Home Perspektif Kenapa Bersikap Ambivalen terhadap Syi’ah

Kenapa Bersikap Ambivalen terhadap Syi’ah

1035
0
SHARE

Bagi sebagian kaum Muslim dewasa ini, mengambil sikap jelas terhadap penyimpangan agama Syi’ah termasuk perkara sulit. Kebanyakan mungkin justru bingung bila ditanya: bagaimana penilaian anda terhadap Syi’ah?

Hal ini setidaknya dilatarbelakangai oleh sejumlah faktor. Di antaranya, minimnya informasi. Bagi kebanyakan kaum Muslim, Syi’ah tidak lebih dari sekadar nama. Bagaimana esensi doktrin Syi’ah, sejarah lahirnya, apalagi peta sekte-sekte dan politik global gerakan Syi’ah; amat jauh dari jangkauan pengetahuan masyarakat secara umum.

Referensi yang mengupas agama dan gerakan Syi’ah secara benar, baik itu esensi atau sejarahnya, masih sangat terbatas jumlahnya. Kalaupun ada, sebagian besar masih berupa karya terjemahan. Hal lain yang menjadikan sumber-sumber tersebut relatif belum menyentuh lapisan masyarakat secara luas.

Kondisi ini membuat sebagian besar masyarakat menyangka bahwa Syi’ah tidak lebih daripada sebuah mazhab fiqh, sejajar dengan mazhab Maliki atau Syafi’i atau Hambali. Padahal, perbedaan Sunnah dan Syi’ah, selain memang pada tataran furu’iyah, lebih kepada perbedaan doktrin pokok. Bahkan bila umat yang mengaku Islam diklasifikasi secara tajam, maka hanya akan ada dua kelompok: Sunni, atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mencakup pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali di satu sisi; kemudian Syiah di sisi lainnya.

Hanya ada dua kelompok, Sunni – Syi’ah, karena perbedaan antara keduanya yang sangat besar. Dibandingkan dengan agama Syiah, keempat mazhab fiqh yang banyak berbeda dalam masalah furu’iyah itu lebur menjadi satu. Perbedaan pendapat dalam tataran furu’iyah antara mazhab itu menjadi tidak ada artinya dibanding dengan jurang besar perbedaan aqidah yang memisahkan antara Sunni dan Syi’ah.

Faktor lainnya adalah sikap terlalu menyederhanakan masalah. Isu Syi’ah sering tidak diposisikan pada tempat yang semestinya. Dengarkanlah ungkapan, seperti: kenapa perbedaan Sunnah – Syi’ah dibesar-besarkan? Bukankah Sunnah dan Syi’ah sama-sama beriman kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan Hari Akhir? Begitu sebagian ungkapan yang biasa kita dengar.

Padahal, bila masalah ini diduduksoalkan dengan baik, kita akan tahu bahwa masalah Sunnah – Syi’ah tidaklah sesederhana itu. Apakah orang yang beriman kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan Hari Akhir serta-merta dapat diterima keimanannya; walaupun ia melakukan pelanggaran-pelanggaran yang justru menafikan keimanan itu? Sebagaimana orang berwudhu yang melakukan tindakan yang membatalkan wudhunya. Bagaimana bila orang itu, misalnya, menganggap bahwa minuman keras itu halal? Dia tidak menerima bila Al-Qur’an dan hadits, yang senyatanya telah mengharamkan, melarang minuman keras.

Nah, dalam masalah Syi’ah, persoalannya jauh lebih besar dari sekadar minuman keras atau sejenisnya. Masalah Syi’ah terkait dengan keyakinan-keyakinan pokok bahkan konsep-konsep dasar, yang sangat jauh berbeda dengan keyakinan masyarakat Muslim pada umumnya, bahkan ganjil

Agama Syi’ah mengandung pokok-pokok keyakinan yang sangat ganjil bila disandingkan dengan aqidah Islam. Dalam doktrin Syi’ah, tokoh-tokoh yang diklaim sebagai imam adalah “manusia super”. Dia tercipta dari substasi spesial yang berbeda dari kemanusiaan umumnya, lebih ma’shum (suci dari kesalahan) daripada para nabi dan rasul, serta memiliki pengetahuan yang mencakup peristiwa yang lalu dan yang akan datang. Bagi penganut agama Syi’ah, para imam adalah rahasia segala sesuatu, penyangga semesta, dan poros penciptaan. Lantaran itu, meyakini imam bagi Syi’ah merupakan syarat mutlak keselamatan.

Coba bandingkan doktrin-doktrin tersebut dengan kemudahan aqidah Islam sejati yang tertuang dalam Al-Qur’an:

“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.’ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Terj. QS. al-Kahfi/18: 110).

Faktor lain yang mendorong lahirnya sikap ambivalen terhadap isu Syi’ah ini adalah realitas adanya permusuhan bahkan serangan terhadap ajaran Islam dan umatnya. Makar Zionisme Yahudi serta Salibis Fanatik terhadap Islam dan umat Islam adalah fakta yang mudah ditemukan di berbagai belahan dunia. Realitas ini mendorong sebagian tokoh untuk berpikir taktis: apakah kita harus mencari musuh baru di tengah tantangan besar yang sedang menghadang umat?

Cara berpikir ini tentunya tidak salah; bila tak ada permusuhan dari pihak Syi’ah. Tentu gegabah bila kaum Muslim justru menambah daftar musuhnya di tengah konspirasi global yang gencar untuk melemahkan umat.

Tapi, bagaimana bila kondisinya adalah sikap bermusuhan telah ditunjukkan Syi’ah kepada umat? Pelecehan terhadap istri-istri dan hampir seluruh sahabat Nabi adalah simpul pokok keyakinan Syi’ah. Pelecehan ini lantas dikemas dalam bermacam ritual penganut Syi’ah. Pada tataran politik global, konflik berkepanjangan yang terjadi di sebagian negara-negara Timur Tengah tak lepas dari campur tangan penganut Syi’ah. Bahkan kajian politik internasional tak akan lengkap tanpa perspektif gerakan Syi’ah di dalamnya. Bila demikian, bukankah sikap diam berarti khianat terhadap umat? 

Sejarah Syi’ah penuh dengan lumuran darah umat Islam. Maka sejarah itu sudah seharusnya menjadi guru terbaik bagi kita. Dan serangan Syi’ah terhadap Islam dan umatnya belum juga berhenti hingga detik ini.

Ryan Bussa