Home News Ustadz Zaitun: Kalau Mau, Hisab dan Ru’yat Bisa Selalu Satu dalam Berlebaran

Ustadz Zaitun: Kalau Mau, Hisab dan Ru’yat Bisa Selalu Satu dalam Berlebaran

678
0
SHARE

Berbeda dengan prediksi beberapa tokoh jelang lebaran sebulan silam, tidak terjadi perbedaan dalam penetapan Iedul Fitri 1 Syawal 1436 H. Pasalnya, sebagian ormas yang menggunakan metode hisab telah menetapkan sejak jauh sebelumnya bahwa 1 Syawal 1436 H jatuh pada hari Jum’at, 17 Juli 2015. Meskipun adapula pengguna metode hisab yang menetapkan hari Sabtu. Sementara pengguna metode ru’yat yang mewakili banyak ormas Islam lainnya masih menunggu hasil pemantauan hilal Syawal yang dilakukan pada hari Kamis (16/07). Hasil pemantauan hilal tersebut dibahas dan diputuskan dalam sidang itsbat yang dilakukan pada hari yang sama.

Alhamdulillah, ternyata ada saksi-saksi yang melihat hilal pada magrib Kamis tersebut. Konsekuensinya, Jum’at ditetapkan sebagai hari pertama bulan Syawal 1436 H.

Sejatinya, perbedaan dalam penentuan dan penetapan 1 Syawal sesungguhnya tidak perlu terjadi jika ada keinginan yang serius untuk bersatu. Sebab, pada asalnya puasa dan hari raya merupakan ibadah jama’iyyah atau kolektif yang penetapan dan penentuan waktunya bukan wewenang masing-masing person atau kelompok.

Di antara upaya serius mewujudkan persatuan dalam penetapan Iedul Fitri tersebut adalah (1) Membangun semangat optimisme bahwa kita bisa bersatu, (2) Menyepakati satu otoritas rujukan sebagai penentu yang keputusan dan ketetapannya diikuti bersama, dan (3) Menjunjung tinggi dan mengedepankan ukhuwah dan persatuan.

Demikian itu menurut pemaparan Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Dr. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., MA. dalam sebuah wawancara radio beberapa waktu lalu.

Potensi Iedul Fitri bersama tahun ini sesungguhnya sangat besar. Sebab posisi bulan setelah ijtima’ pada hari Kamis  setelah terbenamnya matahari sekitar tiga derajat di sebagian wilayah Indonesia.

“Oleh karena itu, kemungkinan untuk diru’yah sangat bisa. Ini yang disebut imkanurru’yah. Untuk kasus 1 Syawal 1436 H ini, saya memang optimis akan satu,” tegasnya.

Menurutnya, optimisme ini perlu dibangun guna menepis anggapan dan pernyataan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa lebaran kemarin bakal berbeda.

“Ini untuk menepis pesimisme yang disampaikan oleh sebagian kalangan yang mengatakan bahwa hari raya Iedul Fitri kali ini kembali berbeda. Bagi saya, semestinya para tokoh, ulama, intelektual, politisi, pimpinan ormas harus mengedepankan optimisme persatuan daripada pesimisme,” harapnya antara lain dalam wawancara dengan RRI Pro 3 pada Rabu (15/07).

Solusi kongkrit yang ditawarkan Zaitun adalah menyepakati adanya satu otoritas yang diikuti bersama-sama. Otoritas ini nantinya diharapkan bisa menyatukan perbedaan yang ada.

“Inilah sedikit perbedaan kita di Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia, Arab Saudi dan Turki. Mereka memiliki sebuah lembaga otoritas khusus yang dapat diterima oleh seluruh komponen masyarakat Islam,” papar ulama muda yang akrab dipanggil Ustadz Zaitun itu. “Jika lembaga tersebut mengumumkan penetapan hari raya maka seluruh masyarakat dapat menerima, baik yang menggunakan metode ru’yat maupun hisab. Kita berharap suatu saat di negeri kita juga terjadi demikian.”

Selain itu, ada metode lain yang bisa digunakan untuk penetapan 1 Syawal, walaupun belum ada sebuah otoritas yang disepakati bersama. Misalnya Menteri Agama yang sekarang ini dipandang memiliki otoritas oleh mayoritas umat bisa saja menetapkan 1 Syawal walaupun tidak ada yang melihat bulan. Tetapi dengan pertimbangan tertentu karena beliau memegang otoritas apalagi sudah ada imkanurru’yah, maka bisa saja beliau menetapkan bahwa Iedul Fitri jatuh pada hari Jumat. “Insya Allah semua bisa menerima,” Zaitun yang juga Ketua Ikatan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara itu berharap.

Opsi kedua, bisa saja pihak-pihak yang terlanjur mengumumkan 1 Syawal 1436 H jatuh pada hari Jum’at namun dalam kompromi dari hasil musyawarah, demi menjunjung persatuan dan ukhuwah mengalah untuk kemudian tidak puasa pada hari Jum’at namun Iedul Fitrinya bersamaan dengan Pemerintah pada hari Sabtu, misalnya.

“Ini juga ada dasarnya dari Sunnah Nabi saat seseorang mengetahui munculnya hilal namun mayoritas tidak mengakui. Dia bisa bersabar untuk menunggu lebaran bersama walaupun sudah tidak puasa lagi,” Zaitun menjelaskan.

“Andaikan terpaksa harus lebaran berbeda, maka kita tetap harus menjaga ukhuwah dan persatuan, saling menghormati, tidak saling menghalangi dan menyalahkan. Walaupun dengan catatan, ini sangat disayangkan,” pungkasnya. (sm/ijr)