Home Kajian Sikap Husain ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair terhadap Khilafah Yazid ibn...

Sikap Husain ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair terhadap Khilafah Yazid ibn Mu’awiyah [1-2]

1335
0
SHARE

Di antara catatan buruk dari rangkaian kejadian di Mesir akhir-akhir ini adalah sikap keliru sebagian aktivis Islam dalam merespons realitas politik yang ada. Parahnya, sikap tersebut disandarkan sebagai ajaran para Salaf radhiyallahu ta’ala anhum. Tidak lupa, aktivis ini mengutip tokoh-tokoh utama Islam sebagai pelaku pelanggaran. Pendapat tersebut kemudian dipromosikan ke masyarakat sebagai sebuah kebenaran yang harus diikuti.

Di antara pandangan keliru yang penulis maksud adalah persepsi mengenai sikap Husain radhiyallahu anhu , cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan penghulu para pemuda Surga. Juga mengenai Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhu, putra dari penolong Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bayi pertama di kalangan kaum Muslim setelah hijrah ke Medinah.

Menurut kalangan ini, kedua tokoh di atas telah salah karena bersikap tidak bersabar menghadapi tindak aniaya penguasa. Tujuannya, untuk menyalahkan pihak yang bersikap melawan terhadap kudeta militer terhadap pemimpin terpilih sekaligus hendak menurunkan kekuasaan tersebut.

Penulis akan menjelaskan sikap yang diambil oleh dua orang sahabat Nabi yang mulia, yakni Husain ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma. Tidak lupa juga pendapat ulama mengenai tindakan mereka berdua. Tujuan penulis agar kekeliruan pandangan ini dapat diluruskan sehingga tidak menyesatkan masyarakat. Penulis akan menguraikannya ke dalam empat sub judul, yaitu:

  1. Deskripsi mengenai sikap mereka berdua
  2. Dalil-dalil tentang benarnya sikap yang mereka ambil
  3. Pendapat ulama mengenai kebenaran sikap yang mereka ambil
  4. Jawaban terhadap sanggahan terhadap sikap yang mereka ambil radhiyallahu anhuma

PERTAMA: HUSAIN IBN ALI RADHIYALLAHU ANHU

1. Gambaran Sikap Husain ibn Ali radhiyallahu anhu

Mu’awiyah ibn Abi Sufyan menjadi khalifah kaum Muslim setelah penyerahan kekuasaan sepenuhnya dari Hasan ibn Ali kepadanya radhiyallahu anhuma. Untuk mencegah terjadinya perpecahan di kalangan umat, Mu’awiyah kemudian berijtihad dalam urusan kepemimpinan (khalifah) setelahnya. Dia menunjuk putranya sebagai khalifah pengganti dan mengambil baiat (janji setia) warga untuk itu.

Mayoritas kaum Muslim menyetujui langkah Mu’awiyah itu, namun menyisakan sebagian kalangan yang menolak. Di antara kalangan yang disebut terakhir ini adalah Husain ibn Ali, Abdullah ibn Zubair ibn Awwam, Abdurrahman ibn Abu Bakar, Ibn Umar, dan Ibn Abbas radhiyallahu anhum. Kalangan ini memandang bahwa langkah tersebut merupakan bentuk pewarisan kekuasaan yang menyalahi tradisi agama kaum Muslim dan tidak sejalan dengan cara pengangkatan khalifah yang dikenal. Seperti diketahui, para khalifah sebelumnya tidak memiliki hubungan nasab keturunan maupun kekerabatan. Umar, misalnya, semata adalah orang kedua kaum Muslim yang paling utama setelah Abu Bakar. Keutamaan yang memang tidak dapat ditandingi oleh sahabat lainnya.

Sebaliknya, sahabat Muawiyah yang menyerahkan kekuasaan kepada putranya yang notabene bukan orang yang paling utama dan paling pantas di kalangan kaum Muslim. Banyak tokoh yang mengunggulinya, seperti Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, Husain ibn Ali, Abdullah ibn Zubair, dll. dari kalangan sahabat Nabi. Karena itu, baik Husain, Abdullah ibn Zubair, Abdurrahman ibn Abu Bakar, Ibn Umar dan Ibn Abbas menolak untuk berbaiat kepada Yazid.

Ketika kekuasaan khalifah makin kuat dan terfokus, Ibn Umar dan Ibn Abbas kemudian memberikan baiat mereka. Adapun Abdurrahman ibn Abu Bakar telah wafat. Tinggallah Husain ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair yang bertahan dengan sikap mereka.

Ketika Yazid naik menjadi khalifah, sebagian kalangan masyarakat yang tidak setuju, khususnya penduduk Irak memandang bahwa Husain ibn Ali adalah orang yang paling pantas dan berhak untuk itu. Husain adalah ‘Sayyid Kabir’ dan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak ada seorang pun yang menyamai dan melampaui kelebihannya saat itu. Penduduk Irak kemudian mengirim utusan yang memberi tahu Husain bahwa mereka belum berbaiat kepada seorang pun saat itu. Mereka juga mengadukan perihal tindakan pengangkatan khalifah yang menurut mereka menyelisihi hukum syariat. Mereka mengirimkan surat yang memanggil Husain untuk datang dan menjadi pemimpin mereka.

Surat dan dokumentasi baiat mereka sampai di tangan Husain yang membuat dia radhiyallahu anhu mau tidak mau menerima kehendak mereka. Bagaimana dia akan menolak ajakan dari orang-orang yang mengajaknya untuk menegakkan perintah Allah, khususnya karena dia sendiri belum berbaiat kepada Yazid? Husain kemudian mengutus sepupunya, Muslim ibn Aqil ibn Abi Thalib radhiyallahu anhum untuk menyelidiki kondisi dan sikap sebenarnya penduduk Irak. Jika informasinya benar, Muslim ibn Aqil selanjutnya akan mengirim balik utusan kepada Husain untuk segera berangkat beserta keluarga dan pendukungnya menuju Kufah untuk mendapat bantuan menghadapi lawan-lawannya. Sebelumnya, Husain juga menulis surat kepada penduduk Irak mengenai hal itu. (Ibn Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 8: 163).

Saat Muslim ibn Aqil tiba dan penduduk Kufah mendengar kedatangannya, mereka lalu menemuinya dan memberikan baiat atas kepemimpinan Husain. Mereka juga bersumpah akan membantu Husain dengan jiwa dan harta mereka. Jumlah mereka yang berkumpul dan berbaiat mencapai 12 ribu orang. Jumlah ini terus membengkak hingga 18 ribu orang. Muslim ibn Aqil kemudian menulis surat kepada Husain agar segera datang. Dia juga menyampaiakan baiat dan kesiapan bantuan dari penduduk Kufah. Setiba berita itu, Husain kemudian mempersiapkan keberangkatannya dari Mekah menuju Kufah. (Ibid.).

Tatkala Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, dll. mengetahui keinginan Husain untuk bertolak ke Kufah, mereka lalu menasehatinya untuk mengurungkan rencananya. Kata mereka, penduduk Irak hanya akan menelantarkan Husain dan tidak akan memberikan bantuan. Namun, Husain telah bulat sikap dan keinginannya untuk pergi kepada warga Irak.

Husain sepertinya mencontoh sikap Rasul shallallahu alaihi wasallam yang menolak untuk mempertimbangkan kembali untuk tidak keluar menuju Uhud untuk menghadang kaum Kafir; setelah sebelumnya telah bulat keputusan mereka semua untuk berangkat menuju Uhud. Saat itu, para sahabat sepakat untuk kembali kepada pertimbangan awal untuk tetap tinggal di Medinah dan tidak keluar menuju Uhud dalam peristiwa perang tsb. Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Tidak patut bagi seorang Nabi yang telah mengenakan baju zirah perangnya untuk kembali meletakkannya (mundur) sampai Allah memberikan keputusan-Nya (menang atau kalah).” (HR. Bukhari)

Seketika Husain radhiyallahu anhu tiba di Irak, ia menemukan sepupunya Muslim ibn Aqil telah tewas terbunuh. Orang-orang yang telah menulis baiat mereka untuknya berdusta mengenai undangan mereka terhadapnya. Husain segera hendak kembali ke Mekah, namun pasukan Ubaidillah ibn Ziyad yang merupakan pengikut Yazid mengepungnya. Ubaidillah tidak mau membiarkan Husain kembali ke Mekah dan membebaskannya. Ubaidillah menginginkan Husain menghadap kepada Yazid sebagai tawanan.

Husain sendiri menolak untuk menyerah kepada perkara yang batil dan merendahkan agamanya. Kendati dia tentu sadar bahwa penolakannya bisa menjadi menjadi alibi bagi pembunuhan terhadap dirinya beserta keluarga, radhiyallahu anhum.

Ringkasnya, tentara Ubaidillah ibn Ziyad kemudian membunuh Husain setelah beberapa kali kontak senjata. Husain kembali menghadap Rabbnya dan gugur sebagai syahid karena dianiaya. Dia telah meninggalkan kenangan dan perjalanan hidup yang terpuji radhiyallahu anhu.

2. Dalil mengenai Kebenaran Sikap Husain

Terdapat banyak hadits yang menyebutkan kedudukan dan kelebihan Husain radhiyallahu anhu yang mustahil tertuju kepada person yang nantinya akan terjatuh pada sebuah kesalahan besar atau melakukan kekeliruan fatal dan pokok dalam agama. Hal tersebut menunjukkan bahwa tindakan Husain yang membawa konsekuensi gugur syahidnya dia bersama beberapa orang dari keluarga Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah benar adanya.

Di antara hadits-hadits dalam konteks ini adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Hasan dan Husain adalah penghulu para pemuda di Surga.” (HR. Ahmad dll. dari sejumlah sahabat dengan sanad yang shahih).

Ini tentu tidak bermakna adanya posisi ma’shum (suci dari dosa) bagi mereka berdua, namun mengisyaratkan bahwa keputusan krusial yang mereka ambil dan membawa konsekuensi perang, pembunuhan, atau perdamaian adalah tindakan yang dibenarkan oleh hukum syariat.

Tidak dapat dibayangkan bahwa tindakan salah seorang dari Hasan atau Husain yang mengakibatkan peristiwa besar dengan dampak yang sedemikian dalam sepanjang sejarah Islam adalah sebuah kesalahan fatal, padahal kelak di akhirat mereka berdua adalah “penghulu para pemuda di Surga.” Karena itu, tindakan Husain mengabulkan permintaan mereka yang membujuknya untuk menjadi pemimpin serta penolakannya untuk menyerah kepada tentara Ubaidillah ibn Ziyad, setelah penduduk Irak menelantarkannya, adalah tindakan yang benar menurut hukum syariat. Demikian halnya tindakan saudaranya, Hasan yang menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah radhiyallahu anhuma adalah juga tindakan yang benar menurut hukum syariat.

Imam Suyuthi menulis, “Nawawi menulis dalam kitab kompilasi fatwanya, ‘Al-Muzhahhari berkata yang artinya, mereka berdua adalah semulia-mulia orang yang mati muda (syahid) di jalan Allah di antara penghuni surga.” (Qur al-Mughtadzi ‘ala Jami’ al-Tirmidzi, 9: 1019).

Al-Munnawi menulis, “Mereka berdua adalah penghulu bagi mereka yang mati muda dan masuk surga, karena mereka berdua wafat saat mereka telah berusia senja.” (Al-Taysir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, 1: 22, 506).

Dalam rangkaian hadits-hadits dalam konteks ini adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenai Hasan dan Husain radhiyallahu anhuma, “Mereka berdua adalah kembang kehidupanku (kecintaanku) di Dunia.” (HR. Bukhari). Juga sabda beliau, “Husain adalah bagian dari diriku, dan aku adalah bagian dari Husain; Allah akan mencintai mereka yang mencintai Husain; ia adalah cucuku di antara cucu-cucuku.” (HR. Tirmidzi, Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan Hakim. Hakim menilainya shahih dan disetujui oleh Dzahabi. Albani menilainya hasan).

Kata Ibn Abbas radhiyallahu anhuma:

“Aku pernah bermimpi melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam di suatu siang dalam keadaan berambut kusut dan berdebu. Bersama beliau sebuah botol yang berisi darah yang beliau pungut (kumpulkan) atau beliau tuntun jejak tetesannya. Lalu kataku, ‘Wahai Rasulullah, apa yang anda lakukan?’ Katanya, ‘Aku mengumpulkan darah Husain dan para pengikutnya, yang masih terus aku ikuti sejak hari ini.’ Kata Ammar, ‘Kami terus mengingat hari itu, dan kami dapati dia (Husain) terbunuh pada hari tersebut.” (HR. Ahmad dan Ahmad Syakir menilai sanadnya shahih).

Imam Shan’ani menulis:

“Al-Qadhi (‘Iyadh) berkata, ‘Tampaknya melalui cahaya wahyu, Nabi shallallahu alaihi wasallam mengetahui apa yang akan terjadi terhadap Husain dengan kelompok tersebut, maka Nabi menyebut (namanya) secara khusus. Nabi menjelaskan bahwa keduanya satu dalam hal kewajiban untuk mencintainya serta larangan untuk menyakiti dan memeranginya. Dan Nabi menegaskan hal tersebut melalui sabdanya, ‘Semoga Allah mencintai mereka yang mencintai Husain.” Karena mencintainya adalah bagian dari kecintaan terhadap Rasul shallallahu alaihi wasallam, dan kecintaan terhadap Rasul shallallahu alaihi wasallam adalah bagian dari kecintaan kepada Allah. Dengan demikian, jika hadits tersebut dalam konteks pemberitahuan, maknanya adalah siapa yang mencintai Husain, maka ia juga sesungguhnya telah mencintai Allah. Sehingga lafal Allah (menurut kaidah tata bahasa Arab) adalah objek. Namun bisa juga konteksnya adalah doa (semoga Allah mencintai mereka) dan lafal Allah adalah subjek.

“Adapun hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, ‘Hasan dan Husain adalah dua orang cucu di antara cucu-cucuku’ bermakna mereka berdua adalah bagian dari Nabi atau dari mereka berdua lahir cucu-cucu keturunan Nabi dan dari mereka berdua terlahir generasi yang banyak.” (Al-Tanwir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, 5: 356).

Ummu Salamah radhiyallahu anha menyebutkan bahwa suatu ketika Nabi berada di rumahnya. Lalu beliau shallallahu alaihi wasallam didatangi oleh Fatimah radhiyallahu anha dengan membawa masuk sebuah kuali batu berisi khazirah (masakan daging). Sabda Nabi, “Panggillah suami dan dua orang putramu!” Maka datang dan masuklah Ali, Hasan, dan Husain. Mereka semua duduk lalu memakan dari khazirah tersebut sementara Nabi shallallahu alaihi wasallam duduk di atas tikar tidurnya di atas tempat duduk yang di bawahnya terdapat selendang buatan (masyarakat) Khaibar. Sementara aku melaksanakan shalat di dalam kamar, Allah Azza Wajalla menurunkan ayat berikut Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. al-Ahzab: 33).

Nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian mengambil ujung selendang tsb. lalu melingkupi mereka dengannya. Kamudian Nabi shallallahu alaihi wasallam mengeluarkan dan menjulurkan tangannya ke langit memanjatkan doa, “Ya Allah, merekalah keluarga rumah tanggaku dan orang-orang yang istimewa bagiku, bersihkanlah dosa mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya. Ya Allah, merekalah keluarga rumah tanggaku dan orang-orang yang istimewa bagiku, bersihkanlah dosa mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.”

Aku (Ummu Salamah radhiyallahu anha) melonjorkan kepalaku ke dalam rumah, kemudian kataku, “Dan aku bersamamu, ya Rasulullah.” Kata Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya engkau telah menuju kepada kebaikan, sungguh engkau telah menuju kepada kebaikan.” (HR. Ahmad dll. dan merupakan hadits shahih).

Pribadi dengan kedudukan tinggi dan banyak kelebihan semacam ini tidak akan menyalahi pokok aqidah atau berketerusan melakukan dosa besar. Adanya keutamaan tersebut menunjukkan mustahilnya mereka berdua radhiyallahu anhuma melakukan hal yang berpotensi menjadi aib bagi kepribadian mereka. Jika pun mereka tergelincir melakukan sebuah dosa besar, mereka akan segera bertobat dan menghentikan perbuatan dosa itu. Sementara perbuatan dosa-dosa kecil tidak menjadi cela bagi kelebihan pribadi yang telah disebutkan. Karena jika seorang hamba telah menjauhi perbuatan dosa-dosa besar, maka terjadinya dosa-dosa kecil akan terampuni.

Di sisi lain, Husain tidak pernah membaiat Yazid. Yazid pun mengetahui hal tersebut dan juga yakin bahwa Husain radhiyallahu anhu tidak rela terhadap kekuasaannya. Karena itu, dalam sikap Husain tidak terdapat penipuan, pencabutan baiat, atau tindakan pembangkangan terhadap perintah. Sehingga semua hadits yang melarang sikap tidak taat atau pelanggaran terhadap baiat tidak dapat diterapkan kepadanya.

Husain radhiyallahu anhu juga tidak berkampanye agar kekuasaan diberikan kepadanya. Dia tidak berangkat ke Irak kecuali karena surat-surat masyarakatnya yang terus-menerus datang kepadanya. Dia tidak meminta kekuasaan untuk dirinya pribadi. Karenanya, dia tidak termasuk dalam hadits-hadits yang melarang seseorang dari meminta kekuasaan.

Husain ibn Ali termasuk orang dengan prinsip pribadi melaksanakan apa yang ia ketahui. Ilmu baginya bukan sekadar wawasan tanpa aksi konkrit. Gambaran ini tampak antara lain dari ukiran di cincinnya. Kata Ali ibn Husain, “Ukiran di cincin Husain ibn Ali berbunyi, ‘Engkau telah tahu, maka laksanakanlah.” (Ibn Abd al-Barr, Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih, 1: 807).

Husain radhiyallahu anhu hendak balik ke Mekah setelah mengetahui pengkhianatan penduduk Irak terhadap janji mereka kepadanya. Terdapat riwayat mengenai tawaran Husain kepada pasukan Ubaidillah ibn Ziyad. Katanya:

“Pilihlah salah satu dari tiga yang aku tawarkan, aku kembali ke negeri dari mana aku berangkat (Mekah), atau kuletakkan tanganku di tangan Yazid ibn Muawiyah dan dia akan memutuskan persoalan antara aku dengan dia, atau kalian membawaku ke salah satu wilayah perbatasan kaum Muslim yang kalian mau, aku menjadi bagian dari penduduknya, untukku seperti yang mereka miliki, dan atasku kewajiban seperti kewajiban atas mereka.” (Ibn Jarir al-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 5: 413).

Kisah ini diceritakan oleh para penulis biografi Husain, namun tidak pernah disebutkan saksi percakapan tersebut. Kisah ini berstatus mursal (mata rantai periwayatannya terputus). Riwayat lainnya justru menafikan adanya tawar-menawar tersebut. Kata Uqbah ibn Sam’an:

“Aku menemani Husain dari Medinah menuju Mekah, kemudian pergi ke Irak. Kami tidak pernah berpisah hingga ia terbunuh. Ia tidak pernah bercakap sepatah kata pun dengan orang-orang sejak keberangkatannya, baik dari Medinah menuju Mekah, di perjalanan, hingga ke Irak, maupun kepada tentara, hingga dia terbunuh; kecuali aku mendengarnya. Sungguh demi Allah, ia tidak menawarkan seperti apa yang orang-orang katakan atau seperti yang mereka kira bahwa dia akan meletakkan tangannya di tangan Yazid ibn Muawiyah, tidak juga tawaran agar mereka menawannya menuju salah satu daerah perbatasan kaum Muslim. Ia hanya mengatakan, ‘Biarkanlah aku! Aku sungguh akan pergi ke dunia yang luas ini hingga kita bisa melihat apa yang terjadi pada orang-orang itu.” (Ibid.).

Tentara Ubaidillah ibn Ziyad kemudian bertindak melampaui batas terhadap Husain ibn Ali beserta keluarganya yang suci. Mereka membunuhnya radhiyallahu anhu secara aniaya hingga syahid.

Intinya, Husain radhiyallahu anhu telah berijtihad dalam persoalan ini. Dia menyangka bahwa penduduk Irak akan menepati apa yang telah mereka tulis, janjikan, dan sumpah setiakan kepadanya. Saat dia menyadari keingkaran mereka, melihat terbunuhnya Muslim ibn Aqil yang telah ia utus kepada mereka, dia lalu berencana kembali ke Mekah. Namun, dia dihadang oleh kelompok pasukan yang zalim. Kelompok pasukan ini membunuhnya secara aniaya hingga gugur dan syahid radhiyallahu anhu. Husain dalam hal ini tidak melakukan kesalahan atau bertindak subversif terhadap pemerintah (bughat) atau keluar dari otoritas pemerintah (khawarij); namun terbunuh secara aniaya hingga syahid, radhiyallahu anhu.

3. Keterangan Ulama yang Menjelaskan Kebenaran Sikap Husain radhiyallahu anhu

Ibn Taimiyah menyebutkan posisi Ahlus Sunnah bahwa Husain radhiyallahu anhu telah terbunuh secara aniaya hingga syahid. Gugur secara syahid ini disebutkan oleh Ibn Taimiyah, Ibn Katsir, Dzahabi, Abu Amr ibn al-Mulaqqin al-Syafi’i, beserta sekelompok ulama lainnya. Seorang pemberontak atau pembelot terhadap pemerintah yang sah, yang gugur dalam tindakan perlawanannya tidak dapat disebut gugur dalam syahid. Demikian itu pendapat yang disepakati di kalangan ulama. Penilaian gugurnya Husain sebagai syahid secara implisit berarti pembenaran terhadap tindakan yang diambilnya, yaitu sikap yang membuatnya gugur sebagai syahid, radhiyallahu anhu.

Ibn Hajar menulis, “(Mereka) melawan dengan motif agama akibat tindakan aniaya penguasa dan tindakan yang melanggar sunnah Nabi; maka mereka ini termasuk pelaku kebenaran (ahl al-haqq). Di antara mereka adalah Husain ibn Ali radhiyallahu anhu, penduduk Medinah dalam peristiwa Harrah serta para Qurra yang melakukan perlawanan kepada Hajjaj.” (Fath al-Bari, 12: 286).

Pernyataan ini dikutip oleh Abdurrauf al-Mannawi dalam Faidh al-Qadir dan Syaukani dalam Nail al- Authar.

Kata Ibn Taimiyah, “Mereka yang membunuh Husain atau membantu dalam pembunuhan tersebut atau senang dengan terjadinya hal itu, (semoga) mereka mendapat kutukan Allah, para malaikat dan manusia. (Semoga) Allah tidak menerima sedikit pun dari amal perbuatan mereka.” (Majmu’ Fatawa, 4: 487).

Penilaian semacam ini tidak mungkin diberikan kepada pelaku subversi dan pemberontakan terhadap penguasa sah.

4. Sanggahan terhadap Pandangan yang Tidak Setuju

Keberangkatan Husain menuju Irak dihalangi oleh Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, dll. radhiyallahu anhum. Namun, keberatan mereka bukan karena kesalahan syariat dari tindakan Husain atau pengingkaran terhadap tindakannya. Mereka hanya melihat bahwa orang-orang yang memanggil Husain tidak akan menepati janji mereka terhadapnya, bahkan akan membiarkannya terlantar.

Abdullah ibn Umar radhiyallahu anhu dll. yang menghalangi kepergian Husain tidak mengatakan, “anda tidak halal melakukan ini” atau “ini tidak boleh anda lakukan.” Keberatan mereka terhadap keberangkatan Husain berdasarkan realitas yang mereka hadapi, dan bukan dari sudut hukum syariat. Menurut keyakinan mereka, penduduk Irak akan menerlantarkannya dan tidak akan memenuhi janji mereka. Hal ini tampak jelas saat Husain radhiyallahu anhu mengumpulkan rombongan menuju Kufah. Ibn Abbas radhiyallahu anhuma mendatanginya.

Katanya, “Wahai sepupuku! Orang-orang mengatakan bahwa engkau akan menuju Irak. Katakan padaku, apa yang kamu lakukan ini?” Jawab Husain, “Aku telah mengumpulkan rombongan sejak sehari dalam dua hari ini, insya Allah Ta’ala.” Ibn Abbas melanjutkan, “Katakan padaku, jika mereka yang mengundang anda telah membunuh pemimpin mereka, melawan musuh mereka, dan menguasai negeri mereka; maka pergilah kepada mereka. Tapi, jika pemimpin mereka masih hidup, tinggal bersama mereka, menguasai mereka, pasukannya menguasai sepenuhnya negeri mereka, maka panggilan mereka kepadamu hanya akan menjadi fitnah dan pemicu terjadinya pembunuhan. Saya tidak bisa menjamin bahwa orang-orang itu tidak akan lari meninggalkan anda, berbalik dari anda, atau bahkan mereka yang mengundang anda bisa berubah menjadi yang paling kejam kepada anda.” Husain menjawab, “Aku akan beristikharah kepada Allah, kemudian malihat apa yang akan terjadi.” (Ibn Katsir, 8: 172).

Saat malam atau keesokan harinya, Ibn Abbas kembali mendatangi Husain. Katanya, “Wahai sepupuku! Sungguh aku telah mencoba bersabar terhadapmu, namun aku tidak sanggup. Aku sungguh mengkhawatirkanmu dari kalangan yang tampak buruk ini. Penduduk Irak adalah kaum penipu, maka janganlah anda terpedaya. Tinggallah di sini hingga penduduk Irak dapat mengalahkan lawan mereka; setelahnya anda bisa mendatangi mereka. Jika harus berangkat juga, pergilah ke Yaman. Di sana ada banyak benteng dan suku, juga terdapat para pendukung ayahmu. Tinggallah tersembunyi dari orang-orang. Di sana anda bisa bersurat kepada mereka atau mengutus utusan. Sungguh aku berharap jika anda melakukan apa yang aku sarankan, apa yang anda inginkan dapat terwujud.” Kata Husain, “Wahai sepupuku! Demi Allah, aku sungguh meyakini bahwa engkau adalah orang yang tulus dalam nasihat dan kasih sayang. Namun, aku sungguh telah bulat tekad untuk berangkat.” Kata Ibn Abbas kepadanya, “Jika anda harus berangkat, maka hendaklah jangan disertai anak dan istri anda. Demi Allah, aku sungguh takut anda akan terbunuh seperti Utsman yang terbunuh di depan istri dan anak-anaknya.” (Ibid., 173).

Tampak jelas bahwa keberatan Ibn Abbas radhiyallahu anhuma bukan berdasarkan pada argumentasi dan alasan syariat, akan tetapi keberatan mengenai realitas yang akan terjadi.

Keberatan yang berasal dari Ibn Umar yang tidak menyalahkan secara syariat sikap yang diambil oleh Husein juga tampak dari riwayat berikut. Ketika berita keberangkatan Husain ibn Ali menuju Irak sampai kepada Ibn Umar, ia pun menemuinya setelah berjalan selama tiga malam.

Katanya, “Kemana anda hendak pergi?” Jawab Husain, “Irak.” Bersamanya terlihat kain lusuh dan gulungan-gulungan kertas. “Ini dokumen dan naskah sumpah setia mereka,” ujarnya. “Jangan mendatangi mereka!” Tapi, Husain menolak anjuran itu. Kata Ibn Umar, “Sungguh kusampaikan padamu sebuah hadits, Jibril telah mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menawarinya untuk memilih antara dunia dan akhirat. Beliau memilih akhirat, menolak dunia. Anda termasuk bagian dari (keluarga) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Demi Allah, tidak seorang pun di antara kalian yang akan memperolehnya (kekuasaan dunia). Dan tidaklah Allah mengalihkan hal tersebut dari kalian kecuali untuk kebaikan kalian.” Namun Husain tetap menolak untuk kembali. Kata rawi, Ibn Umar lalu memeluknya, menangis dan berkata, “Aku menitipkanmu kepada Allah agar tidak sampai terbunuh.” Radhiyallahu anhum. (Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 6: 471; al-Mustakhraj min Kutub al-Nas wa al-Mustathraf, 3: 18; Ibn Katsir, 6: 259).

Riwayat lain yang menjelaskan bahwa keberatan tokoh-tokoh yang utama tersebut bukan keberatan syar’iy, melainkan timbul dari ketidakpercayaan terhadap penduduk Irak adalah sikap Abdullah ibn Zubair radhiyallahu anhuma terhadap rencana kepergian Husain menuju Irak. Sikap Abdullah ibn Zubair terhadap Yazid sudah sama dimaklumi.

Husain mengatakan bahwa ia berkata kepada Abdullah ibn Zubair, “Telah sampai kepadaku baiat 40.000 orang, mereka berjanji dengan tebusan talak dan pembebasan budak bahwa mereka akan bergabung denganku.” Jawab Ibn Zubair, “Apakah anda akan pergi kepada orang-orang yang telah membunuh ayah anda dan mengusir saudara anda?” (Ibn Katsir, 8: 174).

Jika Pembaca memperhatikan bagaimana respons Ibn Umar radhiyallahu anhuma terhadap mereka yang mencabut baiatnya terhadap Yazid, tampak nyata perbedaan sikapnya terhadap mereka dan terhadap Husain.

Tatkala warga Medinah mencabut baiatnya kepada Yazid ibn Muawiyah, Ibn Umar kemudian mengumpulkan para pengikut dan anak-anaknya. Katanya kepada mereka, “Sungguh aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Para pengkhianat akan diberi bendera penanda pada hari Kiamat,’ sementara kita telah memberikan baiat (janji setia) atas nama Allah dan Rasul-Nya kepada orang ini (Yazid); dan sungguh tidak kuketahui jenis pengkhianatan yang lebih besar daripada pemberian baiat atas nama Allah dan Rasul-Nya kepada seseorang, kemudian mengangkat senjata kepadanya setelahnya. Makanya, aku tidak tahu (vonis lain) jika seorang di antara kalian mencabut baiatnya atau tidak memberi baiat dalam urusan ini kecuali perpisahan golongan antara aku dan dia.” (HR. Bukhari, no. 7111).

Tampak di sini sikapnya yang tegas dan keras, karena mereka telah membaiat Yazid. Sikap membelot terhadap baiat pemerintah menyalahi syariat. Adapun keadaan Husain, dia adalah orang yang merdeka dan diam diri, dan karena persoalannya adalah peristiwa takdir yang harus terjadi, bukan pengingkaran baiat ataupun perlawanan terhadap pemimpin yang sah.

Demikian juga sikap Abu Said al-Khudri saat menemui Husain radhiyallahu anhuma. Katanya, “Wahai Abu Abdillah! Aku sungguh menyayangi dan menasihatimu. Aku mendengar mengenai surat yang ditujukan kepadamu dari para pendukungmu di Kufah. Mereka mengajakmu untuk bergabung dengan mereka. Menurutku, jangan engkau pergi kepada mereka. Aku sungguh telah mendengar ayahmu pernah berkata mengenai penduduk Kufah, ‘Aku sungguh telah membuat mereka jemu dan marah; mereka juga telah membuatku jemu dan marah. Mereka sama sekali tidak memiliki sifat memenuhi janji. Yang selamat dari mereka, hanya karena lolos dari anak panah yang meleset. Demi Allah, sungguh mereka tidak memiliki niat maupun tekad terhadap sesuatu, tidak juga sikap sabar dalam peperangan.” (Ibn Katsir, 8: 174).

Tampak keberatannya berkaitan dengan keraguannya terhadap penduduk Irak dan lemahnya tekad mereka; bukan mengenai tindakan penyelisihan syariat oleh Husain radhiyallahu ta’ala anhuma.

Bersambung . . . .

Muhammad ibn Syakir al-Syarif, Pakar Siyasah Syar’iyyah