Sejarah Taiwan dan Sejarah Indonesia

    240
    0
    SHARE

    Sejarah Taiwan dan Sejarah Indonesia

    Seorang dosen sedang dalam perjalanan menuju suatu kampus, untuk mengajarkan mata kuliah Pancasia di sore harinya. Dia sedang di Stasiun Manggarai, menunggu kereta menuju Tanah Abang. Sambil mengenakan earphone, dia memutar file audio dalam bahasa asing untuk mendengarkan sejarah kaum-kaum terdahulu.

    Ketika sedang berdiri menunggu di peron, si dosen melihat ada orang agak tua berwajah seperti wajah orang Jepang yang mondar-mandir di depannya, sambil sesekali melihat si dosen. Si dosen menduga, orang tua ini ingin bertanya sesuatu, lalu dia melepas earphone-nya. Benar saja, si orang tua seperti Jepang ini langsung mendekati si dosen dan mulai bertanya kepadanya.

    “Apa kereta ini akan ke Sudirman?”, tanya si orang tua ke si dosen sambil tersenyum dengan dialek Indonesia yang aneh dan kurang lancar (karena kurang fasih berbahasa Indonesia), ingin meyakinkan dirinya akan kereta yang akan masuk ke peron nomor 5. “Bukan Pak, ini ke Jakarta Kota dulu, di belakang kereta ini yang akan ke Sudirman. Nanti Bapak sama saya.”, kata si dosen.

    Kemudian terjadi perbincangan ringan antara si orang tua dengan si dosen. Ternyata dia orang Taiwan dan sudah berumur 77 tahun, yang setiap bulan berkunjung ke Indonesia untuk melakukan suatu urusan. Dia sudah sejak lama pulang dan pergi Indonesia-Taiwan hampir setiap bulan.

    Karena penasaran, si dosen memberanikan diri menanyakan perihal wajah mirip Jepang itu, padahal ternyata si orang tua itu asli Taiwan. Dia bilang ibunya orang Jepang. Si dosen heran, bukankah Taiwan itu bagian dari Cina, kenapa ada orang Jepang di sana?

    Si orang tua itu bilang, bahwa Taiwan itu dulunya adalah bagian dari Jepang sejak lama. Bahkan orang-orang tua Taiwan yang berumur 70 tahun ke atas, semua berbahasa Jepang, katanya. Setelah Hiroshima dibom atom oleh Amerika dan menyerah, maka Taiwan ingin dipisahkan dari Jepang, dan seolah akan diserahkan ke Cina.

    Si orang tua itu bilang, biasalah Amerika, kerjanya merusak sejarah dan negara. Taiwan sama seperti Indonesia, barang-barang teknologi kebanyakan dari Jepang (85%) bukan dari Eropa atau Cina. Tapi karena setelah perang saja, maka semua urusan teknologi dan politik mau ditarik-tarik ke Cina, seperti yang terjadi di Indonesia yang juga ditarik ke Cina saat ini.

    Dia menambahkan lagi, secara ekonomi Taiwan juga sama seperti Indonesia. Para pebisnis di Taiwan itu ambil uang dari bank-bank Taiwan, tapi bawa kabur uangnya ke Cina. Sama seperti Indonesia, katanya, yang uang diambil dari Indonesia dibawa ke Singapura.

    Pembicaraan pun berakhir, karena kereta ke Sudirman Stasiun (yang juga ke Stasiun Tanah Abang) sudah datang, dan mereka berdua naik kereta itu. Si orang tua Taiwan berwajah Jepang itu pun turun di Stasiun Sudirman, sementara si dosen lanjut ke Stasiun Tanah Abang.

    Si dosen mendapatkan tema bagus untuk mengajar kuliah Pancasila malam nanti, karena materinya memang tentang Sejarah Pancasila. Si dosen akhirnya di kelas memaparkan pentingnya mempelajari sejarah Indonesia secara objektif, dan menceritakan hasil diskusi dengan si Jepang-Taiwan tadi.

    Si dosen juga menceritakan tentang pemberitaan (dan pencitraan) pemerintah suatu negara ke rakyatnya sendiri itu kadang bias, sebagai mana terjadi saat ini di Indonesia. Rakyat diberi gambaran seolah pemerintah Indonesia dengan Cina tidak ada hubungan khusus dan tidak ada tendensi ditarik-tarik ke Cina, padahal pandangan orang Taiwan (yang mewakili pandangan internasional) berbeda sama-sekali dengan pemberitaan ke dalam itu.

    Si dosen juga menambahkan tentang pentingnya mempelajari dengan detil tentang apa yang terjadi di semua sidang BPUPKI, Proklamasi terasa seperti dadakan dan tanpa persiapan (apakah tidak disiapkan BPUPKI), Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 (apakah itu tanggal Proklamasi yang direncanakan BPUPKI), kenapa diculik sebelum Proklamasi (apa yang terjadi), dan sebagainya. Kuliah Pancasila di hari itu pun berakhir dengan baik dan cukup inspiratif, baik untuk si mahasiswa mau pun si dosen.

    Yumarsono Muhyi, ST, MM, M.Kom.

    Stasiun Mangarai, Jakarta

    Senin, 26 November 2016