Home Kajian Ke Arah Memperbarui Khithab Dakwah: Evaluasi terhadap Dakwah Salaf (2-2)

Ke Arah Memperbarui Khithab Dakwah: Evaluasi terhadap Dakwah Salaf (2-2)

671
0
SHARE

Karakter pokok yang seharusnya menjadi ciri dari komunikasi dakwah Salaf, dan menjadi bahasa bagi para pengusungnya, tanpa melihat perbedaan tempat dan bidang garapannya, adalah:

 

4. RAHMAT DAN KASIH SAYANG

Dakwah Salaf seharusnya tampil sebagai dakwah yang damai dan penuh kasih. Dakwah Salaf sejatinya harus mampu mencitrakan diri sebagai dakwah yang berpihak kepada kepentingan objek dakwah dan jauh dari kesan keras dan arogan. Yang demikian itu merupakan pesan Nabi kepada umat.

Dari Aisyah radhiyallahu anha, berkata:

“Sekelompok orang Yahudi meminta izin kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka mereka memberi salam berkata, ‘Semoga kebinasaan bagimu.’ Maka Aisyah membalas, ‘Bahkan semoga kebinasaan dan laknat bagi kalian.’ Rasulullah berujar, ‘Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan Dia mencintai sikap lembut dalam segala urusan.’ Aku berkata, ‘Tidakkah engkau mendengar perkataan mereka?’ Nabi menjawab, ‘Aku telah menjawab semoga juga atas kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Prinsip ini mengantar dakwah kontemporer untuk bersikap lembut “dalam segala urusan”: keyakinan dan tindakan, terhadap diri dan orang lain, kepada orang beriman, penganut bid’ah, dan orang kafir. Kecuali bila orang kafir tersebut memerangi orang beriman (QS. al-Fath/48: 29).

Para pengusung Sunnah, berlemah-lembutlah terhadap sesama Ahlus Sunnah! Sayangilah orang lain, niscaya Allah menyayangimu!

5. KOMPREHENSIF

Kapasitas dakwah seharusnya sebanding dengan besarnya proyek dakwah itu sendiri. Bila hal ini disadari, kita akan paham bahwa agama Islam adalah proyek perubahan yang mencakup seluruh aspek kehidupan demi kesejahteraan di dunia dan akhirat (QS. al-An’am/6: 162).

Konsekuensinya, dakwah Islam tidak boleh sama sekali dipersempit menjadi proyek ilmiah semata (seperti: fiqh, hadits, ushul), atau strategi perbaikan kehidupan rumah tangga atau masyarakat semata, atau tuntutan hak-hak, atau gerakan politik semata, atau perbaikan rohani dan moral pribadi belaka.

Agama Allah lebih luas daripada seluruh gambaran tersebut. Dakwah Islam, pada hakekatnya, mencakup itu semua. Islam mewadahi semua manusia dengan segala potensi, rasa, dan karakternya. Islam justru mengoptimalkan segala potensi dan kelebihan tiap individu untuk memainkan perannya masing-masing yang tak dapat diganti oleh orang lain. Sehingga setiap manusia menunaikan tugas ishlah (perbaikan) sesuai dengan bidangnya sendiri.

Dakwah yang komprehensif seharusnya mampu menampung segala aspek dan detail agama. Dakwah yang komprehensif tidak memecah atau menyeleksi berdasarkan pertimbangan yang sifatnya pribadi atau kondisional. Dengan kata lain, dakwah yang komprehensif mewadahi seluruh cita-cita Islam yang sempurna dengan segala kelapangan dan keluasannya.

Karakter komprehensifitas ini pada gilirannya membawa kita kepada karakter penting berikutnya.

6. SOLIDITAS

Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah ajakan kepada persatuan dan soliditas. Al-Qur’an dan Sunnah yang valid secara eksplisit memerintahkan hal tersebut (QS. Ali Imran/13: 103, 105; al-Syura/42: 13).

Berangkat dari kandungan dan spirit dalil-dalil tersebut, komunikasi dakwah Salaf yang reformatif hendaknya membawa semangat persatuan dan harmoni, jauh dari kesan friksi dan fanatisme. Hendaknya fungsionaris dakwah Salaf membebaskan diri dari segala bentuk afiliasi yang kontras dengan loyalitasnya kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman (QS. al-Ma’idah/5: 55).

Pasca runtuhnya Khilafah Islamiyah yang diiringi dengan berdirinya negara-negara sipil modern, duduk soal masalah ini menjadi kabur. Para aktivis Islam kebingungan dengan diri mereka sendiri dan dengan pemerintahan yang ada. Pasalnya, perbedaan dalam mempersepsikan realitas yang ada. Akibatnya, timbul konflik antara aktivis dengan negara di satu sisi, dan di antara sesama pergerakan Islam di sisi yang lain. Hasil akhirnya berupa konflik berkepanjangan, kekalahan, disintegrasi, friksi, serta energi dan potensi yang terkuras.

Harus ada jalan keluar dari kemelut tersebut. Kita kutip Syekhul Islam Ibn Taimiyah:

“Dalam hadits mahfuzh riwayat Abu Hurairah: ‘Sesungguhnya Allah ridha kepada kalian tiga perkara: kalian beribadah kepadanya dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu apapun, kalian semua berpegang teguh kepada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai, dan kalian berbuat baik dan nasehat kepada orang yang Allah serahkan urusan kalian kepadanya.’

“Nabi shallallahu alaihi wasallam telah merangkum dalam hadits-hadits ini tiga perkara penting, yaitu ikhlas beramal karena Allah, nasehat kepada pemimpin, dan komitmen kepada jamaah kaum Muslim.” (Majmu’ Fatawa, Juz I, h. 18-19).

Oleh karena itu, komunikasi dakwah antara orang beriman hendaknya dikemas dalam bingkai rekonsiliasi dan spirit persatuan. Konflik dan friksi hendaknya dibuang jauh. Semua itu dalam tiga tingkatan:

Pertama, terhadap diri mereka sendiri dengan tidak mencari-cari kesalahan dan menciptakan permusuhan. Mereka hendaknya menghentikan adu mulut dan saling berbantahan. Para aktivis dakwah seharusnya saling memaafkan dan berusaha untuk menyatukan langkah, bersama-sama menyusun prioritas dan menjauhi perkara-perkara yang samar.

Kedua, terhadap pihak-pihak yang berselisih paham dengan mereka, yang sejatinya masih masuk dalam kategori Ahlus Sunnah. Sikap seharusnya adalah saling nasehat dan bekerja sama dalam kebaikan dan takwa, sambil mengembalikan masalah yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga, terhadap pemerintah, dengan itikad baik dan amar ma’ruf nahi munkar. Fungsionaris dakwah seharusnya berpartisipasi dalam mengusung kepentingan masyarakat secara umum dan tidak membatasi diri dengan agenda tertentu. Mereka seharusnya berkontribusi bersama instrumen pemerintahan yang ada dalam segala upaya perbaikan sosial agar kita semua dapat bangkit bersama. Bagaimanapun, kita semua satu agama, bahasa, sejarah dan tanah air. Dan persatuan yang kita dambakan ini tidak mungkin terwujud bila masing-masing pihak menyimpan kecurigaan terhadap pihak lainnya.

Hanya kepada Allah kita memohon agar Dia memuliakan agamanya, Dialah pemberi petunjuk dan pertolongan.

(Diadaptasi dari: Dr. Ahmad ibn Abdurrahman ibn Utsman al-Qadhi,”Tajdid al-Khithab al-Salafi,” al-Bayan, no. 287).