahaan sinematografi dari Mesir.

“Hal itu tampak jelas dari adegan pengambilan gambar para korban warga Mesir yang diambil dari belakang dan dari adegan ketika mereka digiring di tepi pantai,” imbuhnya yang dimuat almasryalyoum.com.

Dari segi konten propaganda, ISIS berbeda dengan al-Qaidah sebelumnya yang murni gerakan militer. Al-Qaidah cuma punya target serangan keluar, tapi tidak menjanjikan teritori ke dalam yang jelas.

ISIS dalam hal ini berbeda karena menawarkan identitas politik transnasional yang jelas, yakni sebagai warga khilafah bagi pendukungnya. Sebagai bukti dan alat legitimasi, gerakan ini sejak awal proklamasinya mengklaim penguasaan terhadap wilayah tertentu di kawasan Irak dan Suriah. Perbedaan ini membuat tawaran ISIS lebih kongkret dalam mengambil baiat dari pengikutnya. Itu sebab gerakan ini lebih memesona jiwa muda yang frustrasi terhadap kondisi global yang hipokrit.

Dominasi pengaruh Syiah di Irak dan Suriah yang secara politik didukung Barat menjadi sumbu perlawanan bagi negara baru ini. Pemuda-pemuda yang sadar terhadap merambahnya pengaruh Iran di kawasan memandang ISIS sebagai penyalur aspirasi perlawanan.

Faktor lain yang membuka jalan bagi kelompok ini untuk memainkan peran yang lebih besar adalah semakin redupnya dominasi AS sebagai panglima dunia dalam perang melawan terorisme. Setelah satu dekade silam melancarkan strategi pre-emptive war (serangan pencegahan) terhadap terorisme, AS kini terpaksa berubah haluan. Krisis ekonomi dan sosial ditambah sejumlah bencana dalam negeri benar-benar melumpuhkan rasa percaya diri AS di panggung politik global.

Richard N. Haass, Presiden The Council of Foreign Relations (CFR), sebuah lembaga think tank yang berpusat di AS mengungkapkan kegetirannya.

Dalam pengantar laporan tahun 2014 lembaga ini, dia menulis, “Semakin banyak warga Amerika yang percaya bahwa peran AS dalam turut membentuk perwajahan dunia internasional harus secara tajam dikurangi.”

Peran AS yang setengah hati dalam mencampuri politik global sebenarnya sudah tampak sejak rentetan Arab Spring empat tahun silam. Saat itu, AS terang-terangan membiarkan sekutu-sekutu dekatnya di Timur Tengah tumbang satu persatu setelah sebelumnya mereka berjuang sendiri mati-matian untuk bertahan.

Penarikan relatif pasukan AS dari Irak dan Afghanistan menyusul pemberian peran yang lebih besar terhadap dominasi Syiah Shafawiyah yang dikendalikan dari Iran di kawasan menjadi bukti lain sikap menarik diri AS.

Politik yang diambil AS ini bukan tanpa resiko. Berita media yang menyebut sekurangnya 300 veteran ISIS berkewarganegaraan Inggris yang pulang kampung menunjukkan bahwa simpatisan negara baru yang mengklaim khilafah ini tidak didominasi oleh pemuda-pemuda dari Arab atau Timur Tengah. Peristiwa kekerasan yang terjadi sepanjang tahun di Barat justru menegaskan bahwa potensi kekerasan di masa yang akan datang terletak di kota-kota besar di Eropa dan Amerika.

Peta global di atas seharusnya menjadi pertimbangan bagi negara-negara yang selama ini bergantung kepada Barat bahkan rela menjadi perpanjangan tangan kepentingannya.

Ryan Bussa