Home Perspektif Ekonomi Islam, Sebuah Rekonstruksi Teori

Ekonomi Islam, Sebuah Rekonstruksi Teori

738
0
SHARE

Beberapa waktu yang lalu, MuslimToday.Net berhasil menggelar diskusi dengan tajuk ‘Ekonomi Islam, Sebuah Rekonstruksi Teori’. Dalam diskusi yang menghadirkan pakar Ekonomi Islam Muda Bayu Taufiq Possumah, M.A., Ph.D. ini, antusiasme peserta tampak jelas dari partisipasi serta tanggapan yang berkembang.

Ekonomi Islam sebagai sebuah diskursus ilmu belum menemukan arti sejatinya, setidaknya menurut sebagian kalangan, demikian pengantar yang disampaikan pertama oleh Bayu Taufiq. Hal ini dibuktikan, antara lain, oleh para penggiat ataupun pakar ekonomi Islam sendiri yang belum satu kata dalam penggunaan istilah. Ada yang menggunakan term ‘Ekonomi Islam’, ada pula yang lebih suka memakai ‘Ekonomi Syariah’, selain istilah ‘Iqtishad’. Masing-masing pihak punya landasan epistimologisnya sendiri-sendiri terhadap istilah yang mereka kemukakan.

Dalam penelusuran dan diskusi selanjutnya terungkap bahwa ternyata ada pula yang mengusulkan untuk menggunakan istilah ‘Ekonomi Humanis’.  Istilah terakhir ini terutama untuk menghidarkan diri dari kesan eksklusif alias hanya membawa aspirasi umat Muslim tanpa mencakup kepentingan umat manusia secara keseluruhan.

Selain persoalan istilah yang masih terus menjadi bahan kajian itu, Ekonomi Islam yang berkembang saat ini juga ditengarai belum memiliki body of knowledge atau tubuh ilmiah yang lengkap. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Ekonomi Islam dinilai belum memiliki sistematika keilmuan yang solid. Ekonomi Islam saat ini tidak bisa dipungkiri masih banyak mengambil dasar-dasar dan konsep yang dikenal dalam ilmu ekonomi konvensional.

Padahal, Ekonomi konvensional bisa dikatakan dimulai peletakan dasar-dasar keilmuannya di masa Aristoteles (384-322 SM) dengan ekonomi mikronya. Dasar-dasar tersebut kelak mengalami penyempurnaan body of knowledge di masa Adam Smith (1723-1790). Tak pelak, Ekonomi konvensional sepenuhnya bercorak dan membawa nilai-nilai sekuler Barat.

Nilai-nilai sekuler Barat dalam Ekonomi konvensional antara lain tampak pada asumsi dasar unlimited want with limited resources atau dikenal dengan keinginan tak berbatas versus sumber daya yang terbatas.

Kelompok intelektual Muslim yang kritis, menurut Bayu Taufiq, tidak tinggal diam. Menanggapi tantangan nilai-nilai Barat yang sekuler itu, tokoh-tokoh dan sarjana Muslim pada tahun 1977 dalam konferensi Organization of Islamic Conference/Organisasi Konferensi Islam (OKI) menggagas Islamisasi ilmu pengetahuan in all of it’s aspect.

Dalam diskusi tersebut juga mengemuka tentang wacana Islamic capitalism. Sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sisi profitabilitas Ekonomi Islam yang digunakan semata-mata untuk mengeruk keuntungan bagi penggiatnya tanpa peduli terhadap nilai dasar yang dikandung oleh Ekonomi Islam itu sendiri, yaitu pemerataan kesejahteraan. Istilah ini dikemukakan oleh sebagian kalangan yang dianggap ekstrim. Menurut kalangan ini, Ekonomi Islam yang ada saat ini tidak lain dan tak bukan hanyalah perwajahan lain dari Ekonomi konvensional.

Kendati diskusi MuslimToday.Net ini berlangsung hangat dan terbuka, namun semua peserta tampak sepakat bahwa pada prinsip dasarnya rekonstruksi sistem ekonomi secara total untuk menjadi ekonomi yang berspirit rahmatan lil ‘alamin yang dibawa Islam harus bertitik tolak dari sumber otentik Islam itu sendiri, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

Bila bangun Ekonomi Islam itu sendiri dianggap masih mengundang banyak perdebatan konseptual, tentu dibutuhkan proses yang cukup lama untuk merumuskannya bahkan menjadikannya sebuah body of knowledge yang bisa diterima luas. Nah, titik yang justru krusial dalam proses tersebut adalah bagaimana agar dia terus dijaga dan digulirkan. [/red]