Home Kajian Untuk Ibadah yang Satu Ini, Jangan Tanggung

Untuk Ibadah yang Satu Ini, Jangan Tanggung

831
0
SHARE

Dalam sebuah ayat Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebut kelompok orang-orang yang melakukan kebajikan beserta janji ganjaran bagi mereka. Coba kita simak satu persatu kelompok manusia yang disebut dalam terjemah ayat berikut ini baik-baik:

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Terj. QS. al-Ahzab/33: 35).

Ayat ini menjelaskan keutamaan beberapa amal yang penting. Secara urut, amal-amal tersebut adalah amal Islam, amal iman, berketetapan dalam ketaatan, sikap benar (shidq), sabar, khusyu’, sedekah, puasa, menjaga kehormatan, dan terakhir zikir. Coba perhatikan! Ada yang sedikit berbeda pada amal-amal ibadah tersebut, khususnya zikir. Ibadah yang disebut paling akhir di dalam ayat itu tidak diungkap begitu saja, tapi disebut sebagai zikir yang katsira (banyak). “Wa al-dzakirin Allah katsiran wa al-dzakirat/laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” Zikir dalam ayat tersebut diungkap bersama dengan penekanan pada jumlahnya yang banyak.

Gambaran zikir dalam jumlah yang banyak ternyata tidak pada ayat ini saja. Ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang zikir faktanya punya penekanan yang sama. Zikir yang dituntut adalah bukan sekadar zikir, namun zikir yang banyak.

Dalam kisah Al-Qur’an tentang Nabi Zakariya disebutkan:

“Berkata Zakariya: ‘Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung).’ Allah berfirman: ‘Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan berzikirlah (dengan menyebut nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (Terj. QS. Ali ‘Imran/3: 41).

Salah satu perintah Allah kepada Nabi Zakariya ‘alaihis salam dalam ayat tersebut ialah untuk berzikir sebanyak-banyaknya.

Dalam kisah Nabi Musa yang diangkat Al-Qur’an, disebutkan perintah Allah kepada beliau dan permohonan beliau kepada Allah:

“Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas.’ Berkata Musa: ‘Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak berzikir kepada-Mu.” (Terj. QS. Thaha/20: 24-34).

Musa ‘alaihis salam bermohon kepada Allah agar saudaranya Harun juga diangkat sebagai Nabi bersama dirinya. Salah satu tujuannya ialah agar mereka dapat banyak berzikir kepada Allah Ta’ala.

Terkait ayat 34 yang berarti “dan banyak berzikir kepada-Mu,” al-Hafizh Ibn Katsir mengutip perkataan Mujahid, “Seorang hamba tidak terkategori sebagai orang yang banyak berzikir kepada Allah hingga dia melakukan zikir itu sambil berdiri, duduk dan tidur.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 5: 283). Dengan kata lain, hamba yang banyak berzikir kepada Allah hanyalah dia yang berzikir dalam segala kondisinya.

Berzikir kepada Allah dengan zikir yang banyak akhirnya merupakan perintah Allah Subhanahu wata’ala kepada semua orang beriman.

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Terj. QS. al-Ahzab/33: 41-43).

Syekh Abdurrahman al-Sa’di menjelaskan makna perintah untuk berzikir itu dengan sangat baik. Kita mengutip itu di sini.

“Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berzikir kepada-Nya dengan zikir yang banyak, baik itu berupa tahlil, tahmid, tasbih, takbir, dan selainnya berupa perkataan yang mengandung taqarrub/pendekatan kepada Allah. Minimal seseorang itu senantiasa melakukan wirid pagi dan sore, setiap selesai shalat lima waktu serta zikir yang terkait dengan keadaan dan sebab tertentu.

“Berzikir (kepada Allah) selayaknya dilakukan secara terus-menerus di segala waktu dan kondisi. Ini adalah ibadah yang pelakunya mendahului (manusia lain dalam ibadahnya) sementara dia tidak kesulitan, pengantar kepada cinta dan makrifat kepada Allah, penolong dalam melakukan kebajikan, serta penahan lisan dari perkataan buruk.” (Taysir al-Karim al-Rahman fii Tafsir Kalam al-Mannan, 667).

Dalam kondisi mencari rezeki sekalipun kita diperintahkan untuk selalu berzikir kepada Allah. (Abdullah al-Turki (ed.), Al-Tafsir al-Muyassar, 136). Hal ini terkandung dalam beberapa hukum yang berkaitan dengan shalat Jumat yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Terj. al-Jumu’ah/62: 9-10).

Jangankan untuk urusan duniawi, seperti mencari rezeki, untuk urusan jihad pun perintah zikir yang banyak ada di dalamnya.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Terj. QS. al-Anfal/8: 45).

Imam al-Baydhawi, seorang ahli tafsir abad ke-7 H menulis: “Di dalam perintah ini terdapat peringatan bahwa tidak pantas hamba itu abai dengan alasan apa pun dari berzikir kepada Allah.”

Bila zikir yang banyak adalah pertanda kebaikan dan keshalihan, sebaliknya adalah zikir yang sedikit alias minim.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka berzikir kepada Allah kecuali sedikit sekali.” (Terj. QS. al-Nisa’/4: 142).

Menurut ayat ini, zikir yang sedikit adalah ciri orang-orang munafik. Jadi, untuk zikir yang sesungguhnya ringan di lisan itu tampaknya hanya ada satu pilihan: berzikir yang banyak.

Dari Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Mufarridun (orang yang memutus kehidupannya hanya untuk beribadah, pent.) telah mendahului.’ Mereka bertanya, ‘Siapa mufarridun itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Mufarridun ialah para lelaki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim).

Sadiq Tanja