Home Perspektif Mengenang Kemerdekaan, Mengenal Penjajah dan Pejuang

Mengenang Kemerdekaan, Mengenal Penjajah dan Pejuang

1465
3
SHARE

Kita semua tentu sepakat bahwa bagi bangsa Indonesia, mengenang kemerdekaan negara RI setiap tanggal 17 Agustus bukanlah karena adanya nilai sakral di dalamnya. Bukan pula untuk menjalankan ritual doa bersama kepada para pahlawan setiap tanggal tersebut. Bukan! Bukan itu hikmah kemerdekaan bagi kita sejatinya. Sebagai makhluk yang berakal dan beragama, ada baiknya kita menjadikan momentum “tujuh belas agustusan” untuk memetik pelajaran berharga dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Kemudian menarik manfaat dari pelajaran tersebut untuk memperbaiki sikap dan perilaku kita dalam perjalanan sejarah yang tengah dan akan kita lalui ke selanjutnya.

Jangan sampai kita jatuh ke dalam lubang sejarah yang sama sebanyak dua kali. Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Mu’min itu tidak terperosok dua kali dalam lubang yang sama!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengenang sejarah kemerdekaan agar kita tidak jatuh kembali ke dalam lubang penjajahan dua kali. Apalagi kalau sampai berkali-kali. Cukuplah sekali kita dijajah oleh bangsa asing di tanah air kita sendiri!

Mengenang kemerdekaan Indonesia, tak bisa tidak, berarti mengenang penjajahan dan para penjajah. Siapakah para penjajah itu dan mengapa mereka dikatakan menjajah Indonesia?

Paling tidak ada empat atau lima negara yang pernah menjajah tanah air Indonesia, yakni Spanyol, Portugis, Belanda, dan Jepang. Di masa Jepang, kita berhasil memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Tapi bukan berarti Indonesia telah merdeka sepenuhnya. Sebab, negara-negara sekutu, yang di belakangnya ada Amerika dan Inggris serta Belanda, masuk ke Indonesia. Jangan dikira kedatangan Sekutu sekadar untuk “mengamankan” kemerdekaan Indonesia. Mereka datang tentu mengemban tugas untuk “mengarahkan” kemerdekaan Indonesia agar tidak melenceng dari garis-garis policy yang telah mereka tetapkan untuk kepentingan mereka. Seperti pemeo: tidak ada makan siang gratis!

Selanjutnya, mari kita berbalik lebih jauh ke masa silam: sebelum masa penjajahan. Jauh sebelum para penjajah tersebut datang, tanah air Indonesia atau nusantara ini telah kedatangan tamu juga dari negeri-negeri jauh. Siapa mereka? Tidak lain adalah kaum Muslimin yang berasal dari negeri-negeri Gujarat (India), Persia, dan Arab. Inilah tiga negeri asal mula masuknya Islam ke Indonesia. Bahkan Buya Hamka, seorang muballigh Islam yang banyak meneliti sejarah, menguatkan pendapat bahwa Islam sudah mulai menyentuh Indonesia sejak abad pertama Hijriah (sekitar abad ke-7 dan 8 Masehi) langsung dari negeri asalnya: Arab!

Kita tidak ingin berpanjang lebar mengupas berbagai teori tentang sejarah kedatangan Islam di Indonesia ini. Yang menarik untuk kita renungkan dalam momentum mengenang kemerdekaan Indonesia saat ini adalah perbedaan antara kedatangan kaum Muslimin dengan kedatangan bangsa-bangsa penjajah ke Indonesia.

Bangsa penjajah datang ke Indonesia dalam rangka kolonialisme dan imperialisme. Mereka datang untuk merampas tanah pribumi, membentuk koloni tersendiri tanpa menghiraukan hak-hak penduduk pribumi. Bangsa-bangsa ini terus menggeser, mempersempit, bahkan kalau perlu membasmi penduduk pribumi dari tanah kediaman mereka sendiri. Itulah yang dikenal dengan istilah kolonialisme. Persis seperti yang dilakukan oleh bangsa Amerika terhadap bangsa Indian yang merupakan penduduk asli di wilayah yang sekarang bernama Amerika.

Bangsa penjajah datang juga untuk merebut dominasi politik dan ekonomi di wilayah-wilayah pendudukan. Mereka datang bukan menjalin hubungan diplomatik dan kerjasama ekonomi yang setara dan adil. Penjajah datang untuk memaksakan siapa yang harus kita angkat sebagai pemimpin, komoditi apa yang harus kita tanam dan kelola dari alam kita, kepada siapa kita harus menjual hasil bumi kita, dan bahkan berapa bagi hasil yang harus kita terima tanpa ada hak tawar-menawar! Semua itu berlangsung di bawah todongan senjata para penjajah. Inilah yang dinamakan Imperialisme.

Ironinya, praktik-praktik imperialisme semacam ini masih berlangsung di zaman yang konon modern dan beradab ini. Kendati ini adalah topik lain.

Akan halnya kaum Muslimin yang berdatangan ke Indonesia; mereka datang secara damai, berdagang dan bermuamalah secara jujur, berdakwah dengan hikmah, berinteraksi dan bersosialisasi dengan akhlaq yang terpuji. Kaum Muslimin pendatang tahu diri sebagai tamu dan mengerti hak-hak tuan rumah. Mereka memahami bahwa perdagangan itu harus dilakukan dengan prinsip kejujuran dan asas sukarela dari kedua belah pihak. Mereka mengerti bahwa dakwah itu adalah kegaitan mengajak dan memanggil, proses penyadaran dan pencerahan, yang harus dilakukan lewat penyampaian ilmu dan kebenaran dengan penuh kesabaran. Mereka sadar betul bahwa interaksi sosial dan akulturasi budaya antara bangsa didasari atas prinsip kesetaraan ummat manusia. Tidak ada kelebihan bangsa Arab atas bangsa Ajam (non-Arab), semuanya adalah anak-cucu Adam.

Firman Allah, yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. 49:13).

Itulah nilai-nilai Islam yang dibawa oleh para pendatang Muslim ke Indonesia sehingga akhirnya mereka diterima tidak hanya di kalangan masyarakat bawah dan rakyat jelata, tapi juga mendapat tempat dan hati di kalangan para bangsawan dan keluarga kerajaan. Mereka berbaur dan menyatu menjadi warga nusantara serta mendapatkan posisi-posisi penting dalam lingkungan kerajaan.

Begitulah proses transformasi politik dan budaya yang diperankan secara elegan oleh kaum Muslimin di Indonesia sehingga akhirnya Islam mampu mendominasi kerajaan dan masyarakat Indonesia. Nilai-nilai Islam itu pulalah yang membentuk karakter pejuang yang kelak membela Indonesia menghadapi kezaliman dan keserakahan para penjajah.

Akhirnya, mengenang kemerdekaan berarti mengenal medan kehidupan dan perjuangan, sekaligus mengidentifikasi siapa lawan dan siapa kawan. Mengenang kemerdekaan berarti mewaspadai kembalinya bangsa-bangsa asing yang punya potensi dan track record sebagai penjajah. Mengenang kemerdekaan berarti mengakrabkan kembali bangsa Indonesia dengan Islam dan kaum Muslimin yang merupakan penebar kedamaian sekaligus pejuang keadilan yang sesungguhnya di muka bumi. Mengenang kemerdekaan berarti menyadari bahwa Islam bukanlah ancaman dan kaum Muslimin yang sejati bukanlah musuh.

Justru orang-orang yang menyebarkan kecurigaan dan ketakutan terhadap Islam dan kaum Musliminlah yang sangat patut untuk diwaspadai sebagai bagian dari skenario asing dan penjajah untuk melemahkan dan kembali “menjajah” bangsa dan tanah air Indonesia. Ini bukan SARA, tapi begitulah fakta sejarah!

Muhammad Yusuf

 

  • Guest

    Sepakat, memang hanya Islam yang mampu menolak semua penjajahan. Penolakan Islam terhadap penjajahan bukan saja pada aspek penjajahan harta benda, melainkan lebih dari itu, Islam menolak penjajahan hingga ke agama para penjajah.

  • Wahyudi Husain

    masya Allah. Semoga Allah menjaga negeri kita dengan memperkuat Islam sebagai benteng dari para penjajah.

  • Reno Rasiwara

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai mengenal Mengenang Kemerdekaan, Mengenal Penjajah dan Pejuang.Benar benar sangat bermamfaat jika kita dapat mengetahui ilmu terbaru mengenai hal hal yang ada di indonesia.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini