Home Perspektif Pasca Pemilu dan Tanggung Jawab Umat Islam

Pasca Pemilu dan Tanggung Jawab Umat Islam

707
0
SHARE

Saat itu sekitar tahun ke-5 H, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama rombongan pasukannya dalam perjalanan pulang dari perang Banil Musthaliq. Di sebuah persinggahan, rombongan besar ini melepas lelah sambil menikmati air dari sebuah sumur. Tanpa sebab yang jelas, seorang sahabat dari kelompok Muhajirin menendang kaki sahabat lain dari kelompok Anshar, persis di tempat sumber air yang menjadi pusat kerumunan pasukan.

Masih diselimuti lelah akibat perang dan perjalanan, insiden kecil itu berhasil memantik sentimen kelompok. Persoalan pribadi yang awalnya hanya melibatkan individu dari dua kelompok yang berbeda tersebut terseret kepada fanatisme golongan.

Tokoh Anshar memanggil anggota kelompoknya, “Wahai kaum Anshar, kemarilah!”

Tidak mau kalah, tokoh Muhajirin membalas dengan memanggil pula anggota kelompoknya, “Wahai kaum Muhajirin, kemarilah!”

Rasulullah yang sedang beristirahat mendengar teriakan dua kelompok tersebut. Dari nada suara yang memanggil itu, Nabi segera paham adanya gelagat yang tidak baik.

“Kenapa aku mendengarkan seruan Jahiliyah?” tegur Rasulullah. Setelah Nabi menerima laporan tentang peristiwa yang terjadi, beliau segera mengelurkan instruksi: “Tinggalkanlah seruan-seruan itu, karena dia adalah seruan busuk!”   

Muhajirin adalah sebutan buat orang-orang yang hijrah meninggalkan keluarga, kampung halaman, harta, dan segala miliknya demi mendukung dakwah Nabi di Medinah. Di sisi lain, Anshar adalah orang-orang Medinah yang dalam keterbatasan mereka bersedia menampung, melayani, dan menanggung kehidupan saudara-saudara mereka yang hijrah ke Medinah, termasuk Rasulullah. Dua gelar ini menunjukkan prestasi dan kehormatan.

Namun, ketika gelar “Muhajirin” dan “Anshar” yang mulia ini disalahgunakan untuk sentimen kelompok yang sempit, maka “Muhajirin” dan “Anshar”, dalam bahasa Nabi, menjadi identik dengan Jahiliyah. “Muhajirin” dan “Anshar” menjadi gelar Jahiliyah ketika diselewengkan untuk menjadi simpul perpecahan kaum Muslimin.

Episode selanjutnya semakin memperjelas siapa sesungguhnya musuh kaum Muslimin yang utama: kaum Munafiqin. Agendanya jelas: merusak ukhuwah, memutus silaturahim, memicu konflik, dan memecah-belah persaudaraan.Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong kaum Munafiqin yang juga ada dalam rombongan pasukan tidak bisa menyembunyikan belangnya.

“Benarkah orang Muhajirin telah berani menantang kita!?” ketus Abdullah bin Ubay. “Bila kita sampai di Medinah nanti, orang-orang terhormat akan segera mengusir orang-orang hina.” Begitu bahasa orang Munafik ini mengancam.

*****

Sebagai sebuah bangsa, kita baru saja menyelesaikan satu agenda politik kebangsaan yang penting. Pemilihan anggota legislatif disusul pemilihan presiden dan wakilnya. Dalam kaca mata kepentingan umat, kita memang belum punya banyak pilihan. Kita masih lebih banyak memilih dengan pertimbangan yang paling minim mudhoratnya ketimbang yang paling besar maslahatnya. Kualitas pemilu kita masih sangat jauh dari harapan.

Akibatnya, dalam menjalankan proses pemilu, umat masih lebih sering berbeda baik dalam mempersepsikan realitas politik yang ada apalagi dalam menentukan pilihan. Terlebih di tengah pudarnya kepemimpinan ulama di tengah umat.

Namun, dalam situasi dan kondisi yang kompleks tersebut, kita masih punya visi keumatan yang jelas: ukhuwah islamiyah. Solidaritas berdasar keimanan yang juga mengikat kita sebagai anak bangsa.

Pilihan dan ijtihad politik boleh berbeda, tapi ukhuwah berdasar keimanan tak boleh pudar. Perbedaan dalam menimbang maslahat dan mudorat bisa tak sama, tapi kepentingan umat tetap harus jadi prioritas utama. Persatuan umat dan silaturahim tetap dan harus selalu jadi agenda bersama.

Sebagai umat, kita adalah bagian terbesar dari penduduk negeri Allah ini. Saham umat Islam dalam sejarah, perjuangan, dan revolusi kemerdekaan Indonesia juga terbesar. Setelah kemerdekaan, pembangunan negeri ini banyak diukir oleh tangan-tangan manusia yang lahir dari rahim umat.Dengan demikian jelas bahwa kebaikan negeri ini adalah kebaikan bagi umat Islam.Sebaliknya, kerusakan negeri ini adalah kerugian bagi umat Islam.

Sebagai anak bangsa terbesar, Indonesia adalah amanah dan tanggung jawab yang harus kita jaga untuk kita antar menuju ridha ilahi. Semoga.*