Home Kajian Syubhat Kristiani, Apakah Al-Qur’an Membenarkan Injil

Syubhat Kristiani, Apakah Al-Qur’an Membenarkan Injil [1-2]

836
0
SHARE

Termasuk alasan yang sering digunakan oleh umat Kristiani untuk menjebak orang-orang yang minim pemahaman Islamnya adalah bahwa Al-Qur’an telah memberikan kesaksian akan kebenaran Injil yang mereka gunakan saat ini. Injil saat ini, menurutnya, adalah kitab yang diturunkan Allah yang juga wajib diimani oleh umat Islam. Umat Kristiani mendasarkan hal ini pada beberapa ayat Al-Qur’an, seperti:

 “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya (Taurat) dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (Terjemah QS. al-Maidah: 46).

Juga dalam surah Yunus ayat 94:

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang yang ragu-ragu.”   

Sebab turun ayat ini adalah ketika Muhammad shallallahu alaihi wasallam baru diangkat menjadi nabi, saat beliau dalam keadaan tidak tahu dan kaget. Dalam keraguan itu, ia diminta bertanya kepada Ahli Kitab di zamannya dari golongan Yahudi dan Nasrani. Sebab, beberapa Ahli Kitab mengetahui nubuat-nubuat dalam manuskrip Injil asli yang dipegangnya. Perintah Allah untuk menanyakan keraguan kepada Ahli Kitab adalah untuk membuktikan bahwa kenabian Muhammad telah diramalkan sebelumnya oleh kitab-kitab agama terdahulu.

Beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang kitab-kitab umat terdahulu sering dijadikan hujjah oleh umat Kristiani untuk menyimpulkan bahwa Al-Qur’an dan Nabi Muhammad juga membenarkan Injil (Alkitab). Contoh ayat-ayat semacam itu ialah QS. al-Baqarah: 89, 97; QS. Ali Imran: 3; QS. al-Maidah: 48; QS. al-An’am: 92; QS.Yunus:37; QS. Faathir: 31; dan lain sebagainya.

Mirip dengan modus di atas ialah menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang keajaiban-keajaiban Nabi Isa alaihissalam untuk membenarkan bahwa Isa adalah Tuhan.

Tulisan ini akan memberi jawaban atas permasalahan ini agar umat Kristiani memahami makna dari ayat-ayat Al-Qur’an sesungguhnya dan umat Islam yang belum memahaminya tidak terperdaya oleh perkataan-perkataan umat Kristiani yang dapat merusak keimanan tersebut.

Sebelumnya, penulis akan bertanya kepada umat Kristiani.

Pertama, apakah umat Kristiani saat ini beriman kepada Al-Qur’an sehingga dapat berhujjah dengannya? Jika mereka menjawab tidak, maka mengapa mereka menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai hujjah? Padahal, mereka tidak mengimani kebenaran Al-Qur’an.

Jika umat Kristiani mengatakan bahwa hujjah mereka sama dengan kaum Muslimin yang mengambil ayat-ayat Injil untuk membenarkan Al-Quran, maka ini tidak dapat diterima. Sebab, pandangan kaum Muslimin terhadap Injil tidak sama dengan pandangan kaum Kristiani terhadap Al-Qur’an.

Pandangan umat Kristiani terhadap Al-Qur’an ialah bahwa Al-Quran merupakan suatu kebatilan yang didustakan atau mereka bahkan tidak menganggap sama sekali terhadap Al-Qur’an. Sebaliknya, kaum Muslimin menganggap bahwa Injil yang ada pada umat Kristiani saat ini sebenarnya masih mencakup riwayat-riwayat mengenai Al Masih (Isa putra Maryam). Pada ayat-ayat Injil ada kebenaran dan juga ada kebatilan.

Pada posisi ini, seorang Muslim berhujah dengan kebenaran yang ada pada Injil dan meninggalkan kebatilannya. Apalagi setelah ayat-ayat Injil tersebut telah dapat dibuktikan keotentikan atau kepalsuannya melalui penelitian dan bukti-bukti sejarah yang justeru dilakukan oleh para pakar Alkitab sendiri.

Kedua, apakah umat Kristiani berkeyakinan bahwa sifat-sifat Injil yang diceritakan dalam Al-Qur’an berbicara mengenai Injil-injil yang ada di tangan pemeluk Kristiani sekarang? Jika mereka menjawab tidak, maka tidak boleh mereka berhujjah dengan ayat-ayat Al-Qur’an untuk membenarkan Injil. Jika mereka menjawab ya, maka mereka harus mengetahui bahwa sesungguhnya Al-Quran berbicara mengenai sifat-sifat Injil yang tidak sama dengan Injil yang ada di tangan umat Kristen saat ini.

Kita akan menjelaskan bukti-buktinya.

  1. Al-Qur’an menjelaskan bahwa Injil sebagai kitab suci diturunkan dari sisi Allah (QS. Ali Imran: 3), sementara umat Kristiani meyakini bahwa Injil ditulis oleh para lelaki pilihan Allah dengan diilhami oleh Roh Kudus.
  2. Al-Qur’an terang-terangan menyebut adanya kabar gembira dalam Injil yang “meramalkan” kedatangan agama Islam dan Nabi Muhammad seperti dalam QS. al-A’raf: 157; QS. al-Shaff: 6; QS. al-Fath: 29. Di lain pihak, umat Kristiani tidak meyakini sama sekali  nubuat tersebut. Sekalipun umat Islam dapat menunjukkan bukti-bukti ayat Injil yang menubuatkan kedatangan Islam dan Nabi Muhammad, umat Kristiani selalu berkilah. Jika memang ayat-ayat Injil tersebut menubuatkan kedatangan Nabi Muhammad, maka bisa jadi itu bagian dari ayat-ayat Injil yang masih terjaga keasliannya dan itu menjadi bukti kebenaran Al-Qur’an saat ini.
  3. Beberapa ayat Al-Qur’an yang bercerita tentang Nabi Isa alaihissalam memang banyak menyebutkan keutamaan dan kelebihan Nabi Isa. Hal ini adalah suatu bentuk penghormatan Al-Qur’an kepada salah satu nabi Allah yang mana sesungguhnya keutamaan nabi-nabi lain pun banyak dikisahkan. Namun perlu diketahui oleh umat Kristiani bahwa dari sekian banyak ayat dalam Al-Qur’an yang berbicara mengenai Nabi Isa, tidak satu ayat pun yang mengatakan bahwa Nabi Isa adalah Tuhan atau anak Allah sebagaimana keyakinan umat kristiani selama ini. Bahkan Al-Qur’an tegas mencegah umat Kristiani agar jangan mengatakan Isa itu Tuhan atau bagian dari Allah seperti dalam QS. al-Nisa’: 171.
  4. Pada kenyataannya, Injil yang dipegang umat Kristiani sekarang bukanlah bernama Injil, tetapi Alkitab atau Bible yang jumlah ayatnya jauh lebih banyak dari pada ayat-ayat Injil sendiri.

Bersambung . . . .

Saftani Muhammad Ridwan, Forum Arimatea Sulawesi Selatan