Home Perspektif Di Balik “Bola Panas” ISIS

Di Balik “Bola Panas” ISIS

691
0
SHARE

Islamic State of Irak and Sham atau ISIS tiba-tiba menjadi selebrasi media. Seperti biasa, isu ini tampak dikupas dari berbagai sisi, tapi sayangnya miskin perspektif. Sebagian besar media dan aktornya seakan hanya berlomba untuk menggambarkan ISIS sebagai monster yang siap menerkam siapa saja. Namun, karena minim informasi dan sumber yang tidak kompeten, ISIS justru menjadi hantu yang semakin tidak jelas identitasnya.

Sejatinya, penolakan ulama-ulama dunia terhadap ISIS berinti pada ideologi Khawarij yang dikembangkan ISIS. Ideologi yang bertumpu pada mengkafirkan sesama Muslim tanpa alasan yang hak dan menumpahkan darah kaum Muslim. “Mereka membunuh pemeluk Islam, dan meninggalkan penyembah berhala,” sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam dalam menyebut sifat Khawarij. (HR. Bukhari, no. 7432; Muslim, no. 1064).

Dalam kajian yang diterbitkan oleh Islamic Sham Organization, sebuah organisasi revolusi rakyat Suriah, sejak memproklamirkan khilafah secara sepihak, ISIS telah mengkafirkan negara-negara kaum Muslim lainnya sembari mewajibkan hijrah ke kawasan yang mereka kuasai. Tidak lupa, kelompok ini memvonis kafir atau murtad semua kaum Muslim yang menolak ikut pada pahamnya.

Itu secara ideologi. Secara politik, penolakan terhadap ISIS adalah karena latar belakang, aksi, serta atmosfir saat organisasi ini muncul ke permukaan.

Tokoh-tokoh kunci ISIS adalah individu-individu yang tidak dikenal, baik di kalangan mujahidin atau aktivis Islam. Tak heran bila sebagian besar mereka hanya dikenal publik dengan kuniyah atau gelar. Sebaliknya, sumber terbatas mengaitkan tokoh-tokoh tersebut dengan partai Ba’ath, sayap organisasi gerakan Sosialis di Timur Tengah yang justru banyak menjadi tumpangan kelompok Syi’ah.

Irak dan Suriah yang menjadi basis gerakan ISIS adalah dua negara yang memiliki dua kesamaan, setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir. Pertama, keduanya adalah negara di bawah rezim militeristik peliharaan Barat. Nouri Al Maliki adalah pemimpin yang mengawal sekaligus mewarisi Irak pasca pendudukan AS. Sedangkan Bashar Al Assad melanggengkan keberadaan pangkalan militer terbesar Rusia di luar negeri di negaranya. Di samping perannya menjaga Israel dari arah Dataran Tinggi Golan, kawasan yang berbatas langsung dengan Israel. Sebagai perpanjangan tangan kepentingan politik Barat, Irak dan Suriah memainkan peran yang sama: politik represif demi melanggengkan kekuasaan segelintir elit politik yang korup.

Kedua, Irak dan Suriah menerapkan politik sektarian yang memperkuat basis Syi’ah di tengah mayoritas Sunni. Nouri Al Maliki adalah penganut Syi’ah yang pernah melontarkan akan memindahkan kiblat umat Muslim ke Karbala. Sedangkan Bashar Al Assad adalah penganut Syiah-Nushairiyah, termasuk sekte paling ekstrim dalam agama Syi’ah.

Atmosfir politik yang keras semacam itu merupakan lahan subur tumbuhnya gerakan radikal. Apalagi, Al Maliki dan Al Assad sama-sama menggunakan bahasa militer dalam perang melawan terorisme.

Bila demikian, tesis yang memposisikan ISIS sebagai organ bentukan Barat menemukan pembenarannya. Terlebih karena faktanya, ISIS telah menjadi duri dalam perjuangan revolusi rakyat Irak dan mujahidin Suriah.

Kita memang menolak ISIS. Baik karena ideologinya atau karena latar belakangnya yang penuh intrik. Tapi, akar masalahnya bukan di situ. Selama kezaliman global tidak dihentikan, maka akan selalu lahir ISIS-ISIS baru di masa mendatang. Semoga itu tidak terjadi.