Home Kajian Syubhat Kristiani, Apakah Al-Qur’an Membenarkan Injil

Syubhat Kristiani, Apakah Al-Qur’an Membenarkan Injil [2-2]

749
0
SHARE

Bukti-bukti di atas semakin memantapkan umat Islam bahwa Injil yang disebutkan dalam Al-Qur’an sama sekali berbeda dengan Injil di kalangan orang-orang Kristen saat ini. Lagi pula, sangat tidak masuk akal jika Al-Qur’an menyanjung tinggi Injil yang justru menentangnya dalam masalah aqidah pokok. Ketuhanan merupakan masalah inti dan sangat mendasar yang sangat berbeda dipahami antara Al-Qur’an dan Injil saat ini.

Di sini akan muncul pertanyaan penting yang juga sering ditanyakan oleh umat Kristiani. Manakah Injil sebenarnya yang sering dikatakan oleh umat Islam itu jika ia bukan Injil yang ada pada mereka saat ini?

Jawabnya adalah bahwa Injil tersebut adalah Injil Nabi Isa alaihis salam yang diturunkan sekitar setengah abad sebelum Muhammad lahir. Injil tersebut bukan Injil Matius, Markus, Lukas atau Yohannes, tapi Injil Nabi Isa. Ia bukan ditulis dalam bahasa seperti sekarang ini, tapi ditulis dalam bahasa kaum Nabi Isa. Adapun dimana Injil tersebut secara utuh saat ini, maka itu adalah sebuah perkara yang tidak dapat kita ketahui. Terdapat beberapa alasan untuk itu, seperti bahwa umat Kristiani telah teledor dan melakukan kecerobohan terhadap penjagaan kitab suci mereka. Umat Kristiani telah lalai dengan tidak menyalin Injil secara utuh dari Nabinya dan mereka lalai dengan tidak mampu menghapal secara sempurna Injil-injil mereka dalam bahasanya yang asli.

Injil-injil yang ada sekarang adalah hasil musyawarah para pemuka Gereja (Paus, Uskup dan para pendeta) yang memilih kitab-kitab berdasarkan kepentingan mereka dan kepentingan para penguasa ketika itu untuk dimasukkan dalam Alkitab (Bible). Pertentangan ayat dalam Injil yang jumlahnya sangat banyak yang dapat kita lihat saat ini dengan mata telanjang cukup menjadi salah satu bukti keteledoran umat Kristen terhadap kitab suci tersebut.

Jika umat Kristiani tetap meminta umat Islam menunjukkan Injil asli yang diyakini umat Islam, maka kita akan menjawab bahwa Injil itu secara sempurna sudah tidak ada lagi, sementara di situlah fungsi Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan untuk memberitahu penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada Injil saat ini. Jika Injil yang umat Kristiani gunakan saat ini masih asli, maka untuk apakah Al-Qur’an diturunkan?

Injil yang ada saat ini merupakan hasil tulisan orang-orang yang berbeda pada setiap zaman. Sekalipun mereka dianggap diilhami oleh Roh Kudus yang bagi pandangan mayoritas umat Kristiani tidak mungkin salah dalam menulis wahyu Tuhan.

Perlu diketahui bahwa semua pengarang kitab Bible menulis karya mereka pada masa yang berbeda dan Bible ditulis di luar masa hidup Yesus sebagai pelaku utama. Yesus tidak pernah menyuruh muridnya menulis apa yang diterimanya dari Tuhan. Karena itulah, ketika kita membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sering kita mendapati tulisan-tulisan yang berasal dari zaman yang berbeda, bahkan ada kitab yang hanya berisi plagiat dari kitab lainnya. Silakan bandingkan kitab 2 Raja-raja pasal 19 dengan kitab Yesaya pasal 37, maka Anda akan menemukan plagiarisme 100%. Siapakah yang menulis ini?

Pada zaman dahulu, memang sulit untuk mengetahui peran manusia dalam kumpulan tulisan yang semula merupakan tradisi lisan yang dianggap wahyu dari Tuhan. Alasannya, manusia pada zaman tersebut mudah untuk didoktrin dan dibodohi. Di era modern seperti sekarang ini, tentu sangat mudah untuk menjelaskan adanya ketidaktepatan sejarah, pernyataan-pernyataan yang tidak masuk akal, atau pertentangan-pertentangan yang mencolok yang dapat dilihat dengan mudah melalui mata telanjang jika kita membaca Alkitab yang telah dibukukan dengan rapi. Konsili Vatikan II (1962-1969) secara jelas mengakui ketidaksempurnaan dan keusangan teks-teks tertentu dalam Bible. (Lihat: Maurice Bucaille, Asal-Usul Manusia menurut Bible, Al-Quran dan Sains, 1998, hal.161).

Kepala Komisi Kepausan tentang Kitab Suci dan Ketua Perserikatan Kepustakaan Kitab Suci, Raymond E.Brown dalam bukunya 101 Tanya Jawab tentang Kitab Suci yang diterbitkan oleh Kanisius (1994), menjelaskan bahwa dalam Perjanjian Baru juga terdapat banyak ketidakjelasan sumber penulisan. Misalnya, apakah surat kepada orang Ibrani ditulis oleh Paulus? Dalam teksnya sendiri tampak tidak ada yang mengacu kepada orang Ibrani. Menurut riwayatnya, surat ini disebut kepada orang Ibrani baru terjadi pada abad II. Informasi bahwa yang menulis adalah Paulus malah muncul kemudian.

Walau demikian, memang ada surat-surat yang disebut secara khusus berdasarkan penulisnya, yakni 13 dari isi Perjanjian Baru yang secara khusus menyebut Paulus sebagai penulisnya. Namun, dari 13 itu hanya 7 yang diakui para ahli sebagai yang ditulis langsung oleh Paulus. Yakni 1 Tesalonika, Galatia, 1 & 2 Korintus, Filipi, Filemon, dan Roma.

Sekitar 90% ahli berpendapat bahwa Paulus tidak menulis surat-surat pastoral. 80% setuju bahwa ia tidak menulis surat Efesus, 60% menolak kalau ia menulis surat Kolose, dan 50% menolak bahwa ia menulis Tesalonika.

Demikian halnya dengan surat Petrus. Para ahli setuju bahwa Petrus sendiri tidak menulis surat 2 Petrus. 75% ahli setuju bahwa Yudas tidak menulis surat Yudas; demikian halnya Yakobus.

Sehingga semua kita mengetahui bahwa isi dari kitab yang dianggap suci itu merupakan hasil tulisan orang-orang yang tidak jelas identitasnya. Para pakar Alkitab dan sejarawan sependapat bahwa dalam kitab Perjanjian Baru tidak semua surat ditulis oleh Paulus, sekalipun mengatasnamakan Paulus.

Semua Injil yang ditulis dalam Perjanjian Baru ditulis oleh orang-orang misterius yang tidak dikenal. Prof. Sanders, seorang ahli sejarah mengatakan:

“Kita tidak tahu siapa yang menulis Injil. Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa injil-injil tetap tidak berjudul sampai tahun 150-an dan saya telah memeriksa bukti-butinya di mana-mana. Injil sebagaimana yang kita miliki sekarang telah dikutip sebelum tahun 150-an, tetapi tanpa nama dan nama-nama penulis tiba-tiba muncul sekitar tahun 180-an.”

Orang-orang yang menulis injil diperkirakan adalah orang-orang Romawi pengikut Paulus yang menulis Injil bukan untuk bacaan umat Yahudi (umat Yesus), namun untuk kepentingan orang-orang Romawi penganut filsafat Yunani.

Terdapat lebih dari 300 Injil yang berbeda yang tersebar di masing-masing gereja tanpa diketahui siapa penulisnya. Beberapa contoh Injil yang masih bisa diidentifikasi namun dianggap apokrif atau meragukan dan tidak dimasukkan ke dalam kanonisasi Alkitab di antaranya: Injil Maria, Injil Kelahiran Maria, Injil Matthias, Injil Merinthus, Injil Menurut Kaum Nazaret, Dialog Sang Juru Selamat, Injil Nikomedus, Injil Andreas, Injil Kesempurnaan, Injil Apelles, Injil Petrus, Injil Bardesanes, Injil Philipus, Injil Barnabas, Injil Pseudo-Matius, Injil Bartelomeus, Injil Scythianus, Injil Basilides, Injil Tujuh Puluh, Injil Thaddaeus, dan Injil Thomas.

Selain itu ada pula Injil Hawa, Injil Titan, Injil Ebionit, Injil Kebenaran, Injil Orang-orang Mesir, Injil Dua Belas Rasul, Injil Encratites, Injil Valentinus, Injil Empat Wilayah Sorgawi, Protevangelion James, Injil Orang-orang Ibrani, Injil Rahasia Markus, Injil Hesychius, Injil Tomas tentang Masa Kecil Yesus Kristus, Injil Masa Kecil Yesus Kristus, Injil Judas Iskariot, Injil Jude, Injil Marcion, Injil Mani, dan masih banyak lagi.

Pemberian nama-nama Injil yang baru diberikan sekitar tahun 180 adalah untuk kepentingan mempertahankan Injil-injil agar masuk dalam kanonisasi Alkitab. Kanon kitab suci adalah daftar tulisan kitab suci yang diakui Gereja sebagai tulisan-tulisan yang terilhami dan menjadi ukuran bagi ajaran dan kehidupan umat kristiani. Namun, daftar tulisan pun biasa berbeda dalam setiap gereja yang berbeda. (Gerald O.Collins, Kamus Teologi, Kanisius, 1996, hal.127).

Jadi, jika Pembaca melihat nama Matius atau Markus atau Yohannes dalam Alkitab, jangan sekali-kali membayangkan bahwa semua isi Injil tersebut adalah tulisan mereka yang tercantum namanya. Ini hanyalah upaya Gereja mencatut nama mereka agar sidang kanonisasi mau menerimanya masuk dalam Bible.

Akhirnya, atas pertanyaan umat Kristiani tersebut, kami umat Islam meminta agar didatangkan kepada kami Injil yang asli yang tidak terdapat campur tangan manusia di dalamnya. Dia harus ditulis dalam bahasa kaum Nabi Isa dan bukan terjemahan. Sebab, sebuah terjemahan sehebat apapun tidak akan sanggup mempertahankan makna dari sebuah bahasa asli. Semoga bermanfaat.

Wallahu ta’ala a’lam.

Saftani Muhammad Ridwan, Forum Arimatea Sulawesi Selatan.