Home Kajian Khilafah dan Kasus Para Sahabat yang Mengakhirkan Penyelenggaraan Jenazah Nabi

Khilafah dan Kasus Para Sahabat yang Mengakhirkan Penyelenggaraan Jenazah Nabi

892
0
SHARE

Menilik fakta sejarah penunjukkan Abu Bakar al-Shiddiq radhiyallahu anhu sebagai khalifah pertama dalam Islam, seperti diriwayatkan imam-imam muktabar, tampak perhatian besar para sahabat radhiyallahu anhum terhadap persoalan politik, kepemimpinan, serta semangat menciptakan persatuan dalam barisan kaum Muslim. Terbukti melalui ijtihad mereka mengakhirkan penyelenggaraan jenazah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga tercapai kesepakatan siapa yang bakal menjadi khalifah bagi kaum Muslim.

Memang sempat terjadi silang pendapat dan dialog antara kaum Muhajirin dan Anshar di Saqifah Bani Sa’idah. Namun, bukan sebagai perselisihan sebagaimana tuduhan sebagian kalangan. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah (w. 728 H) mengatakan, “… semisal perdebatan yang terjadi pada pertemuan di Saqifah, dari proses hingga terjadi kesepakatan, tidaklah dikatakan sebagai sebuah perselisihan.”[1]

Pernyataan ini dipertegas oleh Abu al-Abbas al-Qurthubi (w. 656 H), melalui komentarnya terkait peristiwa di Saqifah:

“Dalam majelis tersebut, terjadi di antara mereka dialog, tukar pandangan dan sikap adil dalam menimbang (inshof). Semua itu menunjukkan pengetahuan (kesadaran) sebagian mereka tentang keutamaan sebagian lainnya, dan bahwasanya hati-hati mereka sepakat untuk saling menghormati dan cinta pada sebagian lainnya .”[2]

Nah, terkait keputusan para sahabat radhiyallahu anhum menunda penyelenggaraan jenazah Nabi shallallahu alaihi wasallam, hingga kelar seluruh persoalan kepemimpinan dalam negara, mungkin saja terlintas dalam benak sebagian orang, tak terkecuali para penulis sejarah tuduhan terhadap mereka akan sikap tamak terhadap kekuasaan serta perlombaan padanya, wal’iyadzubillah.

Dugaan serta tuduhan semisal ini tidak lahir melainkan karena kejahilan terhadap perihal para sahabat yang mulia dan ajaran agama yang mereka emban. Untuk meluruskan hal tersebut, sekurangnya ada dua hal yang harus dipahami dengan baik:

Pertama: Orang yang memahami karakter aturan kekuasaan politik bangsa Arab zaman dimana Nabi diutus, mengkaji sirah perjalanan Nabi shallallahu alaihi wasallam, serta mendalami ajaran agama yang diemban dan diaplikasikan para sahabat -yakni Islam-, tentu tidak asing baginya rahasia kenapa kaum Muhajirin dan Anshar bersegera menyelesaikan persoalan khilafah, sebelum menyelenggarakan jenazah Nabi SAW.

Perlu diketahui, di antara karakter politik yang mengakar pada masyarakat Arab sebelum bi’tsah (diutusnya Nabi) adalah pengangkatan pemimpin dalam setiap kabilah atau jama’ah. Pemimpin ini yang kemudian disebut sebagai “al-sayyid” atau “syaikh kabilah”. Tugasnya adalah menjaga persatuan, mengatur urusan, memimpin perang, menyambut utusan (duta), mengikat perjanjian damai dan selainnya. Olehnya, jika mereka wafat secara otomatis berpindah pada orang lain yang layak menggantikan posisinya.[2]

Perhatian besar dalam hal penunjukan pemimpin yang mengurus persoalan-persoalan rakyat pada aturan politik bangsa Arab sebelum bi’tsah tersebut, mendapat respon dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang kemudian disaksikan oleh para sahabat tatkala Daulah Islam eksis di kota Madinah.

Tidak heran jika Nabi senantiasa menunjuk seseorang sebagai pemimpin pada saat pengiriman kombatan-kombatan kecil kendati jumlah mereka sedikit dan waktu keluarnya sangat pendek. Bahkan, tatkala beliau khawatir terjadi sesuatu yang buruk terhadap kombatan kaum Muslim dalam perang Mu’tah, beliau lantas mengajukan tiga nama yang bakal saling menggantikan dalam kepemimpinan. Beliau tidak pernah meninggalkan kota Madinah melainkan telah menunjuk salah seorang yang mewakili beliau untuk sementara waktu sebagai pemimpin. Makanya, banyak sekali riwayat-riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wasallam akan perintah menunjuk salah seorang sebagai pemimpin ketika keluar untuk safar.[3]

Respon terhadap karakter politik tersebut, yang kemudian direalisasikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam negara Islam, dalam situasi-situasi yang mungkin saja bukan darurat, menguatkan dalam benak para sahabat akan kewajiban bersegera pada persoalan yang dikategorikan termasuk urusan paling mendesak dan darurat dalam sebuah negara yang baru terbentuk, yakni menegakkan dan mengangkat pemimpin kaum Muslim pada saat wafatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Kedua: Di sisi lain, jika kita perhatikan kondisi darurat kota Madinah sebagai pusat Daulah Islam pasca wafatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam, akan tampak bahwa mungkin saja kondisi tersebut menjadi alasan dan motivasi besar yang mendorong para sahabat segera menyelesaikan persoalan khilafah sebelum menyelenggarakan jenazah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Di antara kondisi-kondisi darurat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kota Madinah saat itu tidak dalam keadaan aman dari serbuan suku-suku Arab yang belum mau tunduk secara totalitas.
  2. Adanya ancaman bahaya dari sebagian orang yang mengklaim diri sebagai Nabi dan mulai menancapkan taring-taring pengaruhnya di sekitar bangsa Arab pada akhir-akhir hayat Nabi shallallahu alaihi wasallam, seperti al-Aswad al-‘Ansiy di Yaman dan Musailamah al-Kaddzab di Yamamah.
  3. Adanya rongrongan bangsa Romawi Kristen terhadap kaum Muslim dan ibukota Madinah hingga batas dimana Rasulullah harus menyiapkan kombatan di bawah pimpinan Usamah ibn Zaid radhiyallahu anhu di akhir-akhir hayat beliau guna menghadapi mereka.
  4. Kondisi-kondisi darurat di atas, diperkeruh lagi oleh ancaman internal kaum Munafik di dalam kota Madinah yang setiap saat senantiasa mengintai dan mencari cela membuat makar bagi kaum Muslim.[4]

Semua hal ini dijabarkan oleh Ibnu Hisyam dalam kitabnya “al-Sirah al-Nabawiyah”. Ibn Hisyam menyatakan:

“Wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merupakan musibah paling besar yang menghantam kaum Muslim. Menurut keterangan yang sampai padaku, Aisyah radhiyallahu anhu berkata: ‘Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, orang-orang Arab banyak yang murtad, Yahudi dan Nasrani mulai menggeliat dan menjulurkan lehernya (mencari kesempatan menyerang), kemunafikan mulai tampak, dan kaum Muslim menjadi seolah kumpulan kambing di tengah malam yang hujan dan dingin karena kehilangan Nabi mereka.”[5]

Jadi jelas di sini, ijtihad para sahabat radhiallahu anhum untuk segera menyelesaikan persoalan khilafah tidak lain adalah demi menjaga maslahat agama, eksistensi negara serta keselamatan kaum Muslim dari berbagai kepungan makar yang sengaja dibuat oleh musuh-musuh Islam dari segala arah.

Di samping itu, terbantahkan pula anggapan yang mengatakan bahwa perkumpulan mereka tersebut semata karena haus jabatan dan kekuasaan. Fakta ini lebih dikuatkan oleh sikap mereka yang saling menolak dan melemparkan jabatan tersebut kepada yang lain, sebagaimana terungkap dalam riwayat-riwayat yang shahih.

Wallahu A’lam.

Rapung Samuddin

 

  1. Ibn Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, Riyadh: Jami’ah Imam Muhammad ibn Su’ud, t.thn, I, hlm. 29.
  2. Abu al-Abbas Ahmad ibn Umar al-Qurthubi, al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, Tahqiq: Muhyiddin Mastu, et, al. (Cet. I, Beirut, Daar Ibn Katsir, thn. 1417 H/1996 M), Vol. III, hlm. 570-571.
  3. Lihat: Dr. Ahmad Ibrahim al-Syarif, Makkah wa al-Madinah fii al-Jahiliyah, hlm. 36-40, terkutip dalam: Dr. Muhammad ibn Ibrahim ibn Shalih Aba al-Khail, Tarikh al-Khulafa’ al-Rasyidin, (Cet. I, Saudi Arabiyah, Daar al-Fadhilah, thn. 1430 H/2009 M), hlm. 35.
  4. Ibid, 35.
  5. Ibid, 35-36.
  6. Lihat: Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, Tahqiq: Majdi Fathi al-Sayyid (Cet. I. Thantha: Daar as-Shahabah li at-Turats, thn. 1416 H/1995 M), V IV, hlm. 323.