Home Kajian Ke Arah Memperbarui Khithab Dakwah: Evaluasi terhadap Dakwah Salaf (1-2)

Ke Arah Memperbarui Khithab Dakwah: Evaluasi terhadap Dakwah Salaf (1-2)

525
0
SHARE

Afiliasi kepada agama Islam dan identitas muslim sebenarnya telah cukup untuk menetapkan status ubudiyah seseorang kepada Allah. Ubudiyah yang merupakan misi penciptaan jin dan manusia (QS. al-Hajj/22: 78). Namun, realitas umat Islam meniscayakan adanya identitas yang lebih khusus, yang lebih dalam daripada identitas umum sebagai seorang muslim.

Ibn Taimiyah mencatat:

“(Lantaran) adanya informasi dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa umatnya akan terpecah kepada tujuh puluh tiga golongan, yang semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan, yang mana golongan tersebut adalah al-jama’ah. Dan dalam hadits yang lain, beliau berkata bahwa (golongan itu adalah) mereka yang keadaannya seperti keadaan Nabi dan sahabat-sahabatnya dahulu (Salaf, pent.). Lantaran itu semua, golongan yang berpegang teguh kepada Islam yang murni dan bebas dari penyimpangan, mereka itulah (yang disebut) Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” (Al-‘Aqidah al-Wasithiyah).

Karakter pemersatu bagi golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah sendiri demikian gamblang. Tapi, setidaknya, terdapat dua karakter dan ciri yang sangat menonjol: (1) tauhid yang murni kepada Rabb semesta alam; (2) ittiba’ (sikap mengikut) yang benar serta perhatian yang besar terhadap Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lantaran itu, golongan ini disebut juga Ahl al-Hadits dan Ahl al-Atsar.

Di awal abad ke-15 H ini, kita menyaksikan kebangkitan kembali manhaj Salaf setelah beberapa dekade mengalami kemerosotan. Dakwah Salaf mencapai wilayah dunia Islam yang belum pernah dicapai sebelumnya. Dakwah Salaf dapat dikatakan telah menciptakan pencerahan yang baru di kalangan Muslim terdidik maupun masyarakat umum secara luas, dan mendorong tampilnya tokoh-tokoh dakwah Salaf seiring dengan redupnya popularitas tokoh-tokoh bid’ah dan aliran kalam yang sesat.

Namun sayang, dalam usia dakwah yang masih sangat belia, muncul fenomena penyakit umat-umat terdahulu dalam barisan dakwah Salaf yang potensial itu: perpecahan dan selisih paham. Kondisi yang segera merusak niat awal yang ikhlas dan mencemari kemurnian dakwah.

Sangat penting untuk segera menata dan memperbarui kembali dakwah Salaf, sehingga dia tetap murni tapi aktual dan terhindar dari berbagai kelemahan. Bila tidak, kita terancam akan terus terperangkap dalam perpecahan dan terbawa pada arus isu-isu parsial, yang sesungguhnya lahir dari kondisi tertentu atau kesalahan yang manusiawi belaka.

Pembaruan yang kita inginkan bukanlah perombakan terhadap hal-hal yang bersifat prinsip. Namun lebih merupakan revitalisasi dan reaktualisasi terhadap prinsip-prinsip tersebut, sehingga hasilnya lebih kongkrit di dunia nyata. Sikap kaku (jumud) terhadap simbol-simbol yang sifatnya lokal dan temporer justru berpotensi mengerdilkan pesan wahyu dan mematikan fungsi nalar dalam merespons tantangan-tantangan baru dan kontemporer.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan istilah khithab (metode/komunikasi dakwah) dalam makalah ini mencakup (1) prinsip-prinsip dasar yang tampak dalam (2) etika bahasa dan media yang digunakan.

Karakter pokok yang seharusnya menjadi ciri dari komunikasi dakwah Salaf, dan menjadi bahasa bagi para pengusungnya, tanpa melihat perbedaan tempat dan bidang garapannya, adalah:

1. BERPEGANG TEGUH KEPADA AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Kelemahan yang menimpa mayoritas gerakan dakwah sesungguhnya bersumber pada jauhnya gerakan tersebut dari pemahaman terhadap kendak Allah dan Rasul-Nya disertai fanatisme terhadap pendapat tokoh-tokoh tertentu. Tidak jarang, penyakit ini menjangkiti orang-orang yang justru getol menyerang sikap fanatisme buta. Dia terjebak dalam mengultuskan tokoh-tokoh tertentu dan lupa bahwa tak ada manusia yang suci dari kesalahan selain para Nabi.

Untuk mencegah terjadinya hal seperti itu, penting untuk membangun relasi tanpa batas dengan wahyu. Relasi yang menjadikan kita pada posisi selalu menggali petunjuk wahyu secara langsung. Sehingga mata kita tidak silau oleh pendapat-pendapat manusia dari firman Allah dan sabda Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, walaupun mereka adalah orang-orang besar dan berjasa (QS. Saba’/34: 50).

Uraian di atas tidaklah berarti menafikan hasil-hasil kajian ilmiah, atau warisan mazhab-mazhab fiqh yang ada, atau sengaja menciptakan konflik antara dakwah Salaf dengan mazhab fiqh, atau konflik internal yang dibuat-buat. Tapi bahwa semua itu harus ditimbang dengan neraca Salaf yang nota bene menghormati teks wahyu dan sekaligus memiliki pemahaman.

2. JELAS DAN GAMBLANG

Di antara sifat Al-Qur’an yang terpenting adalah bahwa dia merupakan kitab suci “penjelas” dan “jelas,” sebagaimana tercantum dalam banyak ayatnya: QS. Ali Imran/3: 138; al-Nahl/16: 89; al-Ma’idah/5: 15-16.

Dalam redaksi ayat-ayat tersebut, Allah mengandengkan antara kejelasan Al-Qur’an dan petunjuk yang dapat diperoleh darinya. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi dakwah seharusnya diformat agar jelas dan gamblang, jauh dari kesamaran dan kekaburan. Kedudukan iman, tauhid dan ibadah dalam ajaran Islam tidak akan tepat bila disampaikan dalam kerangka bahasa tarekat sufi yang sempit atau bahasa filsafat dan ilmu kalam yang kabur.

Tidak jarang, komunikasi dakwah yang mengandalkan bahasa yang samar itu berdalih ingin memperbarui metode penyampaian atau menggunakan bahasa yang sesuai dengan objek dakwah. Ironisnya, strategi tersebut tidak benar. Bahasa simbol dan samar tepat bila digunakan dalam bidang sastra, tapi tidak bisa digunakan dalam konteks penjelasan aqidah, ibadah dan amal.

3. ADIL

Komunikasi dakwah Salaf kontemporer seharusnya mengembangkan sikap adil dan meninggalkan perilaku zalim (QS. al-Nahl/16: 90). Manifestasinya, antara lain, ialah sikap mengakui keutamaan dan kebaikan orang lain tanpa harus meninggalkan kesiapan menjadi saksi karena Allah dan bersikap objektif.

Dalam banyak kasus, kritik komunikasi dakwah Salaf terhadap pihak-pihak yang berseberangan paham dengannya cenderung keras dan abai terhadap keunggulan pihak lain. Sikap keras seperti ini lahir akibat diabaikannya prinsip keadilan, pelibatan hawa nafsu, dan egoisme pribadi.

Ada dua bentuk kezaliman yang biasa terjadi: (1) menutup mata terhadap kelebihan dan kontribusi pihak lain, seperti tokoh, kelompok, atau organisasi tertentu; (2) menyamaratakan vonis terhadap semua pihak yang berseberangan paham.

Contohnya, tidak membedakan antara anggota yang ekstrim dengan anggota yang moderat dari kelompok tertentu. Seperti juga menuduh ulama tertentu sebagai pelaku bid’ah, tanpa melihat tingkat pendapat atau argumentasi yang digunakannya. Atau, lebih jauh lagi tanpa membandingkan pendapat ulama tersebut dengan segudang karyanya yang lain.

Dakwah Salaf seharusnya konsisten pada kebenaran dalam sikap dan perkataan. Fungsionaris dakwah Salaf semestinya mampu mengatakan benar kepada pihak yang benar; dan mengatakan salah kepada pihak yang salah. Atau menyatakan anda benar dalam masalah ini, dan salah dalam masalah itu.

(bersambung…)