Home Perspektif Geng Motor Makassar, Antara Tembak di Tempat atau Tembak Akar Masalah

Geng Motor Makassar, Antara Tembak di Tempat atau Tembak Akar Masalah

838
0
SHARE

Saat seorang dokter keliru dalam menentukan penyebab penyakit pasiennya, ia hanya akan berputar-putar dalam menangani gejala (terapi simptomatik). Akibatnya, pengobatan yang lambat dan resiko efek baru yang tidak diinginkan. Karena itu, dalam setiap proses pengobatan, diagnosa penyakit yang tepat adalah hal rumit pertama yang harus dilakukan oleh setiap dokter untuk pengobatan terhadap penyebab penyakit (terapi etiologis).

Bila kerangka di atas kita gunakan untuk mendudukkan masalah geng motor, kita bisa bertanya. Apakah penanganan terhadap fenomena geng motor di Makassar telah bersifat etiologis dan menyentuh akar masalah; atau masih berputar-putar pada penanganan gejala (simptomatik)?

Durasi waktu sakit dan makin parahnya penderitaan warga Makassar akibat ulah geng motor bisa dijadikan parameter. Jika sebelumnya hanya terjadi tawuran antar geng, perampasan dan penjarahan toko, maka di tahun 2012 telah jatuh 1 korban jiwa. Selanjutnya di tahun 2013 meningkat jadi 7 korban jiwa; dan hingga bulan September di tahun 2014 ini telah jatuh 2 korban jiwa. Kualitas tingkat kejahatan jelas meningkat. Kehilangan nyawa tentu tak dapat dinilai dengan materi. Apalagi dalam kasus terakhir yang jadi korban adalah mahasiswa. Tak dapat diukur kerugian masyarakat akibat kehilangan generasi muda terpelajar calon pemimpin bangsa.

Jika dilihat dari banyaknya anak muda yang terlibat kelompok geng motor atau dampak sosial yang ditimbulkannya, maka geng motor merupakan fenomena sosial. Ia timbul dari struktur sosial ekonomi masyarakat urban. Karena itu, penanganan individual hanya akan memberikan efek parsial yang bersifat sementara.

Pencarian dan penangkapan pelaku, atau bahkan tembak di tempat adalah tindakan hukum segera yang dapat ditempuh. Namun, jenis penanganan tersebut hanya bersifat individual dan pengendalian terhadap gejala (terapi simptomatik). Penyebab penyakit yang sesungguhnya belum tersentuh. Alih-alih menghabisi geng motor, semata mengobati gejala individual hanya akan membuat fenomena ini terus tumbuh dan menjangkiti generasi muda baru. Penyebab penyakit yang sama, yang makin parah jika tidak ditangani dengan tepat, bahkan bisa menimbulkan jenis geng lain yang lebih destruktif di masa datang.

TEORI “JENDELA PECAH”

Mari belajar dari pengalaman bangsa lain. Di tahun 80-an, angka kriminalitas di kota New York AS pernah sangat buram. Terjadi sekitar 600.000 tindak kekerasan serius dan 2000 pembunuhan setiap tahun. Namun, di awal tahun 90-an situasi tersebut berubah drastis. Kejahatan menurun hingga tinggal sepertiganya.

Penurunan ini dimulai dari penerapan teori “Jendela Pecah” (Broken Window) yang digagas oleh kriminolog James Q. Wilson dan George Killing oleh David Gunn dan kepala kepolisian Bratton. Menurut teori ini, jika sebuah kaca jendela bangunan pecah akibat ulah pelemparan batu dibiarkan berlarut-larut, maka berikutnya jendela-jendela bangunan yang tersisa dan utuh akan juga lempari. Dia akan dilempari dan dipecahkan oleh pelaku yang sama atau pelaku lain. Pembiaran kaca jendela yang pecah menimbulkan pesan psikososial bahwa perbuatan itu mendapat pembiaran.

Lingkungan masyarakat yang tidak peduli terhadap sebuah perilaku pelanggaran memberi pesat tersirat bahwa pelanggaran itu bukanlah perbuatan yang mengancam dan membahayakan. Mendapatkan pesan tersirat itu, pelaku atau orang lain kemudian terdorong untuk melakukan pelanggaran yang sama. Karena itu, duet Gunn dan Bratton di New York bukannya fokus pada pemberantasan tindak kejahatan besar. Mereka malah mulai menangani kejahatan-kejahatan kecil dan pelanggaran-pelanggaran ringan yang lazimnya dianggap tidak serius.

Strategi Gunn dan Bratton ternyata membawa hasil. Sesuai teori “Jendela Pecah,” ketika kejahatan-kejahatan yang dianggap kecil diberantas, para pelaku kejahatan mendapat pesan tersirat bahwa pelanggaran sosial yang meski remah tidak dapat ditoleransi oleh masyarakat. Selanjutnya, mereka menjadi berpikir panjang untuk melakukan kejahatan yang lebih serius.

PENGANAN TERHADAP PELAKU GENG MOTOR

Lantas, bagaimana dengan geng motor? Geng motor biasanya melibatkan anak-anak muda usia remaja. Mereka umumnya remaja putra dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Kelompok remaja ini lazimnya penganggur, pengguna obat-obat terlarang, dan dari lingkungan masyarakat urban. Fenomena ini hampir sama di semua kota dunia. Globalisasi teknologi informasi dan jaringan narkoba membuat fenomena ini mudah tumbuh dan dicontoh oleh generasi muda di manapun.

Untuk kasus kota Makassar, jamak diketahui bahwa sweeping kendaraan biasanya cuma ditujukan untuk pelaksanaan “pengadilan di tempat.” Minimnya kesadaran berkendara tampak dari rendahnya penegakan disiplin menyalakan lampu depan sepeda motor di siang hari. Razia senjata tajam dan obat terlarang di kalangan pelajar dan remaja sudah lama tak terdengar. Pemalak dan pencopet bocah sering bebas berkeliaran di pinggir-pinggir jalan dan pasar tradisional. Meski sekilas kelihatan kecil dan tidak berhubungan, namun sebuah tindak kejahatan serius didahului dengan kejahatan-kejahatan ringan.

Pencarian dan penangkapan pelaku kejahatan geng motor atau bahkan tembak di tempat adalah tindakan hukum yang sudah dan sedang dijalankan. Pertanyaannya, apakah semua jenis penanganan tersebut telah menyentuh variabel yang disebut di atas tadi?

Di sisi lain, kurangnya ruang terbuka kota menimbulkan stress psikologis tersendiri bagi warga kota Makassar. Udara sejuk yang makin mahal akibat kurangya pepohonan juga gampang memicu emosi. Generasi muda yang sedang mencari jati diri dan belajar mengenal personalitasnya sebenarnya butuh ruang-ruang untuk berekspresi dan berkreativitas.

Wahana kreativitas dan aktivitas remaja dan pemuda perlu disediakan dalam jumlah memadai. Pelbagai event dan kompetisi harus cukup banyak untuk menampung hormon berlebih dari masa pertumbuhan remaja kota Makassar. Industri kreatif juga perlu segera dipacu. Diharapkan, ruwetnya permasalahan pengangguran bisa segera tertangani. Karena jika telah terlalu lama tanpa aktivitas, remaja tentu akan berusaha mencari kegiatan di luar rumah. Menganggap pelaku geng motor hanya membutuhkan wahana balap motor, sebenarnya adalah pandangan yang kurang pas.

SULSEL SEBAGAI SERAMBI MEDINAH

Masyarakat Sulsel secara sosial adalah masyarakat religius. Istilah “Serambi Medinah” pernah disematkan oleh Allahuyarham Prof. Mattulada kepada masyarakat Sulawesi Selatan. Warga Makassar khususnya tidak mengenal etika dan moral yang sekular dan terbebas dari nilai-nilai agama. Karena itu, pendidikan agama khususnya Islam patut kembali dievaluasi untuk ditingkatkan pelaksanaannya. Pendidikan karakter yang perpijak pada akhlakul karimah yang berlandaskan keimanan kepada Allah perlu mendapatkan prioritas.

Pendidikan ini berarti penanaman dan pembinaan nilai-nilai disiplin lewat keteladanan, nasehat serta amar makruf nahi mungkar di lingkup masing-masing. Lumpuhnya pilar-pilar kepemimpinan dalam rumah tangga dan lingkungan tentu memberi saham besar terhadap terlantarnya pendidikan karakter generasi muda.

Remaja yang tumbuh dengan orientasi hidup yang terarah beramal saleh, berfigur kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, serta memiliki standar nilai yang jelas tentang halal dan haram insya Allah akan jauh dari perilaku yang merusak. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah (Syaabun nasya’a fi ibadatillah), puji Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Penulis sendiri yakin bahwa pelaku geng motor tidak berasal dari alumni-alumni TKA-TPA di masa kecil mereka.

Bila hal-hal di atas dilaksanakan, kita bisa berharap bahwa kelak warga kota tidak lagi mendengar tindak kejahatan yang dilakukan oleh geng motor; dan kota Makassar patut meningkat menjadi kota dunia yang aman. Wallahu ‘alam

IsaBagus