Home Kajian Model-model Aksi Perjuangan Sipil

Model-model Aksi Perjuangan Sipil

286
0
SHARE

Model-model Aksi Perjuangan Sipil

Aksi Bela Islam III yang mengambil bentuk berupa doa, orasi, dan ibadah bersama berupa Shalat Jumat di Monumen Nasional (Monas) pada 2 Desember hari ini ternyata hanya sedikit dari puluhan model aksi perjuangan sipil dan ekspresi politik.

Karena dilakukan oleh pihak sipil, maka aksi-aksi perjuangan ini memiliki satu karakter umum yang unik, yaitu tanpa kekerasan dan menghindari bentrok fisik.

Perjuangan sipil tanpa kekerasan dengan bermacam modelnya merupakan tradisi politik yang sangat lazim serta umum di negara-negara dengan tingkat kehidupan demokrasi dan sistem politik yang mapan. Dalam negara dengan kehidupan demokrasi yang maju, partisipasi warga negara dalam mengarahkan kebijakan publik merupakan sumber legitimasi yang penting bagi pemerintah.

Tidak heran bila perjuangan sipil tanpa kekerasan lebih banyak berkembang di negara-negara Barat.

Sebaliknya, negara dengan tingkat demokrasi yang rendah memiliki penghargaan yang juga rendah terhadap partisipasi politik warganya. Tidak heran, perlawanan sipil di negara seperti ini sering dihadapi dengan kekerasan bahkan tidak jarang dibenturkan dengan aparat keamanan yang seharusnya melindungi warga.

Pemerintahan seperti ini cenderung represif serta su’uzh zhonn terhadap aspirasi masyarakat. Tidak jarang, pelaksanaan hak-hak warga berupa aksi tanpa kekerasan itu dilabeli sebagai tindakan makar terhadap penguasa.

Perjuangan sipil berupa tekanan serta tuntutan kepada pihak berwenang atau penguasa dapat menggunakan berbagai model dalam mengekspresikan aspirasi. Baik ekspresi itu dalam skala individu maupun kelompok.

Menariknya, meskipun ada puluhan bentuk dan model, namun semuanya dapat dibagi kepada tiga kategori besar: 1) protes dan persuasi; 2) sikap non-kooperatif; dan 3) intervensi. Kita urai satu persatu dengan menyebutkan contoh-contohnya.

Pertama, model protes dan persuasi. Bentuknya mencakup orasi, petisi, gambar karikatur, slogan, penerbitan jurnal, pengibaran dan penggunaan bendera, aksi doa bersama, penggunaan lagu, parade, pelaksanaan rapat akbar, tindakan walk-out, gerakan mogok bicara, dll.

Kedua, model sikap non-kooperatif. Bentuknya antara lain seperti boikot, gerakan bolos sekolah, pemogokan, pengunduran diri, mengurung diri di rumah dan menolak pajak.

Bentuk lainnya bisa berupa embargo, berimigrasi, boikot mata uang atau perdagangan.

Boikot sendiri bila dirujuk kepada objeknya bisa bermacam-macam dan spesifik kepada kelompok atau pihak tertentu. Ambil contoh boikot produk, produsen, konsumen, distributor, dan lain sebagainya.

Termasuk dalam hal ini ialah mogok petani, serangan industri, mogok ekonomi, boikot terhadap lembaga-lembaga tertentu, duduk massa, deportasi, pemalsuan data diri atau akun, pemutusan jalur komunikasi atau informasi, penarikan petugas resmi, dan penundaan kontrak.

Sebagian dari bentuk-bentuk aksi dalam model kedua ini tidak terbatas pelaksanaannya oleh individu. Negara pun dapat melakukannya, khususnya bila berbentuk aksi formal.

Berikutnya adalah yang ketiga, intervensi. Bentuknya dapat berupa duduk sendiri atau berkelompok di ruang terbuka, invasi tanpa kekerasan, kericuhan tanpa kekerasan, penciptaan pola sosial baru, kerumunan massa di titik tertentu, pembentukan lembaga tandingan, pementasan, pendudukan lahan, dsj.

Aksi blokade, banting harga, pembentukan pasar baru, pembanjiran data, peretasan identitas, adalah contoh-contoh lain dari model terakhir ini.

Apakah tuntutan ummat untuk penegakan hukum yang adil bagi penista agama akan berlanjut dan mengambil bentuk-bentuk lainnya? Kita masih harus menunggu proses hukum yang sedang berjalan. (aforcemorepowerful/ijr)