Home Perspektif Palestina Menjelang Ramadhan

Palestina Menjelang Ramadhan

567
0
SHARE

Tanggal 27 Mei 2015, Teroris Zionis kembali membombardir wilayah Gaza, Palestina. Sebuah ‘kebiasaan’ nyeleneh dari sebuah komunitas teroris dan perampok wilayah Palestina. Setiap menjelang Ramadhan mereka akan menyerang wilayah Gaza.

Salah satu analisis yang layak mendapat perhatian menyangkut kebiasaan tak lazim tersebut adalah sebagai berikut:

Israel telah dikenal dengan metode perencanaan tindakan untuk 100 tahun ke depan sejak sekarang. Dan kita juga mengetahui bahwa pada tahun 2005 perlawanan rakyat Palestina membuahkan hasil dengan terusirnya pasukan teroris zionis dari tanah Gaza. Dan sejak itu, Israel menganggap bahwa tanah tersebut adalah hak mereka dan wajib direbut kembali dari rakyat Palestina dengan cara apa pun. Dan menganggap siapa pun yang tinggal di wilayah Gaza adalah bagian dari penduduk Palestina.

Teroris Zionis Israel dengan sejarah panjang tangan berdarah mereka tentu bisa saja melangsungkan perang secara terus menerus untuk membumihanguskan setiap makhluk bernapas yang ada di Gaza. Namun mereka pun tentu berpikir bahwa hal tersebut tidaklah begitu praktis dan efisien baik dari segi waktu maupun biaya. Untuk itu mereka mencoba menempuh cara lain, yaitu dengan menghancurkan mental penduduk Gaza.

Cara yang mereka tempuh adalah dengan menjatuhkan mental cinta tanah air dari dada-dada rakyat Palestina khususnya penduduk Gaza. Dengan bantuan dari Pemerintahan Mesir, Israel mencoba segala cara yang mereka bisa untuk ‘mencekik leher’ penduduk Gaza dan menutup seluruh akses ke sumber-sumber kebahagiaan dan ketenangan hidup dan memastikan apa pun bentuk sumber kebahagiaan itu harus berakhir. Israel tahu bahwa beberapa event kaum Muslimin seperti Ramadhan dan dua hari ‘Id (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha) ataupun kesempatan tamasya untuk sekadar melepas penat dan letih pada masa liburan adalah merupakan sumber-sumber utama kebahagiaan penduduk Gaza.

Bagi Israel, kondisi depresi di bawah tekanan harus terus mereka pelihara dan dijadikan salah satu agenda utama. Dengan tujuan agar penduduk Gaza suatu saat nanti jenuh dengan kondisi tak jelas yang mereka hadapi. Dan sayangnya, strategi tersebut tampaknya berhasil.

Andaikan Pembaca punya kesempatan untuk sekadar ngobrol dengan pemuda-pemuda Gaza, maka rata-rata mereka menantikan kapan perbatasan Mesir akan dibuka untuk mereka seberangi menuju tempat yang lebih tenteram. Mereka merasa letih dengan keadaan demikian, mereka ingin meninggalkannya. Meninggalkan tanah kelahiran mereka dengan membawa angan-angan andaikan mereka tinggal di sebuah wilayah di luar bumi ini.

Analisisi ini saya reproduksi dari FB Mohammed Zeyara, seorang aktivis dakwah di Toronto, USA.
Semoga analisis ringkas ini bisa membuka mata kita dan memberikan perspektif baru tentang apa yang sesungguhnya terjadi di Gaza, Palestina.

Allahummanshur al muslimiina al madzhlumiina fii kulli makaan.[/km]