Home News Sawfa Nabqa Huna Bergema dari Makassar

Sawfa Nabqa Huna Bergema dari Makassar

2598
0
SHARE

Bertepatan dengan HUT Proklamasi RI ke-69, 17 Agustus 2014, Ormas Wahdah Islamiyah mengadakan tabligh Akbar sekaligus silaturrahim kader dan simpatisan. Tampil sebagai pembicara utama Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA. Kegiatan tahunan pasca lebaran Idul Fitri ini bertempat di aula asrama putri Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar dan dihadiri ribuan peserta Muslim dan Muslimah dari berbagai kalangan.

Dalam orasinya, Ustadz Zaitun menerangkan bahwa suasan tabligh hari ini diliputi serangkaian kejadian besar, baik di dalam maupun luar negeri. Di antaranya serangan zionis ke Gaza, deklarasi ISIS berikut fitnah atas kaum Muslimin dengan memanfaatkan isu ISIS, hingga polemik sengketa pilpres.

Ulama muda jebolan Universitas Islam Madinah ini menjelaskan panjang lebar tentang konsep negara dalam Islam. Hal ini menurutnya penting diterangkan kepada kaum Muslimin menyusul banyaknya pertanyaan terkait ISIS dan adanya isu bahwa agresi Zionis ke Gaza hanyalah urusan internal penduduk Gaza.

Dalam kesempatan ini, Ustadz Zaitun juga mengingatkan tentang sejarah dihapusnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang kelak menjadi Pembukaan UUD 1945. Menurutnya, hal ini merupakan kecelakaan sejarah sebab umat Islam kehilangan salah satu unsur penting dalam konstitusi yang mengikat untuk ditegakkannya syariat Islam.

“Ada yang berpendapat bahwa dihapusnya tujuh kata ‘… dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ merupakan bukti kebesaran hati para tokoh umat Islam waktu. Ini tidak benar,” tegasnya berapi-api.

Mengakhiri orasinya, Ustadz Zaitun melantunkan nasyid Sawfa Nabqa Huna yang mengandung spirit perjuangan dan cinta tanah air dalam bingkai Islam.

Berikut ini teks Nasyid Sawfa Nabqa Huna dan terjemahannya:

سوف نبقى هنا .. كي يزول الألم
سوف نحيا هنا .. سوف يحلو النغم

موطني موطني .. موطني ذا الإباء
موطني موطني .. موطني يا أنا

رغم كيد العدا .. رغم كل النقم
سوف نسعى إلى .. أن تعم النعم
سوف نرنو إلى .. رفع كل الهمم
بالمسير للعلا ومناجاة القمم

فلنقم كلنا .. بالدواء والقلم
كلنا عطف على .. من يصارع السقم
فلنواصل المسير .. نحو غايات أهم
ونكون حقا .. خير أمة بين الأمم

سوف نبقى هنا .. كي يزول الألم
سوف نحيا هنا .. سوف يحلو النغم

كم سهرنا من ليالي .. للصباح لا ننم
كم عراقيل كسرنا .. كم حفظنا من رزم
كم جسور قد عبرنا .. كم ذرفنا من حمم
نبتغي صيد المعالي .. نبتغي رأس الهرم

نقضي ساعات طوال .. نستقي علم الأمم
نستهين كل غال .. كي نحقق الحلم
إن سئمنا لا نبالي .. فلنسير للأمال
إن قمة الجبال .. تستحق لا جرم

سوف نبقى هنا .. كي يزول الألم
سوف نحيا هنا .. سوف يحلو النغم

يا نجوم السماء .. يا عبائق النسم
يا سحائب الرجاء.. يا طيور الحرم
يا رعود الشتاء .. يا جميع الأنام
إشهدو هذا المساء .. إنني قلت القسم
إشهدو هذا المساء .. إنني قلت القسم

سوف نبقى هنا .. كي يزول الألم
سوف نحيا هنا .. سوف يحلو النغم
Kita akan terus berada di sini
Hingga hilang penderitaan
Kita akan terus hidup di sini
Hingga menjadi indah irama kehidupan

Negriku ….negriku… negriku yang hebat
Negriku …negriku…negriku adalah aku

Betapapun konspirasi dan permusuhan
Kita terus berjuang menebar kebaikan
Dan terus membangkitkan semangat juang
Untuk menuju ketinggian dan meraih kemuliaan

Kita semua harus bangkit
Dengan pena dan obat
Kita semua peduli pada para penderita
Maka kita meneruskan perjalanan
Menuju tujuan yang lebih besar
Sehingga kita benar-benar
Menjadi ummat terbaik di dunia

Kita akan terus berada di sini
Hingga hilang penderitaan
Kita akan terus hidup di sini
Hingga menjadi indah irama kehidupan

Berapa lama kita selalu begadang
Tanpa tidur sampai pagi
Berapa banyak rintangan telah kita lewati
Dan berapa banyak diktat telah kita hafalkan

Berapa banyak lembah telah kita sebrangi
Dan betapa banyak peluh yang bercucuran
Memburu kemuliaan . . . dan mencari ketinggian

Kita habiskan waktu yang sangat panjang
menuntut ilmu berbagai bangsa
kita habiskan semua yang berharga
agar dapat mewujudkan cita cita
Bila rasa jemu datang kita tidak peduli
Dan terus berjalan mewujudkan harapan
untuk mencapai puncak gunung
memang mahal harganya

Kita akan terus berada di sini
Hingga hilang penderitaan
Kita akan terus hidup di sini
Hingga menjadi indah irama kehidupan

Wahai bintang bintang langit
Wahai angin yang sepoi sepoi
Wahai awan-awan harapan
Wahai merpati Masjidil Haram
Wahai petir-petir musim dingin
Wahai seluruh manusia

Saksikanlah di siang ini
Saya menyampaikan sumpah setia
Saksikanlah di siang ini
Saya menyampaikan sumpah setia

Kita akan terus berada di sini
Hingga hilang penderitaan
Kita akan terus hidup di sini
Hingga menjadi indah irama kehidupan.

 

Wahyudi Husain, Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin