Home Kajian Sikap Husain ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair terhadap Khilafah Yazid ibn...

Sikap Husain ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair terhadap Khilafah Yazid ibn Mu’awiyah [2-2]

871
0
SHARE

KEDUA, SIKAP ABDULLAH IBN ZUBAIR RADHIYALLAHU ANHUMA

1. Gambaran Sikap Abdullah ibn Zubair

Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma tidak rela dengan kepemimpinan Yazid sehingga dia tidak membaiatnya. Dia lalu kembali menuju Mekah. Di lain pihak, Yazid lantas mengirim pasukan untuk membunuhnya. Akan tetapi, Yazid wafat pada rentang waktu tersebut sebelum pasukan yang ia kirim dapat menyelesaikan tugas mereka. Yazid sendiri telah menunjuk putranya, Mu’awiyah ibn Yazid sebagai khalifah untuk menggantikannya; yang tampaknya menderita sakit hingga wafat. Mu’awiyah II ini berkuasa hanya sekitar 40 hari tanpa sepat menunjuk pengganti. Keadaan mereka menjadi sangat sulit. Terlebih, Ibn Zubair telah dibaiat sebagai khalifah. Semua negeri saat itu telah memberikan baiatnya, selain Yordania dan Damaskus.

Ibn al-Jauzi menulis mengenai Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma, sepeninggal Yazid ibn Muawiyah, yang memproklamirkan kepemimpinan dengan sebutan Amirul Mukminin. Dia mengusai para pegawai pemerintahan dan dapat mewujudkan stabilitas negara; kecuali sekelomok orang di Syam, karena mereka telah membaiat Marwan. (Al-Muntazham fii Tarikh al-Muluk wa al-Umam, 6: 138).

Karena otoritasnya yang telah kokoh, dalam fikih Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ibn Zubair telah secara sah menjadi Amirul Mukminin. Kekuasaannya menguat, sampai-sampai pemimpin pasukan yang dikirim oleh Yazid untuk memerangi Ibn Zubair sebelum gugurnya sudah berkeinginan untuk membaiatnya sebagai khalifah. Demikian juga Marwan ibn Hakam di Damaskus, sebenarnya telah  berniat untuk membaiat Ibn Zubair. Faktanya, dia menjadi Amirul Mukminin selama sembilan tahun. Selama itu, dia telah mengirim para petugasnya ke pelbagai penjuru untuk memimpin shalat, memungut kharaj (pajak), dan memerintah di daerah-daerah.

Ibn Katsir menulis, Ibn Zubair mengutus Abdullah ibn Yazid al-Anshari ke Kufah untuk memimpin shalat; Ibrahim ibn Muhammad ibn Thalhah ibn Ubaidillah untuk mengumpulkan pajak, dan mempercayakan Kufah (dan Basrah) kepadanya. Dia juga mengirim utusan kepada warga Mesir yang kemudian memberikan baiat mereka kepadanya, lalu mengangkat Abdurrahman ibn Juhdum sebagai gubernur. Seluruh Jazirah dia kuasai. Dia mengangkat Harits ibn Abdillah ibn Abi Rabi’ah sebagai gubernur Basrah, mengirim utusan kepada warga Yaman dan Khurasan yang kemudian memberikan baiat mereka kepadanya. (Al-Bidayah wa al-Nihayah, 11: 174).

2. Kebenaran Sikap Abdullah ibn Zubair dan Keterangan Ulama tentang Hal Itu

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Abdullah ibn Zubair telah sah menjadi Amirul Mukminin berdasarkan baiat mayoritas masyarakat negeri kaum Muslim. Sebaliknya, mereka yang memeranginya dari kalangan Umawiyin (pendukung keluarga Muawiyah) dll. adalah kelompok yang melawan dan memberontak terhadap pemerintahan yang sah. Demikian pandangan Ibn Hazm.

Ibn Hazm menulis, “Mengenai Marwan (ibn Hakam), kami tidak ketahui ia memiliki cela sebelum ia khuruj (berontak) terhadap Amirul Mukminin Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma.” (Al-Muhalla bi al-Atsar, 1: 221).

Di tempat lain, Ibn Hazm menulis, “Kami memerangi kaum Musyrik di mana saja kami temui, kecuali jika berada di Masjidil Haram. Jika kami konsisten melaksanakan aturan ini, kami yakin bahwa kami sungguh telah mentaati Allah Ta’ala dalam setiap yang ia perintahkan dalam urusan ini. Siapa yang menyelisihi tindakan ini, sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala setidaknya dalam salah satu dari dua ayat, dan hal itu haram pada asalnya. Dan sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa tindakan Amirul Mukminin Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma yang didahului diserang oleh kalangan fasik di Masjidil Haram, yakni Yazid, Amr ibn Said, Hushain ibn Numair, Hajjaj, dan yang mengirim mereka, atau menyertai mereka –dari pasukan sultan- Ibn Zubair melawan mereka untuk melindungi dirinya; dan dia telah bertindak benar dalam hal ini.” (Ibid., 11: 149).

Dia juga menulis mengenai ‘Perang Mekah’, “Hushain ibn Numair, Hajjaj ibn Yusuf, dan Sulaiman ibn Hasan al-Jiyani menyerang Masjidil Haram –semoga Allah melaknat mereka semua- melakukan perusakan dan melecehkan kehormatan Ka’bah. Di antara mereka ada yang melempari Ka’bah dengan manjaniq (alat pelontar batu besar) -yaitu si fasik Hajjaj- membunuh Amirul Mukmini Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma di dalam Masjidil Haram, juga Abdullah ibn Shafwan ibn Umayyah radhiyallahu anhu yang bergantung di kelambu Ka’bah.” (Ibid., 11: 331).

Imam Nawawi menulis dalam Syarh Sahih Muslim,“Mazhab Ahlul Haqq bahwa Ibn Zubair telah dianiaya, dan bahwa Hajjaj dan kawan-kawannya telah memberontak (khuruj) kepadanya.” (Al-Minhaj, 16: 99).

Asma binti Abu Bakar radhiyallahu anhuma, ibunda Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma sendiri mendukung sikap putranya itu. Ini tampak dari rekam percakapan mereka. Abdullah berkata kepada ibunya,“Wahai ibunda, orang-orang meninggalkanku, bahkan juga anak dan istriku. Pendukungku tidak tersisa kecuali sedikit, yang mereka juga tidak mampu melawan kecuali kesabaran sesaat. Sementara kelompok itu memberiku dunia. Bagaimana pandangan ibunda?”

“Engkau wahai anakku, demi Allah, lebih tahu tentang dirimu. Jika menurutmu engkau benar, maka lanjutkanlah. Kawan-kawanmu telah terbunuh karenanya. Pendukung-pendukungmu tidak mungkin mengimbangi pendukung-pendukung Bani Umayyah. Jika engkau hanya menginginkan dunia, engkaulah seburuk-buruk hamba Allah. Artinya engkau telah membinasakan dirimu sendiri serta orang-orang yang berperang bersamamu. Jika engkau katakan, aku benar namun ketika kawan-kawanku dihina aku menjadi lemah; maka seperti itu bukanlah tindakan orang merdeka atau orang yang punya agama. Berapa lama pula engkau akan hidup di dunia? Terbunuh itu lebih baik,” jawab Asma.

Abdullan ibn Zubair lalu mendekat kemudian mencium kepala ibunya. Katanya, “Inilah pendapatku. Tapi aku suka mendengar pendapatmu yang akan menambah wawasanku. Lihatlah wahai bundaku, sungguh aku akan terbunuh sejak hariku ini. Maka, hendaklah engkau tidak terlalu bersedih dan berserah dirilah kepada putusan Allah. Sungguh anakmu ini tidak akan menyengaja melakukan kemungkaran, perbuatan keji, melampaui hukum agama, dan tidak akan secara sengaja menganiaya seorang Muslim maupun mu’ahad (kafir yang diberi janji perlindungan).”

“Ya Allah, sungguh kukatakan ini bukan untuk mensucikan diriku sendiri, akan tetapi ucapan duka cita bagi ibuku agar ia terhibur denganku.”

Lalu kata ibunya, “Aku sungguh berharap agar kesabaranku mengenaimu berbuah kebaikan. Keluarlah, hingga aku melihat sampai di mana urusanmu berjalan.”jawab Abdullah,“Wahai ibunda, jangan meninggalkan doa buatku sebelum dan setelahnya.”kata Asma,“Aku tidak akan pernah meninggalkannya.”

Kemudian Asma berdoa, “Ya Allah, kasihanilah shalat-shalat yang panjang itu di malam yang panjang, ratapan serta haus (puasa) di pinggiran Medinah dan Mekah, serta baktinya kepada ayahnya dan kepadaku. Ya Allah, sungguh telah kupasrahkan dia kepada putusan-Mu atasnya. Aku rela terhadap ketetapan-Mu. Anugerahkan padaku melalui Abdullah pahala golongan orang yang bersyukur dan sabar.” Abdullah kemudian mendekat lalu mencium ibunya radhiyallahu anhum ajma’in. (Ibn Maskawaih, Tajarub al-Umam wa Ta’aqub al-Himam, 2: 244-245; Ibn Katsir, 8: 364).

3. Kalangan yang Menghalangi Hal Itu

Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhuma dikaitkan dengan pandangan bahwa Ibn Zubair telah melakukan pemberontakan terhadap Bani Umayyah.

Ibn Asakir menulis dalam Tarikh Dimasyq bahwa Ibn Umar berkata, “Tidak kudapati pada diriku keresahan mengenai umat ini seperti keresahan yang aku temukan pada diriku saat harus memerangi kelompok pemberontak ini, sebagaimana yang Allah perintahkan.” Kata Hamzah (ibn Abdillah ibn Umar), “Kami berkata kepadanya, ‘Siapkah kelompok pemberontak yang anda maksud itu?”Jawab Ibn Umar, “Ibn Zubair telah melakukan pemberontakan terhadap kaum itu, keluar dari rumah-rumah mereka dan mencabut janji mereka.” (Tarikh Dimasyq, 31: 193).

Kisah riwayat ini memiliki beberapa kejanggalan dalam matannya, al.:

Pertama, Ibn Zubair radhiyallahu anhuma belum pernah memberikan janji setia kepada Bani Umayyah, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa dia melanggar janjinya.

Kedua, kedudukan Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma yang disebutkan oleh Ibn Umar sendiri tidak koheren dengan kemudian menjadikannya golongan pemberontak yang ia sampai merasa mengeluh karena tidak memeranginya.

Kata Ibn Umar saat melintasi Ibn Zubair yang sedang disalib, kata Abu Nawfal, “Aku melihat Abdullah ibn Zubair di jalan mendaki Medinah, kemudian kaum Quraisy melintasinya dan sekelompok orang, hingga Abdullah ibn Umar. Dia singgah kemudian berkata, ‘Assalamu alaika Abu Khubaib, Assalamu alaika Abu Khubaib, Assalamu alaika Abu Khubaib; bukankah demi Allah aku sungguh telah melarangmu dari hal ini, bukankah demi Allah aku sungguh telah melarangmu dari hal ini, bukankah demi Allah aku sungguh telah melarangmu dari hal ini. Tidakkah demi Allah, kamu, sebagaimana yang aku tahu, adalah ahli puasa, ahli shalat, dan gemar menyambung silaturrahim. Demi Allah, bila ada umat yang mana engkau yang paling buruk, adalah ummat yang terbaik.” (HR. Muslim, no. 2545).

Ketiga, Ibn Umar tidak membaiat Marwan ibn Hakam, tidak juga anaknya Abdul Malik saat Ibn Zubair berkuasa. Lalu, bagaimana mungkin terbayang dia menyertai mereka dalam memerangi Ibn Zubair, sementara dia sendiri belum mengakui kepemimpinan mereka?

Said ibn Harb al-‘Abdi berkata, “Aku duduk bersama Abdullah ibn Umar di Masjidil Haram di zaman kekuasaan Ibn Zubair. Tokoh-tokoh di bawah ketaatan Ibn Zubair adalah tokoh Khawarij, Nafi’ ibn Azraq, Athiyah ibn Aswad, dan Najdah. Mereka atau sebagian mereka kemudian mengutus seorang pemuda kepada Abdullah ibn Umar. Katanya kepada Ibn Umar, ‘Apa yang menghalangi anda untuk membaiat Ibn Zubair sebagai Amirul Mukminin?’ Aku melihat saat dia mengacungkan tangannya yang bergetar karena fisik yang sudah lemah, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, aku sungguh tidak akan memberikan baiatku kepada satu kelompok dan aku menolak untuk jamaah (yang lain).” (Baihaqi, Al-Sunan al-Kubra, no. 16809).

Ibn Umar belum mengakui kepemimpinan seorang pun. Tidak Ibn Zubair, tidak juga Umawiyyin (keluarga Bani Umayyah) sebelum bersatunya pendapat kaum Muslim. Ibn Umar juga tidak mengakui kepemimpinan Bani Umayyah hingga bersatunya pendapat kaum Muslim pada Abdul Malik pasca terbunuhnya Ibn Zubair.

Kata Abdullah ibn Dinar, “Aku melihat Ibn Umar saat orang-orang telah sepakat kepada Abdul Malik berkata, ‘Telah tertulis, aku mengaku untuk mendengar dan taat kepada Abdullah Abdul Malik sebagai Amirul Mukminin berdasarkan Sunnah Allah dan Sunnah Rasul-Nya semampuku. Dan anak-anakku juga sepakat dengan itu.” (HR. Bukhari, no. 7203).

Jika Ibn Umar belum mengakui legalitas kepemimpinan mereka atas kaum Mukmin sebelum sepakatnya kata kaum Muslim atas mereka; lalu bagaimana mungkin terbayang dia hendak menyertai mereka dalam memerangi Ibn Zubair?!

Sebagai penutup, dari uraian penulis tampak kebenaran dari sikap yang diambil baik oleh Husain ibn Ali  maupun Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhum ajma’in. Dan, apapun yang diriwayatkan kontras mengenai sikap tersebut tidak memiliki fondasi argumentasi yang kokoh.

 

Muhammad ibn Syakir al-Syarif, Pakar Siyasah Syar’iyyah
(Diadaptasi dari Muhammad ibn Syakir al-Syarif, “Mawqif al-Husayn wa Ibn Zubayr min Khilafat Yazid,” Majallat al-Bayan, no. 326 [Syawwal 1435 H/Agustus 2014 M]).