Home Kajian Boleh Puasa Syawal Sebelum Tuntas Qadha Ramadhan

Boleh Puasa Syawal Sebelum Tuntas Qadha Ramadhan

912
0
SHARE

Waktu puasa wajib berlalu seiring perginya bulan Ramadhan. Namun bukan berarti bahwa ibadah puasa yang mulia tersebut telah pergi sepenuhnya. Setelah Ramadhan, di bulan Syawal terdapat ibadah puasa lain yang memiliki keutamaan khusus: puasa enam hari di bulan Syawal.

Tentang keutamaan puasa ini, Sahabat Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu anhu meriwayatkan sabda Rasululla shallallahu alaihi wasallam:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian dia iringkan dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan dia berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim, no. 1164).

Tentang ganjaran puasa setahun penuh tersebut, terdapat hadits lain yang menjelaskannya. Tsauban, mantan budak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan sabda beliau:

“Barangsiapa yang puasa enam hari setelah berbuka (iedul fitri), maka seperti (puasa) sempurna satu tahun, ‘Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” [Terj. QS. al-An’am/6: 160]. (Hadits dinilai shahih oleh al-Albani. Lihat: Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shahih Sunan Ibn Majah, no. 1402).

Puasa enam hari Syawal boleh dilakukan terpisah atau berturut-turut, karena tidak ada ketentuan yang disebutkan dalam hadits (Lihat: Ibn Qudamah, al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Khiraqi, III/112). Sebuah riwayat hadits yang mengungkapkan keutamaan puasa Syawal berturut-turut menyelisihi riwayat-riwayat yang shahih yang hampir mencapai mutawatir. Inilah salah satu hadits yang dinilai mungkar oleh Syekh al-Albani. (Lihat: Muhammad Nashiruddin al-Albani, Silsilah al-Ahadits al-Dha’ifah wa al-Mawdhu’ah wa Atsaruha al-Sayyi’ fii al-Ummah, no. 5189; Abdullah ibn Abdurrahman al-Bassam, Tawdhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, III/533).

Namun, bagi orang yang pernah meninggalkan beberapa hari puasa Ramadhan karena uzur, bolehkah puasa Syawal dulu kemudian mengqadha puasa Ramadhan? Kasus seperti ini biasa dialami oleh wanita karena haidh atau nifas di bulan Ramadhan.

Syekh Abdullah al-Bassam menukil dua pendapat ulama dalam masalah ini: mubah dan haram. (Ibid, h. 534-535).

Pendapat bahwa mubah (kendati sebagian menilai makruh) hukumnya puasa Syawal sebelum tuntas qadha Ramadhan adalah pendapat ulama-ulama dari tiga mazhab: Abu Hanifah, Malik dan al-Syafi’i.

Pendapat haram hukumnya puasa Syawal sebelum tuntas qadha Ramadhan adalah riwayat yang masyhur dari Imam Ahmad.

Pendapat jumhur ulama ditopang dengan sejumlah dalil penting berikut:

  1. Pengakuan Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu anha bahwa dia biasa menunda qadha Ramadhan hingga bulan Sya’ban (dalam riwayat Muslim: “hal itu karena kedudukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”). (HR. Bukhari, no. 1950; dan Muslim, no. 1146). Pengakuan ini dalam konteks mustahil Aisyah tidak pernah melakukan satu pun puasa nafilah sepanjang tahun gara-gara belum melaksanakan qadha terhadap puasa Ramadhan (Lihat: Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, IV/191). Dengan kata lain, dia tentu tetap melakukan puasa nafilah kendati qadha Ramadhan dia lakukan di bulan Sya’ban sebelum Ramadhan berikutnya.
  2. Qadha Ramadhan termasuk wajib muwassa’ (longgar waktunya) karena bisa dilakukan sepanjang tahun, artinya tidak harus dilakukan segera (QS. al-Baqarah/2: 184). Sehingga, hari-hari sebelum melakukan qadha bisa diisi dengan puasa Syawal. Apalagi, puasa Syawal terbatas waktunya satu bulan saja yang bagi sebagian orang dengan kondisi tertentu masih sangat sempit.
  3. Adapun ungkapan “yang berpuasa Ramadhan kemudian dia iringkan dengan (puasa) enam hari”  dalam hadits riwayat Muslim yang disebutkan di atas, maka termasuk kategori yang, dalam ilmu ushul fiqh, disebut sebagai kharaja makhraj al-ghalib atau ungkapan yang biasa diucapkan namun tidak bermaksud membatasi hanya bagi yang tuntas puasa Ramadhannya. (Bandingkan: al-Lajnah al-Da’imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’, IX/294, no. 18489; Muhammad ibn Utsaimin, al-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’, VI/443-444).
  4. Pendapat ini lebih mudah sehingga sejalan dengan prinsip kemudahan hukum-hukum Islam secara umum dan hukum puasa secara khusus. Dalam ayat tentang puasa Ramadhan: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Terj. QS. al-Baqarah/2: 185). Pendapat ini mudah sebab memberikan waktu yang lebih lowong kepada orang-orang beriman untuk melaksanakan puasa Syawal tanpa harus terdesak oleh waktu qadha Ramadhan yang luput karena uzur.

Adapun dalil paling utama dari pendapat Imam Ahmad adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang mendapatkan Ramadhan sedangkan dia punya kewajiban (utang) Ramadhan yang belum dia laksanakan, maka puasanya tidak akan diterima. Barangsiapa yang puasa nafilah (sunnah) sendangkan dia masih punya kewajiban (utang) Ramadhan yang belum dia laksanakan, maka tidak akan diterima darinya sampai dia melakukan puasa tersebut.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad di al-Musnad (no. 8621). Sayangnya, oleh al-Arna’uth sanadnya dinilai dha’if. Sedangkan al-Albani menilai hadits ini dha’if karena adanya idhthirab (inkonsistensi) dalam sanad maupun matannya. (Lihat: Muhammad Nashiruddin al-Albani, no. 838).

Intinya, boleh melakukan puasa Syawal sebelum tuntas qadha Ramadhan. Kendati demikian, untuk berhati-hati agar tidak luput qadha Ramadhan dan dalam rangka bersegera menunaikan kewajiban di samping lolos dari kontoversi pendapat di kalangan ulama, maka melakukan qadha sebelum puasa nafilah Syawal tentu lebih baik.

Wallahu a’la wa a’lam.

Ilham Jaya