Home Kajian Memahami Permasalahan Islam – Kristen

Memahami Permasalahan Islam – Kristen

1874
0

Gencarnya propaganda teologi pluralis terutama yang sering dihembuskan oleh kelompok Sekuler Liberal bagaikan dewa penolong bagi para pemimpin Gereja dan Penginjil di tengah kritikan dan gempuran para pakar sejarah dan pakar Alkitab sendiri yang justeru menyatakan kepalsuan ajaran Kristen.

Kelompok yang pada prinsipnya menganggap semua agama adalah benar dan setiap manusia menuju proses mencari kebenaran, sesungguhnya tidak menyadari kalau mereka dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan misionaris yang merancang skenario global untuk merusak Islam dari dalam secara terstruktur. Kerumitan bertambah dan menjadi beban dakwah bagi kita semua karena kelompok-kelompok seperti ini mendapat dukungan media yang secara langsung mempermudah pesan-pesan mereka sampai kepada masyarakat yang pemahaman Islamnya masih apa adanya.

Bila kita amati paham teologi pluralis yang dimotori beberapa kelompok terkesan memang upayanya untuk menggiring umat Islam agar mau menerima bahwa agama lain pun sama benarnya dengan Islam. Untuk membuktikan siasat ini, mereka tidak segan-segan menyerang kelompok-kelompok Islam lainnya yang ingin menegakkan Islam sebagai agama yang hak dan rahmatan lil alamin dan ingin meluruskan kesesatan agama-agama lainnya, terutama agama Kristen. Salah satu elemen Islam yang menjadi sasaran adalah mereka yang senantiasa menjaga Sunnah dan berupaya menegakan nilai-nilai Islam secara murni dalam setiap aspek kehidupan.

MENGAPA HARUS ISLAM DENGAN KRISTEN?

Dari semua agama yang ada, agama Islam dan Kristen merupakan dua agama yang paling sering bersinggungan. Hal ini bukan hanya karena penganut mereka yang mendominasi populasi penduduk dunia, namun juga karena agama Kristen dan tokoh sentralnya, Yesus atau Isa alaihis salam sangat banyak dibahas dalam Al-Qur’an. Perlu diketahui oleh umat Kristiani bahwa Islam satu-satunya agama di luar kristen yang mengakui Yesus, namun bukan sebagai Tuhan tetapi sebagai nabi yang sangat dihormati. Orang-orang Yahudi yang seharusnya menjadi objek dakwah Nabi Isa justeru tidak mengakui beliau sama sekali.

Agama Yahudi termasuk agama yang juga dibahas secara intens dalam Al-Qur’an. Namun, karena penganut agama ini di Indonesia ini sangat sedikit, kita tidak menemukan persoalan dengan penganut agama ini kecuali berupa kecaman tidak langsung melalui media akibat pengaruh gerakan Zionis internasional di dalam negeri atau, khususnya, di Palestina.

Kaitan antara agama Islam dan agama Kristen menjadi lebih kuat karena ajaran Kristen memiliki dampak langsung terhadap keimanan umat Islam, di antaranya:

  1. Umat Islam memuliakan Nabi Isa alaihis salam sebagai salah seorang rasul Allah untuk Bani Israil, sementara umat Kristen menjadikannya salah satu dari oknum Tuhan (1 Yohannes 5: 7).
  2. Umat Islam taat pada ajaran Tauhid murni yang diajarkan Nabi Isa alaihis salam dan nabi-nabi Allah lainnya sebagaimana yang disempurnakan dan diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara, umat Kristen mengikuti ajaran yang bertentangan dengan Tauhid yang diajarkan Yesus dengan mengatakan bahwa itu adalah perintah Yesus. Terbukti, masih banyak ayat-ayat dalam Bible mereka saat ini yang menjelaskan bahwa Yesus sesungguhnya adalah nabi atau rasul, di antaranya dalam Injil Yohannes 5: 30, 17: 3; Matius 10: 40, 21: 11, 21: 46; Lukas 13: 33, 24: 19, dan masih banyak lagi.
  3. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi yang diutus untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman dan Yesus adalah nabi yang diutus khusus untuk Bani Israil pada zamannya. Namun, tiba-tiba umat Kristen mengatakan bahwa Gereja memerintahkan untuk mengkristenkan seluruh bangsa di muka bumi ini (Matius 28: 19). Akibatnya, lahirlah misionaris/penginjil yang kemudian menempuh berbagai cara dan tidak mengindahkan etika penyampaian sebuah pesan agama yang seharusnya menghormati agama lain. Sangat kerap terjadi kelompok ini berbenturan dengan umat Islam sebagai masyarakat mayoritas di negeri ini.
  4. Kasus-kasus murtadnya umat Islam yang keluar dari Islam paling banyak kemudian menjadi penganut agama Kristen. Sehingga diperlukan kerja ekstra para da’i dan ulama untuk memberi penjelasan kepada umat mengenai hakekat kekristenan dan segala permasalahannya.
  5. Orang-orang Romawi mengklaim Heracles sebagai Tuhan yang turun ke bumi untuk menyelamatkan manusia, orang-orang Mesir mengatakan bahwa Dewa Tammuz mati dan bangkit kembali untuk menebus dosa manusia, sedangkan umat Hindu mengangkat Brahma, Vhisnu dan Shiva sebagai Tuhan. Untuk semua itu, tidak banyak umat Islam yang mengambil pusing.

Namun, ketika orang-orang Kristen mengangkat Isa alaihis salam putra Maryam sebagai Tuhan dan ‘juru selamat’ yang mati dan bangkit kembali untuk menebus dosa segenap umat manusia, maka umat Islam tidak dapat menerimanya. Ini dikarenakan umat Islam mengakui Isa alaihis salam sebagai salah seorang nabi yang harus dihormati dan dibela dari pencitraan dan pembunuhan karakter yang dilakukan oleh umat Kristiani (QS. Al-Nisa’:171; QS. Al-Baqarah: 285), serta upaya memurnikan Tauhid dari ajaran penuhanan Yesus yang menjadi ajaran sentral dari sebuah penganut populasi terbesar di dunia saat ini.

Inilah di antara persoalan yang ditemui antara Islam dan Kristen yang jarang ditemukan antara Islam dengan agama-agama lainnya.

Hukum Tuhan di alam semesta mengatakan bahwa manusia melahirkan manusia, bukan melahirkan Tuhan. Dalam semua kitab para nabi Allah, tidak satu pun yang mengatakan atau meramalkan bahwa seorang manusia akan melahirkan Tuhan. Jika kemudian Yesus yang dilahirkan dari rahim Maryam tiba-tiba diakui menjadi Tuhan, tentu manusia normal dan berpikir cerdas akan menuntut bukti-bukti.

Kapan dia menjadi Tuhan? Siapa yang membuat SK ketuhanannya serta kapan ditetapkan? Mengapa sejak bayi ibunya tidak menyembahnya sebagai Tuhan? Mengapa ia tidak mengetahui kapan hari Kiamat jika ia Tuhan (Matius 24: 36)? Mengapa ia berteriak memanggil Tuhan ketika disalib (Matius 27: 47) jika memang ia Tuhan? Mengapa pula Tuhan bisa disalib? ‘… terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib.’ (Galatia 3: 13). Apakah Anda percaya pada semua kisah dimana ‘anak Tuhan’ dibunuh oleh mahluk ciptaan-Nya sendiri dan terbunuh dengan kondisi yang sangat tragis dengan hanya mengenakan celana dalam dengan tubuh berlumuran darah?

Berbagai macam pertanyaan muncul karena Yesus adalah manusia riil yang pernah hidup di dunia ini dalam kurun waktu tertentu (fixed period), dalam lingkungan masyarakat tertentu (fixed social environment), berinteraksi dengan orang-orang tertentu (fixed social interaction), dan dicatat bersama orang-orang penting tertentu, oleh orang-orang tertentu (fixed historical background). Kesemuanya ini menyebabkan orang Kristen, khususnya para pemimpin Gereja abad awal, tidak boleh mengatur sejarah hidup Yesus untuk disetel dan disesuaikan dengan keinginan mereka.

Marilah kita memahami sejarah dengan sungguh-sungguh agar kita tidak dikibuli oleh dongeng-dongeng para pendahulu Kristen. Michael H. Hart dalam bukunya Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, yang mengakui Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai orang paling berhasil mengubah kehidupan dan memberi warna pada sejarah, menjelaskan perihal Paulus. Ia menulis:

‘Ia (Paulus) bertanggung jawab terhadap peralihan agama Kristen dari sekte Yahudi menjadi agama besar dunia. Ide sentralnya tentang kesucian Yesus dan pengakuan berdasarkan kepercayaan semata tetap merupakan dasar pemikiran Kristen sepanjang abad-abad berikutnya. Sehingga banyak sarjana dan para teolog Kristen beranggapan bahwa Pauluslah pendiri agama Kristen dan bukan Yesus.’

Ketika Gereja bersama Kaisar Romawi melantik manusia Yesus menjadi Tuhan dan Kristus, serta mengatakan bahwa Yesus lahir tanggal 25 Desember tahun 01 M, mereka telah menabrak informasi dalam Al-Qur’an, Naskah Laut Mati, maupun Alkitab mereka sendiri. Keinginan Gereja yang sangat kuat untuk mempertuhankan Yesus membuat Paulus dan pengikutnya mengadopsi konsep agama pagan dan membuat konsep dosa asal (original sin) agar kisah penyaliban dapat diterima oleh masyarakat demi mempertuhankan Yesus.

Kebohongan-kebohongan ini merupakan penyebab turunnya secara drastis penganut ajaran Kristen, terutama di Eropa dan Amerika. Berbagai survei terhadap masyarakat Barat di berbagai negara memperlihatkan bahwa walaupun mereka mengaku sebagai penganut Kristen, sesungguhnya mereka sudah tidak percaya dengannya.

Sebaliknya, mengapa orang-orang Kristen Barat lebih mudah menerima Islam? Ini dikarenakan mereka terdidik berpikir logis dan rasional oleh pola pendidikan yang ilmiah sejak kecil. Sehingga masyarakat Barat memadukan intelektualitas dan ilmu agama. Adapun masyarakat di negara-negara berkembang dan miskin, lebih memilih agama berdasarkan kepentingan ‘perut’. Sehingga kasus kemurtadan lebih banyak terjadi di negara-negara seperti ini.

Fakta banyaknya gereja yang tutup atau berubah menjadi masjid di Eropa dan Amerika menunjukkan betapa agama ini sudah kehilangan penganut secara perlahan. Lantas, bagaimana pula dengan mereka yang mengaku Islam namun masih berupaya untuk mengatakan semua agama benar, termasuk agama Kristen? Bahkan, kelompok ini lebih memilih menghadiri perayaan Natal bersama daripada menghadiri pengajian dan majelis ta’lim umat Islam. Dengan propaganda gencar para pendukung teologi pluralis ini, para pemimpin Gereja dan penginjil merasa seperti kejatuhan dewa penolong dalam menghadapi gempuran para sejarawan, pakar Alkitab dan Naskah Laut Mati, serta para ulama Islam yang membongkar segala kesesatan dan tipu muslihat mereka.

Inilah tantangan internal para da’i agar melakukan instrokspeksi ke dalam, apakah belum maksimal tugas dakwah yang kita lakukan atau kita disibukkan dengan urusan dunia dan lain sebagainya. Selayaknya juga media sebagai sarana pencerdasan bangsa ikut mendukung segala upaya agar masyakarat beragama dengan benar, bukannya mengobok-obok dan mengadu domba internal umat Islam dengan mendukung kelompok pemikir minoritas yang sekuler untuk merusak aqidah mayoritas umat.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala melindungi kita dari fitnah orang-orang kafir dan segala tipu daya mereka bersama kolega-kolega mereka, kaum munafikin dan orang-orang fasik. ‘Dan orang-orang yang kafir berkata janganlah kamu mendengar akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya agar kalian dapat mengalahkan mereka.’ (QS. Fushshilat: 26).

Sumber:

  1. Tulisan kajian kristologi Dr. Sanihu Munir, MPH.
  2. Sumber-sumber dari ARIMATEA Pusat
  3. Michael H. Hart. Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Jakarta: Pustaka Jaya, 1994.
  4. Situs-situs resmi kelompok Liberal dan Kristen di internet.

Saftani Muhammad Ridwan, Forum Arimatea Sulawesi Selatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here