Home Perspektif Melacak Akar Kebengisan Yahudi-Israel

Melacak Akar Kebengisan Yahudi-Israel

961
0
SHARE

Sejatinya setiap agama di muka bumi ini, baik yang diturunkan Allah dari langit (samawi) atau agama gubahan dan ciptaan manusia sendiri pasti memiliki panduan yang disebut kitab. Dalam konteks samawi, kita kenal tiga agama besar yang masing-masing memiliki kitab. Yahudi dengan Taurat dan Zabur, Kristen dengan Injil, dan Islam dengan Al-Qur’an. Sayangnya, keempat kitab yang sejatinya berupa wahyu itu, hanya Al-Qur’an saja yang masih terjaga keasliannya. Selain itu, semuanya telah diotak-atik oleh tangan-tangan jahil, termasuk kitab suci umat Yahudi yang manjadi pokok bahasan artikel ini.

Kitab suci Yahudi sejatinya adalah kumpulan sefer-sefer (tulisan) para pemuka Perkumpulan Wali Agung Yahudi setelah mereka bebas dari basis tawanan Babilonia. Teks utama kitab suci itu terbagi atas tiga bagian. Taurat (Undang-undang Tuhan); Sefer Para Nabi; dan Ketubim (tulisan) yang disebut juga Shahifah atau lembaran.

Taurat dari sudut bahasa bermakna mengajarkan, pembelajaran, dan pengajar. Menurut istilah Al-Qur’an, Taurat adalah syariat Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa untuk diajarkan kepada anak zamannya. Namun, Taurat bagi keyakinan Yahudi adalah Undang-undang Tuhan yang ditulis Nabi Musa dan terdiri dari lima kitab utama: Sefer Takwin (Kitab Kejadian); Sefer Khuruj (Kitab Keluaran); Sefer Lawiyyun (Kitab Imamat); Sefer Adad (Kitab Bilangan); dan Sefer Tstatsniyah (Kitab Ulangan). Adapun Sefer Para Nabi berisi sefer nabi-nabi terdahulu dan nabi-nabi belakangan, sedangkan Ketubin mencakup kitab hukum, etika kearifan dan sejarah.

Sayangnya Taurat yang diimani kaum Yahudi dalam konteks kekinian bukanlah Taurat yang diwahyukan kepada Nabi Musa alahissalam karena kandungan intinya telah direduksi oleh Yahudi sendiri sejalan dengan kepentingan pragmatisme mereka. Bahkan ajaran Taurat saat ini hanyalah hasil karya para rabi (pendeta Yahudi) yang mulanya merupakan Qanun Syafahi (undang-undang lisan) yang beredar dari mulut ke mulut di antara para rabi dari kurun ke kurun. Logika mana pun akan sulit menerima validitas Taurat yang hanya para rabi saja yang berhak menafsirkan, dan realitas tersebut berlangsung selama berabad-abad setelah wafatnya Nabi Musa.

Adapun Talmud yang dianggap oleh bangsa Yahudi sebagai ‘Kitab Suci Kedua’ paska Taurat, juga mengalami penyimpangan yang sama. Talmud adalah perwujudan ‘oral of law’ dalam bentuk tulisan yang sarat dengan bumbu-bumbu penafsiran para rabi, bahkan isinya tak lebih dari sekadar opini dan gagasan mereka. Oleh karena itu, ajaran Talmud saat ini sarat dengan doktrin kebencian terhadap orang asing (gentile), terutama para pengikut Isa al-Masih (umat Kristen) dan berkembang pada peradaban Kiristiani dan Islam, akhirnya melebar pada komunitas Arab dan kaum muslimin. Puncak dari malapetaka yang lahir dari ajaran Talmud adalah jatuhnya Baitul Maqdis (Palestina) ke tangan kaum Yahudi, diiringi lahirnya negara Zionis Israel.

Ideologi (akidah) Yahudi kontemporer tidak ada hubungannya dengan syariat Nabi Musa yang suci dan bersumber dari Allah. Taurat versi baru dan Talmud tidak lain merupakan virus ganas yang menebarkan malapetaka super dahsyat bagi kemanusiaan universal. Klimaksnya adalah lahirnya gerakan zionisme di akhir abad XVII M, tepatnya pada tahun 1897 M. Lalu merebaknya prilaku durjana yang terus menerus melahirkan petaka kemanusiaan.

Jargon utama Zionisme adalah pembentukan negara Israel di bumi Palestina. Karena itu, naif jika ada yang memilah-milah Yahudi sebagai ideologi agama vis a vis Yahudi sebagai ideologi politik. Keduanya merupakan kesatuan utuh yang tak terpisahkan, sebab Taurat versi baru dan Talmud yang mereka anggap sebagai kitab suci sejatinya adalah aturan-aturan yang sengaja dibuat untuk menghalalkan tipu daya serta prilaku busuk mereka untuk menggapai kepentingan pragmatisme dunia. Zionisme tidak lain hanyalah lokomotif untuk mengusung cita-cita busuk Bani Israel di atas muka bumi. Itulah fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri oleh jin dan iblis sekali pun.

Taurat versi baru mengajarkan bahwa bumi ini hanya diwariskan oleh kaum Yahudi dari keturunan Nabi Ibrahim, “Tuhan menampakkan diri-Nya kepada Abraham. Dia berujar kepadanya, Aku berikan bumi ini kepada anak turunmu!” (Kitab Kejadian 12:7). Paska kematian Ibrahim, putranya Ishak, juga menyerukan nada rasis, “Maka perbanyaklah anak turunmu sebanyak bintang di langit. Aku akan beri anak turunmu semua negeri ini,” (Kitab Kejadian 26: 2-4). Demikian pula di zaman Nabi Musa, mereka diajarkan agar berlaku bengis, “Apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau maka haruslah engkau mengepungnya dan setelah Tuhan Allahmu menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh yang laki-laki dengan mata pedang. Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu boleh kau rampas untukmu sendiri,” (Kitab Ulangan 7:1-2).

Karena itu, Allah mengutus Nabi Muhammad untuk meluruskan ajaran mereka yang termaktub dalam Taurat yang telah diacak-acak oleh rabi Yahudi. Bahwa versi mereka, bumi ini diwariskan hanya untuk keturunan Ibrahim dari garis Ishak yang disebut sebagai Israil, dan keturunannya dikenal dengan Bani Israil adalah bohong belaka. Buktinya, sejak dalam kitab Zabur yang lebih awal turun telah dinyatakan bahwa bumi ini untuk orang-orang yang baik. Firman Allah, “Dan sesungguhnya telah Kami tulis dalam Zabur sesudah Kami tulis di Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi diwarisi untuk hamba-hamba-Ku yang saleh,” (QS. 21:105).

Al-Qur’an juga mengabadikan watak orang Yahudi yang sok gagah dan perkasa, padahal sejatinya adalah pengecut dan berperilaku licik dan kerdil, “Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu kecuali dalam kampung-kampung berbenteng atau di balik tembok,” (QS. 59:14).

Begitu pula rentetan perilaku bejat lainnya yang telah diperagakan oleh Bani Israil di atas altar sejarah, dari masa ke masa tanpa henti, terekam apik dalam Al-Qur’an. Karena itu, tidak mungkin menyebutnya satu persatu. Jangankan pada bangsa lain selain mereka, saudara kandung sendiri saja dianiaya dengan sangat biadab sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Yusuf. Penting diketahui bahwa Yusuf adalah salah satu putra Israil (Ya’qub) yang mendapat perlakuan biadab dari saudaranya sendiri.

Tuduhan keji terhadap para nabi Allah juga tak kalah dahsyatnya. Nabi Daud misalnya, digambarkan sebagai pemimpin yang gemar melakukan penyimpangan seks (sex abuse) dengan meniduri istri-istri pemuka kerajaannya.

Digambarkan dalam Taurat gubahan para rabi bahwa Daud -tentu bukan Nabi Daud menurut Al-Qur’an- tergila-gila pada Batsyeba, istri salah seorang prajurit perang bernama Uria. Daud membuat siasat busuk dengan mengirim Uria ke medan petempuran supaya dengan leluasa menikahi Batsyeba. Ketika sang prajurit sedang betempur melawan musuh justru Daud bermesum dengan istri Uria yang cantik jelita itu.

Karena dalam peperangan Uria tidak tewas, maka Daud lalu menyuruh Yoab untuk menghabisi nyawa Uria agar segera menikahi jandanya. Demikianlah tuduhan keji itu yang tertulis apik dalam Kitab II Samuel 11. Selain itu, Daud digambarkan sebagai lelaki tua-tua keladi yang maniak dengan keperawanan para gadis-gadis cantik agar tetap awet muda, (Kitab I Samuel I:1-4). Salomon, atau Nabi Sulaiman dalam istilah Al-Qur’an, juga mendapat tuduhan keji, digambarkan sebagai raja yang memiliki banyak gundik, (Kitab I Raja-raja 11:1-4).

Al-Qur’an juga mewartakan tentang prilaku Bani Israil yang serampangan menuduh Maryam, ibu Nabi Isa sebagai wanita pelacur. Hal ini bermula ketika Maryam hamil lalu melahirkan anak tanpa seorang suami. “Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya, Bani Israil, sambil menggendongnya. Kaumnya berkata, ‘Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai, Saudara Perempuan Harun, ayahmu bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-sekali bukan seorang pezina!” (QS. 19:27-28).

Bahkan mereka digambarkan sebagai golongan, “yakfuruna bi ayatillah, wa yaqtulunal anbiya’ bighairil haq/mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas,” (QS. 2:61). Jika nabi dari golongan mereka saja dibunuh, apatah lagi manusia biasa dari bangsa lain!

Namun perlu dicatat, Bani Israil yang terdiri dari Bangsa Yahudi itu adalah umat yang diberi nikmat khusus dari Allah, berupa kecerdasan. Firman Allah, “Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan bahwa Aku telah melebihkan kalian atas umat lain,” (QS. 2:47).

SAMPAI KAPAN?

Maka layaklah kita bertanya, sampai kapan kebiadaban dan kebengisan itu terus-menerus berlangsung? 

Hadits bersumber dari Abu Hurairah diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2922), “Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga umat Islam memerangi Yahudi. Orang-orang Islam membunuh Yahudi sampai lari bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun batu dan pohon pun berbicara, ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, inilah Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh saja!’ Kecuali pohon Gharqad, karena termasuk pohon Yahudi.”

Dalam sebuah diskusi di Mesir yang dihadiri oleh mahasiswa al-Azhar dan perwakilan Yahudi di lain pihak. Mahasiwa itu memaparkan hadits di atas kepada sang Yahudi. Katanya, “Apakah anda sebagai orang Yahudi percaya akan hadits itu?”

Sang Yahudi menjawab sambil menyindir, “Iya, saya sangat percaya, dan itu hadits shahih. Namun momen tersebut tidak akan pernah terjadi pada zaman kalian sekarang ini. Keadaan itu hanya terjadi jika jumlah jamaah umat Islam di waktu shalat Subuh sama banyaknya pada shalat Jumat.”

Pesan Yahudi itu sangat sederhana, mereka hanya bisa dikalahkan jika umat Islam bersatu padu melawan mereka, dan nampaknya, hingga saat ini, wacana persatuan itu masih utopia, bahkan umat Islam sedang dilemahkan dari berbagai aspek, mulai dari politik, ekonomi, hingga persatuan dan kesatuan. Secara internal, kaum muslimin dilanda penyakit wahn, berupa cinta dunia berlebihan dan takut akan kematian, hubbud dunya wakarahiyatul maut, (al-Albani, Shahih Sunan Abi Dawud, no. 4297).

Saksikanlah negara-negara Islam Timur Tengah, sibuk dengan diri mereka masing-masing, berlomba membangun pusat perbelanjaan termewah di dunia, gedung pencakar langit, hingga orang-orang kayanya berbangga-bangga dengan memiliki klub sepak bola top di daratan Eropa. Di saat yang sama, Gaza, Palestina terus menjadi bulan-bulana Israel. Ketika artikel ini ditulis, sudah hampir 2000 korban tewas dari Gaza dan ribuan lainnya terluka. Konyolnya, tak ada siapa pun yang mampu menghentikan kebiadaban dan kebengisan itu. Eropa dan Amerika dengan HAM yang mereka dengungkan sejatinya hanya isapan jempol belaka. HAM hanya untuk peradaban Barat yang minus keadilan dan penuh kebiadaban. 

Kita butuh pemimpin yang selain alim dalam masalah keagamaan, juga berani berdiri tegak membela kepentingan umat Islam tanpa kenal teritorial. Sejarah mencatat, ketika perang Arab-Israel tahun 1973, Raja Faisal dari Arab Saudi melakukan embargo minyak terhadap Amerika Serikat sebagai sikap dan protes beliau atas Israel. Henry Kissinger kemudian mengancam Raja Faisal, jika Saudi tidak menghentikan boikot minyak, Amerika akan menyerang dan menghancurkan seluruh kilang minyak Arab!

Sang Raja yang juga hafiz Al-Qur’an 30 juz itu tak ciut nyalinya sedikit pun. “Amerika adalah satu-satunya negara yang tidak bisa hidup tanpa minyak. Anda tahu, kami bangsa Arab lahir dari gurun, dan leluhur kami hidup hanya dengan kurma dan susu, dan mudah bagi kami untuk hidup seperti itu lagi,” jawabnya. Dalam konteks kekinian, Perdana Menteri Turky, Recep Tayyip Erdogan adalah contoh yang baik. Bagaimana dengan pemimpin kita yang juga seorang muslim?

Saya tutup tulisan ini dengan mengutip pernyataan Adolf Hitler, mengapa ia begitu anti Yahudi, “Saya bisa memusnahkan semua orang Yahudi di dunia ini, tapi saya meninggalkan beberapa dari mereka hidup sehingga Anda akan tahu mengapa saya membunuh mereka.” Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, Peneliti MIUMI Sulsel, Pengurus KPPSI Pusat.