Home News Ternyata, Muslim Merupakan Korban Intoleransi Beragama di Banyak Belahan Dunia

Ternyata, Muslim Merupakan Korban Intoleransi Beragama di Banyak Belahan Dunia

832
0
SHARE

Kendati populasi Muslim dunia relatif bertambah, namun intoleransi beragama terhadap komunitas Muslim justru menjadi gejala global yang meningkat akhir-akhir ini. Sejumlah laporan tentang perlakuan diskriminatif terhadap Muslim muncul dari berbagai belahan dunia.

Dari Amerika Serikat, the Council on American-Islamic Relations merilis hasil surveinya Jumat (31/10) silam. Laporan tersebut mengungkap bahwa siswa Muslim di California mendapat perlakuan tidak baik daripada teman-temannya dari komunitas yang lain. Laporan ini didasarkan pada survei sejak tahun 2014 di seluruh negara bagian yang melibatkan 600 lebih siswa Muslim dengan rentang usia 11-18 tahun.

Pelecehan dan diskriminasi itu meningkat pasca Peristiwa 11 September. Bentuk diskriminasi yang digambarkan sangat beragam, seperti insiden ketidaknyamanan di kelas, pelecehan di dunia maya, reaksi negatif terhadap pemakaian jilbab dan tuntutan pedoman syariat lainnya, serta sikap negatif bahkan dari tenaga pendidik.

“Kita benar-benar ingin memastikan bahwa kita telah memenuhi kebutuhan anak muda kita, generasi muda,” ujar Hanif Mohebi, Direktur Eksekutif the Council on American-Islamic Relations San Diego, sebagaimana dikutip latimes.com. “Jika kita tidak melakukan itu, kita tidak hidup di tempat yang baik.” tambahnya.

Dari China, the Supreme People’s Court menerbitkan pasal yang tendensius. Peraturan berupa amandemen terbaru hukum kriminal yang diberlakukan efektif 1 November 2015 ini mengkriminalkan tindakan “forcing [someone] to wear terrorist, extremist clothing.”

Sayangnya, dalam amandemen tersebut tidak ada rincian yang tegas tentang apa yang distigmakan sebagai “pakaian teroris dan ekstremis itu.”

Beijing dalam beberapa tahun ini mengeluarkan sejumlah peraturan yang menekan kebebasan beragama Muslim di China, termasuk pelaksanaan ritual ibadah serta penampilan dan cara berpakaian yang sangat privat. Dalam beberapa kasus, puasa Ramadhan, pemakaian cadar bagi wanita, serta memelihara jenggot terlarang dalam peraturan resmi Pemerintah.

Fenomena intoleransi terhadap Muslim lainnya diungkapkan oleh sejumlah tokoh ekonomi dan bisnis dunia. Lord Meghnad Desai, ekonom kawakan kelahiran India yang bermukim di Inggris dan menjabat anggota parlemen Inggris mengkritik kondisi sosial politik di negara kelahirannya.

Desai menyorot sikap para politisi Bharatiya Janata Party (BJP), partai yang kini sedang berkuasa di India. Dalam penilaiannya, Desai mengkritik sikap menteri-menteri BJP yang “anti-Muslim, [tidak] terbuka dan [tidak] jelas.”

Bersama tokoh ekonomi dan bisnis dunia lainnya, seperti N.R. Narayana Murthy dan Kiran Mazumdar Shaw, Desai khawatir bahwa kondisi intoleransi beragama tersebut membahayakan masa depan ekonomi India. (Msc/As)