Home Perspektif Ustadz Zaitun, Potret Da’i Santun

Ustadz Zaitun, Potret Da’i Santun

6180
0
SHARE

10370965_705719879517107_1695187915723417532_nSebelumnya, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk memuji pribadi Ustadz Zaitun. Saya juga merasa yakin–dari interaksi yang panjang, meski tidak intens dan kontinu–akan ketidakbutuhannya dengan pujian dan popularitas itu. Saya pun–dengan tulisan ini–tidak dalam kapasitas hendak mengultuskannya. Karena diantara pelajaran yang sering sekali disampaikannya, akan bahaya taklid buta dan ta’ashshub sempit. Itulah sehingga enteng saja saya menulis ini.
Jujur, tulisan ini mengalir begitu saja, tepat ketika tiba-tiba saja saya membaca satu berita dari sebuah media online. Pada dasarnya hanyalah tuduhan sepihak yang sangat subyektif, yang¬ pada intinya ingin menggiring opini, bahwa diantara tokoh besar Islam Indonesia, ada yang turut mendanai ISIS. Termasuk di dalamnya, DR. Salem Segaf Al-Juffri, DR. Din Syamsuddin, KH. Amidan Shabrah, Ustadz Zaki Saleh Nahdi, dan Ustadz Muhammad Aniq Syuhur hafizhahumu’Llah.
Meski akhirnya tuduhan itu sudah diluruskan, hanya saja ini tetap mesti dicermati dan direnungi: ada apa di balik semua ini? Tak perlu menjawab sedetail mungkin, yang berpotensi menghabiskan waktu hanya untuk menyikapi dan menanggapi berita yang tidak berkualitas semacam itu, sekaligus memalingkan dari agenda kerja dakwah yang tak bisa ditunda hanya karena berita sepele ini, meski dengan tetap memohon perlindungan dan tawakkal kepada Allah, dari berbagai ujian perjuangan.

1240039_573513866071043_1004906661_nUstadz Zaitun, beberapa kali dalam taushiyahnya mengingatkan akan pentingnya kesabaran di atas jalan dakwah ini. Apapun risikonya. Berjuang di atas jalan dakwah, sejatinya adalah kesiapan “menderita” dan belajar “tahan-uji” di jalan Allah. Dan itu tidak sebatas kata-kata penyemangat, yang disampaikan dengan suara lantang dan berapi-api. Itu terbukti. Terejawantah dalam gerak lakunya. Visi ukhrawinya mengalahkan seluruh kepentingan duniawi yang bisa saja ia peroleh, baik atas nama pribadi maupun keluarganya. Manisnya perjuangan di jalan Allah, telah mengalir bersama aliran darah dan detak jantungnya. Itulah barangkali tidak heran, ketika Allah kemudian menyematkan amanah baru ke pundaknya, dengan diangkatnya menjadi Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara.
Pribadi yang santun, bijak menyikapi perbedaan, tegas dalam prinsip, barangkali bisa menjadi indikator mengapa kemudian ia menjadi sosok yang bisa diterima oleh banyak kalangan, khususnya oleh para tokoh Ahlus Sunnah di Indonesia. Semangat persatuan dan kemoderatan yang dibangunnya, selain tercermin dari ormas yang dipimpinnya, Wahdah Islamiyah, juga bisa dilihat dari keterlibatannya pada beberapa organisasi Islam berskala nasional, diantaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).
10676294_727103860712042_5846814897299236427_nKeterlibatannya yang intens dan lembaga-lembaga yang ia berkiprah di dalamnya, dalam hampir seluruh peristiwa terkait kepentingan kaum muslimin, di dalam maupun di luar negeri, bukanlah sebatas pengakuan yang dibuat-buat. Dalam sidang itsbat penentuan masuknya Ramadhan (21/7/12), misalnya, sangat nampak akan sikapnya yang mendahulukan persatuan kaum muslimin, daripada sekadar memperturutkan kepentingan ormasnya sendiri (Wahdah Islamiyah). Rangkaian bencana alam besar yang melanda negeri tercinta ini dalam satu dekade terakhir. Atau juga pernyataan sikapnya dengan atas nama lembaga, mengenai tindakan genosida Rohingya di Myanmar, penjajahan Palestina dan tuntutan kemerdekaannya, kasus ISIS, peristiwa berdarah Suriah, adalah diantara bukti akan kepeduliannya terhadap ragam persoalan umat.

10805712_721976777891417_1949843332926549357_nTentu, semua ini layak diapresiasi secara positif, baik dengan doa maupun dengan dukungan moril. Maka mudah-mudahan Allah selalu mengaruniakan keikhlasan, kekuatan, keteguhan, dan kesabaran atas seluruh da’i dan ulama kaum muslimin, yang telah menginfakkan dirinya demi berbakti kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga umat ini tetap mendapatkan bimbingan dan arahan menuju kehidupan yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat.

Allahumma Amin… (Ali Akbar, ST/Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor)