Home News GNPF: Aksi Damai Bukan Anti NKRI, Kebinekaan, Pancasila, Cina, dan Kristen

GNPF: Aksi Damai Bukan Anti NKRI, Kebinekaan, Pancasila, Cina, dan Kristen

550
1
SHARE

GNPF: Aksi Damai Bukan Anti NKRI, Kebinekaan, Pancasila, Cina, dan Kristen

Muslimtoday.net, MEDAN – Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) Habib Rizieq Syihab bersama Wakil Ketua GNPF MUI KH Zaitun Rasmin, Sekjen GNPF KH M Al Khaththath, dan Bendahara GNPF M Luthfi Hakim hari ini Rabu (28/12) hadir di Medan.

Rangkaian acara dari Konferensi Pers hingga tabligh akbar ini diselenggarakan atas kerjasama GNPF dengan berbagai pihak. Antara lain MUI Sumatera Utara, GAPAI (Gerakan Anti Penistaan Agama Islam) Sumatera Utara, Kapolda dan jajarannya, dan masyarakat Medan secara umum.

Sebelum tabligh akbar dimulai, GNPF mengadakan konferensi pers dengan mengundang awak media lokal dan nasional. Hadir pula dalam acara tersebut Kapolda Sumatera Utara Inspektur Jenderal Polisi Dr. H. Rycko Amelza Dahniel, M.Si.

Diawali sambutan dari Wakil Ketua GNPF yang juga Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ust. Zaitun Rasmin. Ust. Zaitun menjelaskan tujuan safari ini untuk bisa memberi penjelasan tujuan Aksi Bela Islam 212 dan aksi-aksi damai sebelumnya. Aksi 212 ini ditujukan untuk menggalang persatuan sekaligus menuntut keadilan dalam penegakan hukum.

Menurut Ust. Zaitun menjelaskan tujuan kedatangan GNPF ke Medan ini untuk silaturrahim. Sekaligus untuk bertemu dan menyapa masyarakat dengan tabligh akbar.

Wasekjen MUI ini juga menjelaskan bahwa selama ini beredar opini yang menyebut Aksi 212 anti kebinekaan, anti Pancalisa, dan anti NKRI.

Beliau tegaskan bahwa Aksi 212 jelas bukan anti kebinekaan, anti Pancalisa, dan anti NKRI, apalagi anti Cina dan anti Kristen. Aksi 212 juga bukan aksi SARA. Ini murni aksi menuntut penegakan hukum.

Bahkan Imam Besar FPI Habib Rizieq menjelaskan bahwa Kamis besok akan ada pertemuan antara FPI dengan Perkumpulan Tionghoa Lintas Agama di Pondok Pesantren beliau di Mega Mendung, Bogor. Akan diadakan dialog dan berkomitmen untuk bersama-sama menjaga NKRI dan Bineka Tunggal Ika.

Setelah sambutan kemudian GNPF membuka sesi dialog. Pertanyaan-pertanyaan akan dijawab langsung oleh para tokoh GNPF. Ini untuk menjernihkan kembali jika ada kesimpangsiuran atau opini yang tidak jelas tentang GNPF.

Pertanyaan pertama diajukan oleh awak media Sumut Pos dengan menanyakan langkah-langkah apa yang ditempuh GNPF dalam mengawal sidang Ahok.

Habib Rizieq menyatakan bahwa GNPF berkomitmen penuh dalam mengawal sidang Ahok. Hal ini, kata Habib, agar tidak diintervensi oleh pihak manapun. Sehingga kalau terjadi hal-hal atau terjadi intervensi dari pihak manapun itu bisa terdeteksi lebih awal lagi dan bisa diantisipasi.

GNPF juga menyiapkan Tim Advokat dan telah dikoordinasikan untuk menempuh cara-cara yang sesuai jalur hukum. Di antaranya adalah rencana menemui Komisi Yudisial dan Hakim Agung Urusan Pengawasan Pengadilan.

Habib Rizieq juga sempat ditanya soal kasus pribadinya yang belum lama ini dilaporkan ke Polisi. Habib dianggap menistakan ajaran agama Kristen soal Trinitas.

Ketua Dewan Pembina GNPF ini manyatakan bahwa pelaporan ini salah alamat. Pernyataannya terkait Trinitas bukan menistakan ajaran agama Kristen.

“Saya menilainya ini laporan salah alamat, karena kita sedang bicara soal dogma. Artinya begini, Islam itu punya doktrin ajaran agama bahwa Tuhan tidak beranak. Sementara umat kristiani punya doktrin ajaran trinitas. Nah disini biarlah umat Nasrani dengan trinitasnya, biarkan umat Islam dengan Qul Huwallaahu Ahad-nya.” Demikian penjelasan pendiri FPI ini.

Habib Rizieq menjelaskan juga justru Al Qur’an dengan tegas melarang Umat Islam mencela keyakinan agama lain. “Yang tidak boleh”, kata Habib, “kita mencaci-maki agama lain. Itu yang nggak boleh. Makanya dalam Islam ada firman Allah berbunyi ‘Laa tasubbuun alladziina yad’uuna min duunillah’. Jangan sekali-kali engkau mencaci maki umat beragama yang tidak menyembah Allah.”

Pertanyaan berikutnya dari salah satu peserta adalah soal adanya penolakan. Informasi di lapangan meneyebutkan bahwa kedatangan GNPF sempat ditolak dengan spanduk-spanduk liar.
Wakil Ketua GNPF Ust. Zaitun mengatakan, “Kalau ada yang tidak setuju, silahkan. Ini namanya demokrasi.” Beliau menilai adanya penolakan adalah hal yang wajar dalam negara demokrasi. Ketidak setujuan hanya ekspresi perbedaan pendapat dan itu adalah hal yang biasa.

Habib Rizieq kemudian menambahkan bahwa yang menolak itu bisa jadi korban pembusukan media. Sebagaimana diketahui, sebagian pengguna media sosial menuduhkan hal-hal negatif terhadap GNPF. “Justru mereka korban pembusukan media”, kata Habib Riziq.

Selama ini memang banyak tuduhan bahwa GNPF anti kebangsaan dan anti kebinekaan. Menurut Habib Riziq ini hanya berasal dari media-media tertentu yang anti Islam.
Oleh karena itu Ketua Dewan Pembina GNPF ini menyatakan pentingnya dialog berbagi Informasi. Habib Rizieq mencontohkan apa yang terjadi antara dirinya dengan Jaya Suprana.

Karena banyaknya informasi yang salah, Jaya Suprana awalnya membenci Habib Rizieq dan FPI. Namun setelah dialog justru terjadi sebaliknya. Dari benci menjadi kawan baik. “Dialog itu penting, komunikasi perlu dibuka,” kata Habib Riziq menegaskan.

Pertanyaan berikutnya dari awak media nasional Tempo. Menanyakan tentang fenomena Cyber Muslim yang sedang marak di media sosial. Apakah untuk “melawan” buzzzer-buzzer Ahok?

Pertanyaan ini dijawab oleh Habib Riziq. Bahwa Cyber Muslim adalah gerakan sporadis. Aksi yang dilatari murni karena solidairitas netizen atau pengguna internet. Menurutnya ini adalah reaksi wajar. “Diikat dengan solidaritas ukhuwah Islamiya yang luar biasa. Satu juta lebih,” jelas Habib Rizieq.

“Cyber Muslim ini kantornya nggak ada, panglima komandannya juga entah siapa. Tapi yang saya tahu mereka adalah gerakan sporadis yang diikat dengan solidaritas ukhuwwah Islamiyyah di antara mereka, yang mana kekecewaan mereka sudah bertumpuk-tumpuk. Sudah menjadi akumulasi kekecewaan mereka. Yang selama ini Islam sering dinistakan di medsos.” Terang pendiri FPI ini.

Fenomena ini menurutnya juga karena dinilai tidak hadirnya penguasa. Ketika banyak serangan terhadap Islam di media sosial dan pelakunya tidak diusut secara tuntas, maka muncullah Cyber Muslim.

Bantuan GNPF untuk membantu pemberontak?

Pertanyaan berikutnya juga diajukan terkait isu yang akhir-akhir ini sedang menghangat. Ada tuduhan bahwa GNPF menyalurkan bantuan kepada pemberontak di Suriah.

Hal ini ditepis oleh Wakil Ketua GNPF yang juga Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Se-ASEAN, Ust. Zaitun Rasmin. “Kita tidak melihat siapapun, latar belakang apapun, yang jelas korban. Bahkan kalau ada non muslim itu kita bantu. Karena ini semua adalah bantuan korban perang.” Tegas Ust. Zaitun.

Pada dasarnya GNPF hanya bekerja sama dengan ormas-ormas Islam dan berbagai lembaga kemanusiaan. Bukan dana dari GNPF sendiri yang disalurkan. Jadi, GNPF hanya menyatukan dan kemudian menyalurkan kepada para korban di sana.

Terakhir Habib Rizieq menjelaskan Kain Ulos yang sedang dikenakannya. Kain Ulos ini simbol pengakuan dari para tokoh di Sumatera Utara sebagai keluarga Batak.

Habib menjelaskan bahwa pada tahun 2000 pernah berkunjung ke Sibuhuan, ibu kota Padang Lawas, Sumatera Utara. Hadir saat itu Tuan Guru Kiyai Arjun ketua MUI Sumatera Utara, Tuan Guru Muda Nasution dan tokoh-tokoh adat.

Bahkan saat itu sampai dipotongkan kerbau untuk menyambut kedatangannya. Sebagai tanda ikatan kedekatan dengan masyarakat Sumatera Utara, Habib Rizieq diberi gelar marga Lubis dan Nasution untuk Istrinya. Oleh karena itu disana dia sempat dipanggil Habib Lubis.

Safari Nasional 212 yang dihadiri tokoh-tokoh sentral GNPF ini direncanakan terselenggara juga di 34 ibu kota provinsi. Medan menjadi tuan rumah Safari Nasional 212 kedua setelah Makassar, Sulsel, 18 Desember lalu. [jyd/ibw]