Home News Lebih Dekat dengan Muhaddits Haramain: Syekh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad

Lebih Dekat dengan Muhaddits Haramain: Syekh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad

1181
0
SHARE

Puluhan tahun namanya menggema dalam berbagai taman-taman surga keilmuan. Kezuhudan dan sifat wara’ yang tampak dari pribadinya seakan mengaburkan kapasitas ilmu yang terpatri dalam dadanya. Namun, Allah ta’ala seakan telah menakdirkan bahwa ilmu dan sifat wara’ akan terus bersanding, timbul tenggelam bersama dalam pelupuk dan pandangan manusia, takkan terpisahkan.

Ya, setidaknya dalam satu dekade lebih ini, bila ditanya “siapakah ulama hadits Tanah Haramain saat ini?” Semua akan ucapkan satu nama sebagai jawaban pasti: Syekh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafidzhahullah.

Al-‘Abbad merupakan satu figur ulama senior yang begitu disegani dan seakan menjadi ikon ilmu dan hadits dunia dari kota ilmu dan iman, Madinah Munawwarah. Syekh ini juga tercatat sebagai salah satu tokoh kunci dalam peletakan dasar-dasar dan pengembangan kampus ulama Universitas Islam Madinah. Sebab, al-‘Abbad tak hanya pernah menjadi wakil rektor dan dosen -yang aktif hingga kini-, namun juga pernah menduduki posisi pejabat rektor antar waktu selama beberapa tahun.

Kini, dengan usia yang telah senja dan fisik yang tidak lagi muda, semangat mengajar dan hapalan ilmu beliau masih tetap terasah, tetap dengan hiasan tawadhu dan kerendahan hati. Majelis ilmu dan hadits beliau dipenuhi oleh para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia.

Ratusan atau sampai ribuan penuntut ilmu yang setia setiap waktu antara Magrib-Isya datang memadati majelis hadits al-‘Abbad. Inilah majelis yang paling ramai dihadiri di Masjid Nabawi. Yang hadir pun bukan hanya penuntut ilmu pemula, para ulama dan masyayikh sekali pun berdesakan di sini demi untuk meraih ilmu atau sekadar mendengarkan nasehat dan petuahnya. Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan berkah pada usia, ilmu dan kontribusinya dalam penyebaran ilmu.

KELAHIRAN

Nama lengkapnya adalah Syekh Muhaddits ‘Allamah Abdul Muhsin b. Hamd al-‘Abbad al-Badr. Delapan puluh tiga tahun lalu beliau dilahirkan, tepatnya pada bulan Ramadhan 1353 H di daerah Zulfy, salah satu provinsi di Arab Saudi.

PERJALANAN MENUNTUT ILMU

Di Zulfy, al-‘Abbad muda memulai menuntut ilmu dari para ulama dan menyelesaikan hapalan Al-Qur’an dari salah satu ulamanya, Syekh Abdullah b. Abdul Rahman al-Gaits rahimahullah. Dia tumbuh besar di tanah kelahirannya hingga menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah.

Pada tahun 1371 H, di usia 18 tahun remaja al-‘Abbad kemudian mengembara ke kota Riyadh untuk menimba ilmu dari para ulama dan masyayikh kibar yang saat itu baru didatangkan dari berbagai penjuru untuk mengajar di Ma’had Ilmi kota Riyadh. Di Ma’had ini dia dengan beberapa sahabatnya menjadi murid angkatan perdana yang belajar dan menuntut ilmu langsung dari para ulama senior, semisal Syekh Abdul ‘Aziz b. Baz rahimahullah.

Setelahnya, dia melanjutkan studi ke Fakultas Syariah Universitas Imam Muhammad b. Su’ud di kota yang sama. Di kampus inilah dan sekaligus di masjid-masjid kota Riyadh dia bisa belajar dan menuntut ilmu di hadapan para ulama Riyadh saat itu, semisal Muhammad b. Ibrahim Alu Syaikh, Abdul ‘Aziz b. Baz, Muhammad al-Amin al-Syinqithi, Abdul Rahman al-Afriqi, Abdul Razzaq ‘Afifi, dll. rahimahumullah. Dari majelis-majelis ulama inilah al-‘Abbad terdidik menjadi pribadi yang luas wawasan dan dalam ilmunya.

MENJADI GURU DAN DOSEN

Tangga pertama bagi al-‘Abbad muda mendapat pengakuan sebagai seorang sarjana Islam terkemuka adalah ketika dia dilantik menjadi mengajar di Ma’had Ilmi kota Buraidah di provinsi Qashim, tahun 1379 H. Setahun kemudian, dia dipindahtugaskan untuk mengajar di almamaternya sendiri Ma’had Ilmi kota Riyadh.

Tepat tahun 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah didirikan, al-‘Abbad dilantik menjadi salah satu dosen di institusi pendidikan tinggi internasional itu. Di samping mengajar, secara formal dia menyelesaikan pendidikan S-2 di Universitas al-Azhar, Kairo. Dari saat itu hingga kini, yaitu kira-kira sepanjang 55 tahun, dia tetap rutin memberikan kuliah dan dikenal sebagai ulama terkemuka di Universitas Islam Madinah. Dalam usia senjanya saat ini pun, dengan tanpa gaji dari kampus dia tetap berjihad dengan ilmu di kampus yang sangat dia cintai itu.

Selain itu, al-‘Abbad juga didaulat untuk memberikan kuliah secara tetap di Masjid Nabawi. Kegiatan rutin ini digelutinya puluhan tahun¬† hingga kini.

AL-‘ABBAD DAN IBN BAZ

Di antara semua guru al-‘Abbad, yang sangat menonjol adalah Syekh Abdul ‘Aziz b. Baz. Keduanya sangat dekat dan akrab. Kedekatan al-‘Abbad dengan Ibn Baz terjalin sejak yang pertama berstatus mahasiswa di Universitas Imam di Riyadh. Hubungan guru-murid ini berkembang menjadi rekanan kerja dalam kebersamaan mereka Madinah, tepatnya di Universitas Islam Madinah.

Dari tahun 1393-1395 H, al-‘Abbad menjadi wakil Syekh Ibn Baz yang saat itu menjabat sebagai rektor kampus kota Nabi, tentunya atas rekomendasi dari Ibn Baz sendiri. Bahkan, setelah Ibn Baz harus meninggalkan jabatannya untuk jabatan mufti umum Arab Saudi, maka pilihan utama penggantinya jatuh pada Syekh Abdul Muhsin al-‘Abbad.

Syekh al-‘Abbad menuturkan, “Syekh Ibn Baz mengatakan padaku, ‘Semalam saya bermimpi melihat seekor onta yang indah. Saya menuntunnya sedangkan engkau menungganginya.” Kemudian saya mentakwilnya dengan kepemimpinan Universitas Islam Madinah.¬† Alhamdulillah, hal itu telah terwujud. Sebab saya pernah menjadi wakil beliau selama dua tahun dan setelah itu saya menjadi pejabat rektor antar waktu selama empat tahun.”

KARYA TULIS

Di sela-sela kesibukannya mengajar, Syekh al-‘Abbad tetap menghasilkan karya tulis yang bermutu tinggi, bukti kedalaman ilmu yang dimilikinya, di antaranya:

  1. 20 Hadis dari Shahih Bukhari
  2. 20 Hadis dari Shahih Muslim
  3. ‘Aqidah Ahlus Sunnnah Waljama’ah terhadap Para Sahabat
  4. Fadhilah Ahli Bait
  5. Fadhilah Madinah
  6. Ijtinaa-u al-Tsamr fii Mushthalah Ahl al-Atsar

Seluruh karya tulis al-‘Abbad telah dikumpulkan dalam satu koleksi yang mencapai delapan jilid dengan judul Kutub wa Rasaa-il ‘Abd al-Muhsin b. Hamd al-‘Abbad al-Badr (bisa didownload disini: http://waqfeya.com/book.php?bid=7670 ).

Syekh juga telah menyelesaikan penjelasan Kutub al-Sittah (Shahih Bukhari, Muslim, Jami’ Tirmidzi, Sunan Abi Daud, Tirmidzi, Nasa-i dan Ibn Majah) di majelisnya di Masjid Nabawi selama lebih dari 20 tahun.

Kini syekh mengulang syarh/penjelasannya dan kembali pada Shahih Muslim. Tempat majelisnya di Masjid Nabawi adalah perluasan arah barat dengan jadwal setiap hari antara Magrib-Isya, kecuali malam Jumat atau waktu-waktu libur seperti liburan musim panas dan libur semester kuliah.***

Maulana La Eda, Lc., Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Islam Madinah, KSA.