Home Kajian Generasi al-Salaf al-Shalih dan Birr al-Walidayn

Generasi al-Salaf al-Shalih dan Birr al-Walidayn

1117
0
SHARE

Sikap dan perilaku birr al-walidayn atau berbakti kepada orang tua sangat menonjol dalam kehidupan generasi al-salaf al-shalih, mulai dari para sahabat hingga tokoh-tokoh Salaf yang datang setelah mereka. Hal ini nampak dalam ungkapan-ungkapan atau tindak laku mereka secara langsung terhadap orang-orang tua mereka.

Kisah-kisah berikut menggambarkan bagaimana generasi kaum Muslim pertama memperlakukan orang tua.

Sahabat Abu Musa al-Asy’ari menceritakan bahwa sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhum pernah melihat seorang laki-laki dari Yaman yang thawaf di Ka’bah seraya menggendong ibunya di punggungnya. Laki-laki itu menyenandungkan ungkapan syair:

“Sesungguhnya aku baginya adalah kendaraan onta yang patuh. Bila dia menakuti ontanya, maka aku tak akan lemah.”

Tiba-tiba dia berpapasan dengan Ibn ‘Umar. Tak mau membuang kesempatan, dia lantas mengajukan pertanyaan, “Wahai Ibn ‘Umar, apakah menurut pendapatmu aku telah membalas jasanya terhadapku?”

“Tidak,” jawab Ibn ‘Umar, “walau sehela napas pun!” (Al-Bukhari, Al-Adab al-Mufrad, 4).

Lain lagi dengan Muhammad ibn Sirin (w. 110 H), seorang tokoh tabi’in yang utama. Dia demikian hormat kepada ibundanya sehingga dia senantiasa merendahkan suaranya saat bersamanya.

Hafshah bint Sirin, seorang tabi’in wanita yang utama bercerita tentang saudaranya itu, Muhammad ibn Sirin. Kata Hafshah, bila Muhammad berbicara kepada ibu mereka maka dia tidak bersuara sepenuh mulutnya saking hormatnya dia kepada ibunya (Ahmad ibn Hanbal, Al-Zuhd, 320).

Riwayat yang lain menggambarkan suara Ibn Sirin yang demikian merendah di sisi ibunya, sehingga seakan-akan dia sedang menderita sakit.

Dari ‘Abdullah ibn ‘Awn, murid senior Muhammad ibn Sirin, berkata, “Aku mendengar cerita bahwa pernah sekali seseorang datang kepada Muhammad ibn Sirin yang pada saat bersamaan sedang bersama dengan ibunya. Maka orang itu bertanya, ‘Ada apa dengan Muhammad, apakah dia sakit?’ Maka orang-orang yang ada di situ menjawab, ‘Sama sekali tidak, tapi begitulah dia bila bersama dengan ibunya.” (Ibid, 242).

Sikap hormat kepada orang tua ditunjukkan Salaf hingga dalam etika makan. Musa ibn ‘Uqbah, seorang ulama senior dan penulis Sirah Rasul, berkata, “Aku mendengar al-Zuhri (w. 124 H) berkata, ‘Dahulu Abu al-Hasan ‘Ali ibn Husayn Zayn al-‘Abidin yang merupakan pemuka tabi’in banyak melakukan kebaikan kepada ibunya. Hingga seseorang pernah bertanya, ‘Sesungguhnya engkau termasuk manusia yang paling berbakti kepada ibunya, namun kami tidak pernah melihatmu makan dengannya dalam satu hidangan.’ Maka ‘Ali ibn Husayn berkata, ‘Aku takut tanganku lebih dulu ke makanan yang dia lihat sehingga aku telah durhaka kepadanya.” (Ibn al-Jawzi, Al-Birr wa al-Shilah, 1: 86).

Subhanallah! Demikian tinggi penghormatan Salaf kepada orang tua sehingga pandangan mata ibunya pun dia jaga.

Bagi Salaf, berbakti kepada orang tua lebih tinggi nilainya daripada ibadah nafilah yang kedudukannya setelah ibadah wajib.

Berkata Muhammad ibn al-Munkadir (w. 130 H), “Saudaraku ‘Umar menghabiskan malamnya dengan shalat sedangkan aku semalaman memijit kaki ibuku, dan aku tidak rela jika malamku itu ditukar dengan malam saudaraku!”

Fenomena merawat orang tua tampaknya merata di kalangan Salaf.

Dari Zur’ah ibn Ibrahim bahwa seorang laki-laki datang kepada ‘Umar ibn al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Katanya, “Ibuku telah tua dan tidaklah dia memenuhi kebutuhannya kecuali punggungku menjadi kendaraannya. Aku mewudhu’kannya dan mengalihkan wajahku (untuk menghindari melihat kepada auratnya, pen.). Apakah aku telah menunaikan haknya (sebagai orang tuaku)?”

“Belum.”

“Bukankah aku telah menggendongnya di atas punggungku dan aku telah menghabiskan waktuku buatnya?”

Jawab ‘Umar, “Dia dahulu merawatmu dan berharap bahwa engkau tetap hidup, sedangkan engkau merawatnya dan berharap agar dia segera meninggalkanmu (wafat)!” (Ibn al-Jawzi, Birr al-Walidayn, 1:1).

Bahkan ada di kalangan generasi Salaf yang melakukan pengorbanan yang tergolong berat, yaitu menggendong ibunya untuk menunaikan ibadah haji dari Khurasan.

Seorang lelaki datang kepada Ibn ‘Umar dan berkata, “Aku telah menggendong ibuku dari Khurasan hingga dia bisa melaksanakan ibadah haji. Apakah menurutmu aku telah membalas kebaikannya?”

Dia berjalan kaki dari Khurasan di Asia Tengah hingga ke Makkah di Semenanjung Arabia. Khurasan dahulu adalah nama untuk kawasan yang mencakup Iran, Afghanistan, dan Turkistan saat ini.

“Tidak, bahkan tidak juga sebanding dengan satu pun pemberiannya!” balas Ibn ‘Umar (Ibn al-Jawzi, Al-Birr wa al-Shilah, 1: 84).

Salaf telah memberikan teladan mulia tentang bakti anak kepada orang tuanya. Tinggal kita generasi Muslim hari ini, apakah kita mau mengikuti jejak mereka untuk menggapai ridha ilahi. Dan catat, jangan pernah merasa telah membalas kebaikan orang tuamu kepadamu!

Sadiq Tanja