Home Perspektif Bukan Hanya ISIS

Bukan Hanya ISIS

590
0
SHARE

Dalam pembukaan rapat bersama DPR dan DPD (15/8), Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan dengan tegas bahwa dewan mendukung segala upaya pemerintah dalam membendung penyebaran paham ISIS di Indonesia. Tidak cukup sampai di situ, Marzuki bahkan mengusulkan perlunya menindak tegas kelompok atau organisasi yang berpotensi mengancam persatuan dan kesatuan NKRI.

Sebagaimana ramai diberitakan media, paham ISIS yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa antara lain: (1) klaim telah mendirikan islamic state yang berlaku di seluruh dunia Islam; (2) klaim mereka atas wilayah Iraq dan Suriah; (3) klaim bahwa yang tidak berbaiat pada pemimpin mereka (khalifah) murtad dan boleh dibunuh.

Para ulama kita telah memberi penjelasan akan penyimpangan paham ISIS di atas. Ustadz Firanda Andirja, Lc, MA, misalnya. Jebolan Universitas Islam Madinah Saudi Arabia ini dalam penjelasannya pada jamaah masjid Pertamina cabang Makassar pada 7 Agustus lalu mengatakan, tidak cukup syarat bagi pengikut ISIS untuk mendirikan suatu negara khilafah. Sebab, jika pendirian khilafah itu hanya butuh pengikut 1000 orang saja, maka akan sangat banyak khilafah yang telah berdiri.

Ulama muda berdarah Bugis ini juga mengatakan, tidak tepat jika ISIS mengkafirkan dan membunuh orang-orang yang tidak mau berbaiat pada mereka. Sebab, pada zaman kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu anhu sekalipun, orang-orang yang tidak mau berbaiat padanya tidak dikafirkan. Bahkan, Ali ibn Abi Thalib sebagai Khalifah yang sah diangkat oleh seluruh kaum Muslimin hanya mengatakan, “Ikhwaanunaa baghaw ‘alaynaa/Saudara kita memerangi kita.

Pembicara tetap Rodja TV ini juga menegaskan, “Jika seandainya mereka mujahidin sejati, seharusnya mereka berperang sampai titik darah penghabisan melawan rezim Bashar Al Assad atau Israel, bukan malah membunuhi orang-orang yang tidakbersalah dari para mujahidin yang tidak mau mengakui kekhilafahan mereka.”

Bagi Indonesia yang merupakan negara yang sangat majemuk, seyogyanya kita juga harus tetap memperhatikan kelompok-kelompok atau organisasi yang berpotensi mengancam kedaulatan bangsa. Kita harus tetap fokus pada subtansi persoalan, yaitu adanya paham yang memecah-belah bangsa, bukan sekadar pada organisasinya. Jangan sampai ISIS mengalihkan perhatian kita dari organisasi lain yang semisal. Sehingga kelompok-kelompok radikal yang telah lama mencengkeramkan kukunya di negara kita namun tidak diekspose media justru tertawa girang dan dengan mudahnya melakukan pengkaderan. Mengapa? Sebab kita sudah terlalu sibuk dengan ISIS .

Wahyudi Husain, Mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar, Aktivis dan Pemerhati Isu-isu Terkini Bangsa.